EtIndonesia.com Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Selasa (2/6/2026) mengumumkan bahwa setelah melakukan serangkaian komunikasi intensif, ia telah berhasil memediasi penghentian konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon. Kedua pihak telah mencapai kesepakatan gencatan senjata.
Kantor Kepresidenan Lebanon juga mengeluarkan pernyataan yang mengumumkan bahwa Hizbullah telah menyetujui proposal terkait gencatan senjata tersebut.
Pada saat yang sama, di tengah beredarnya berbagai informasi yang saling bertentangan mengenai perundingan AS-Iran, Presiden Trump juga mengeluarkan pernyataan untuk membantah rumor yang beredar. Ia menegaskan bahwa Iran bukan hanya tidak menghentikan komunikasi dengan Amerika Serikat, tetapi justru kedua pihak sedang mempercepat proses negosiasi.
Setelah sebuah drone MQ-1 milik militer AS ditembak jatuh di atas perairan internasional, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melancarkan serangkaian “serangan bela diri” terhadap sasaran militer di wilayah Iran.
Target serangan meliputi fasilitas radar di Goruk dan Pulau Qeshm, serta pusat komando dan pengendalian drone. Sasaran juga mencakup sistem pertahanan udara Iran, sebuah stasiun kendali darat, serta dua drone serang satu arah yang dianggap mengancam kapal-kapal dagang yang melintasi jalur pelayaran.
Serangan tersebut memicu ancaman balasan dari Iran, yang menyatakan akan meluncurkan rudal ke pangkalan militer Amerika Serikat.
CENTCOM mengonfirmasi bahwa pada pukul 23.00 waktu Pantai Timur AS pada 31 Mei, militer Amerika berhasil mencegat dua rudal balistik Iran yang diarahkan ke pasukan AS yang ditempatkan di Kuwait. Tidak ada korban jiwa maupun korban luka dari pihak AS.
CENTCOM menegaskan bahwa selama masa gencatan senjata saat ini, mereka akan terus “melindungi aset dan kepentingan Amerika Serikat serta menanggapi tindakan agresi Iran yang tidak memiliki pembenaran.”
Kementerian Luar Negeri Kuwait mengecam keras apa yang disebut sebagai serangan Iran yang “berbahaya dan berulang kali terjadi”. Sebelumnya, pasukan pertahanan udara Kuwait telah mencegat sejumlah rudal dan drone Iran.
Arab Saudi juga mengutuk tindakan Iran yang dianggap melanggar kedaulatan Kuwait dan hukum internasional, serta menyatakan dukungannya kepada Kuwait.
Sebelumnya, kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa Iran telah menghentikan komunikasi dan negosiasi dengan Amerika Serikat. Sejumlah media juga memberitakan bahwa “Iran telah menghentikan komunikasi dengan AS”.
Namun, dalam pernyataan terbarunya, Presiden Trump mengatakan bahwa pembicaraan dengan Republik Islam Iran masih terus berlangsung dan berkembang dengan sangat cepat. Ia membantah laporan sebelumnya yang menyebutkan negosiasi telah terhenti.
Di tengah tarik-ulur negosiasi AS-Iran, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebelumnya sempat memerintahkan peningkatan operasi militer terhadap Beirut, Lebanon.
Namun, menurut pernyataan terbaru Trump, setelah melakukan pembicaraan yang “produktif” dengan Netanyahu, pasukan Israel tidak akan memasuki Beirut, dan unit-unit yang sebelumnya bergerak menuju kota tersebut akan diperintahkan untuk kembali.
Trump juga menyatakan bahwa melalui mediasi para pejabat tingkat tinggi, ia telah melakukan “komunikasi yang sangat lancar” dengan Hizbullah. Menurutnya, Israel dan Hizbullah telah mencapai kesepakatan untuk segera menghentikan seluruh aksi saling serang.
Sebelumnya, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengumumkan bahwa mereka telah menewaskan komandan unit rudal Hizbullah, Mohammed Moussa Mteirek. Ia disebut bertanggung jawab atas ratusan serangan rudal dan drone terhadap warga sipil serta tentara Israel.
Tak lama sebelumnya, pasukan Israel berhasil merebut Benteng Beaufort di Lebanon selatan, dekat wilayah Nabatiyeh.
Operasi tersebut memungkinkan Israel menguasai dataran tinggi strategis yang di puncaknya berdiri sebuah benteng peninggalan era Perang Salib. Ini disebut sebagai penetrasi terdalam pasukan Israel ke wilayah Lebanon dalam lebih dari seperempat abad terakhir, dan dianggap sebagai pencapaian penting dalam konflik terbaru antara Israel dan Hizbullah.
Foto-foto yang beredar menunjukkan tentara Israel beraktivitas di sekitar benteng kuno tersebut dan mengibarkan bendera Israel di atasnya.
Menurut laporan, Israel pernah menduduki benteng tersebut pada tahun 1982 dan baru menarik pasukannya dari Lebanon pada tahun 2000.
Saat ini, perhatian internasional juga tertuju pada kemungkinan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran, serta bagaimana pemerintahan Trump akan memastikan Iran mematuhi perjanjian tersebut.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dalam wawancaranya dengan Fox News menyatakan bahwa Presiden Trump akan menggunakan tekanan militer dan ekonomi untuk memastikan Iran memenuhi komitmennya.
Bessent juga mengatakan bahwa serangan Iran terhadap negara-negara tetangga di kawasan Teluk Persia merupakan sebuah “kesalahan besar”, karena justru mendorong negara-negara tersebut untuk bekerja sama lebih erat dengan Amerika Serikat dalam membekukan aset dan sumber pendanaan Iran.
Laporan oleh Wang Ziyi, wartawan NTD Television di Amerika Serikat.





