REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psikolog Keluarga, Efnie Indrianie, Efnie Indrianie, menjelaskan faktor-faktor yang bisa memicu munculnya sindrom pasca-haji pada anggota jamaah haji setelah pulang dari Tanah Suci Makkah di Arab Saudi.
"Dalam perspektif bio-neuropsikologi, haji dan umrah merupakan pengalaman yang melibatkan hampir seluruh aspek manusia, emosi, spiritualitas, hubungan sosial, makna hidup, serta pengalaman sensorik yang sangat kuat," katanya, Rabu (3/6/2026).
- KPK Benarkan OTT Kepala Imigrasi Jakbar terkait Izin Tinggal WNA
- Bea Cukai Amankan Lima Ekor Ikan Arwana Hidup dalam Koper Pelintas Batas
- Outlook Negatif Moody’s untuk Danantara Tambah Tekanan di Pasar Saham
PR Asosiasi Neuropsikologi Indonesia-Himpunan Psikologi Indonesia itu mengatakan, orang yang menunaikan ibadah haji atau umrah merasakan kedekatan spiritual dengan Tuhan dan kedamaian. Ini karena bisa fokus beribadah di lingkungan yang kondusif bersama jutaan Muslim yang lain di Tanah Suci.
Menurut dia, pengalaman itu bisa menciptakan jejak memori emosional yang sangat kuat pada otak, terutama pada sistem limbik (pusat emosi) dan hippocampus (pusat memori).
.rec-desc {padding: 7px !important;}"Ketika kembali ke kehidupan sehari-hari (di Tanah Air) yang penuh tuntutan pekerjaan, kemacetan, tagihan, konflik keluarga, atau tekanan sosial, otak membandingkan kondisi saat ini dengan pengalaman spiritual yang pernah dirasakan di Tanah Suci," katanya.
Kondisi yang demikian dapat menimbulkan perasaan rindu pada suasana ibadah di Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Hal inilah yang mendorong orang untuk melihat kembali foto-foto maupun video semasa menunaikan ibadah di Tanah Suci.
Efnie mengemukakan, orang juga bisa merasa ada sesuatu yang hilang setelah pulang dari Tanah Suci seusai berhaji. Seperti, menangis ketika mengenang momen ibadah, dan kesulitan menyesuaikan diri dengan dengan rutinitas sehari-hari yang jadi terasa lebih sibuk dan bising.
"Fenomena ini secara psikologis mirip dengan proses re-entry adjustment, yaitu penyesuaian kembali setelah mengalami pengalaman hidup yang sangat bermakna," katanya.
Efnie menyampaikan beberapa faktor yang bisa membuat seseorang lebih rentan mengalami sindrom pasca-haji. Di antaranya seperti tingkat keterlibatan spiritual yang sangat tinggi selama menunaikan ibadah atau sedang menghadapi tekanan hidup sebelum berhaji.
Semakin dalam pengalaman spiritual seseorang selama haji atau umrah, biasanya akan semakin kuat pula jejak memori emosional yang terbentuk.
Efnie mengatakan bahwa bagi sebagian orang, Tanah Suci menjadi tempat "beristirahat secara psikologis" dari berbagai beban kehidupan. Ketika pulang dan kembali menghadapi beban itu, kontras emosional menjadi lebih terasa.
Efnie mengemukakan, orang dengan kepribadian yang reflektif dan emosional juga rentan mengalami sindrom pasca-haji.
Orang dengan kepribadian yang demikian suka merenung, memiliki empati tinggi, dan sensitif terhadap pengalaman spiritual. Sehingga, bisa merasakan kerinduan yang lebih mendalam sepulang dari Tanah Suci.
Menurut Efnie, perubahan besar dalam kehidupan pun bisa membuat orang jadi lebih rentan mengalami sindrom pasca-haji.
"Sedang berada dalam fase pencarian makna hidup. Misalnya setelah kehilangan orang tercinta, menghadapi penyakit, krisis usia paruh baya, atau perubahan besar dalam kehidupan," katanya.




