Terus Melemah, Rupiah Kini Sentuh Level Rp 17.900 per Dolar AS

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan pada perdagangan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 9.21 WIB, rupiah melemah 61,50 poin atau 0,34 persen ke level Rp 17.900 per dolar AS. Hingga pukul 9.39 WIB, rupiah bertahan pada Rp 17.906,5 per dolar AS.

Posisi tersebut menjadi level terendah rupiah sepanjang sejarah atau all time low (ATL), melampaui rekor pelemahan yang sebelumnya pernah terjadi saat krisis moneter 1998.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belum mengganggu kondisi perekonomian nasional. Menurutnya, pemerintah telah mengantisipasi pergerakan kurs dalam penyusunan APBN, sehingga kondisi fiskal masih tetap terjaga.

Purbaya mengatakan, fokus pemerintah saat ini bukan semata-mata pada pergerakan nilai tukar, melainkan menjaga pertumbuhan ekonomi domestik agar tetap kuat dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Ia menilai fundamental ekonomi yang solid akan menjadi faktor utama yang menopang penguatan rupiah ke depan.

“Dari sisi anggaran, kami sudah memperhitungkan depresiasi rupiah hingga mendekati level saat ini. Jadi, anggaran negara masih dalam kondisi aman meskipun rupiah melemah ke posisi sekarang,” ujar Purbaya dalam konferensi pers di Wisma Danantara, Minggu (31/5).

Purbaya menjelaskan secara teori mata uang suatu negara akan mengikuti kekuatan perekonomiannya. Karena itu, pemerintah terus berupaya menjaga momentum pertumbuhan agar Indonesia tetap menjadi tujuan investasi yang menarik di tengah ketidakpastian global.

Sebelumnya, Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan tekanan terhadap rupiah meningkat selama periode libur dan cuti bersama Iduladha 1447 Hijriah.

“Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah masih dipengaruhi oleh berlanjutnya ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah. Di samping itu, terdapat peningkatan kebutuhan valas secara musiman, antara lain untuk pembayaran ULN dan repatriasi dividen, di tengah arus masuk dolar AS yang terbatas,” kata Denny dalam keterangan tertulis.

Meski demikian, BI menegaskan akan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak pasar keuangan global.

Denny mengatakan komitmen tersebut dilakukan melalui berbagai instrumen stabilisasi yang selama ini digunakan bank sentral, baik di pasar domestik maupun internasional.

“Sebagaimana disampaikan Bapak Gubernur Bank Indonesia pada kesempatan sebelumnya, Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock,” ujarnya.

Menurut dia, upaya tersebut dilakukan dengan mengoptimalkan intervensi pasar valas melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara konsisten dan terukur.

Selain intervensi di pasar, BI juga memperkuat efektivitas bauran kebijakan moneter untuk menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan mendorong masuknya aliran modal asing.

“Selain itu, Bank Indonesia terus memperkuat efektivitas bauran kebijakan moneter melalui penguatan struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-market guna menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan mendukung masuknya aliran modal asing,” kata Denny.

Dari sisi permintaan dolar AS, BI juga telah memperketat ketentuan pembelian valas tunai. Mulai Juni 2026, pembelian valas terhadap rupiah tanpa underlying dibatasi maksimal USD 25.000 per pelaku per bulan.

Denny menjelaskan kebijakan tersebut diiringi dengan penguatan koordinasi bersama otoritas terkait guna menjaga stabilitas pasar keuangan nasional.

“Dari sisi permintaan dolar AS, Bank Indonesia juga telah menetapkan threshold tunai beli valas terhadap Rupiah tanpa underlying menjadi USD25.000 per pelaku per bulan yang akan berlaku mulai Juni 2026. Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait untuk mendukung stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar, antara lain melalui penguatan pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi,” tuturnya.

Ke depan, BI memastikan akan terus memantau perkembangan pasar keuangan global maupun domestik serta mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah.

“Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik serta senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan mendukung ketahanan eksternal perekonomian Indonesia,” tutup Denny.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dasco Ungkap "Catatan Merah" Kinerja Dadan Hindayana yang Berujung Pencopotan dari Kursi Kepala BGN
• 17 jam lalutvonenews.com
thumb
Revolusi TOEFL iBT 2026: Skala Nilai Baru 1–6 dan Tes Adaptif Resmi Diluncurkan di Jakarta
• 2 jam laluerabaru.net
thumb
SpaceX Diprediksi Akuisisi Intel Senilai Rp17.799 Triliun, Ini Alasan Strategis di Baliknya
• 8 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
UAJY Akan Beri Sanksi Akademik 4 Mahasiswa yang Terlibat Skandal Riset Palsu
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Golkar: Gandengan Tangan Prabowo dan Megawati Ajakan untuk Bersatu
• 11 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.