JAKARTA, KOMPAS.com - Aksi dugaan pungutan liar (pungli) dan pemalakan oleh pengatur lalu lintas liar atau Pak Ogah di kawasan Jalan Raya Kapuk Cengkareng, Jakarta Barat, disebut sudah lama meresahkan warga.
Pantauan Kompas.com di lokasi, tepat di pertigaan antara Jalan Raya Kapuk Cengkareng dan Jalan Kapuk Kamal Raya, terlihat ada empat orang Pak Ogah.
Keempat orang itu mencoba mengatur arus lalu lintas sambil menahan laju kendaraan dari arah lainnya.
Baca juga: Warga Resah Ulah Pak Ogah di Kapuk Jakbar: Sudah Lama dan Terjadi Setiap Hari
Beberapa kali, mereka terlihat sempat mengetuk kaca mobil yang melintas tanpa memberikan uang.
Menurut keterangan warga, para Pak Ogah ini memang kerap tidak segan melakukan pemaksaan saat meminta uang, terutama ketika menyasar para sopir truk pengangkut logistik.
Rafli (24), seorang warga sekitar, menyebut bahwa aksi pemalakan di kawasan yang dikenal dengan sebutan Pertigaan Metro tersebut merupakan pemandangan yang terjadi setiap hari.
Menurut dia, komplotan Pak Ogah ini memang kerap mengincar truk logistik, khususnya yang menggunakan pelat nomor luar daerah.
Baca juga: Kalau Memang Di Situ Macet Seharusnya yang Jaga Polisi Bukan Pak Ogah
"Setiap hari itu mah, biasanya maksa-maksa truk seringnya, atau kadang angkot. Kalau mobil pribadi sebenarnya jarang sih, lagi kepepet aja kali dia sampai maksa mobil pribadi," ujar Rafli saat ditemui Kompas.com di lokasi kejadian, Rabu (3/6/2026).
Rafli menyebutkan, para pelaku kerap bergantian bersiaga di lokasi dan memanfaatkan kemacetan lalu lintas sebagai momen untuk melakukan pungli.
"Dari dulu itu udah lama ada, mereka dari siang udah ada, tapi enggak seramai kalau sore sama malam, pas macet soalnya," ucapnya.
Baca juga: Tak Berseragam, Satpol PP Tangkap Pak Ogah yang Blokade Jalan di Flyover Latumeten
Rafli menyebut, jalur di sepanjang kawasan Kapuk memang menjadi salah satu titik macet paling parah, terutama pada jam sibuk sore hari.
Keberadaan para Pak Ogah tersebut diakui kadang dirasa membantu, tetapi ia tak mau membenarkan aksi pungli secara paksa tersebut.
"Sebenarnya kadang membantu sih, cuma ya gitu enggak enaknya, dia maksa-maksa. Kalau bisa ya ditertibin," ucap Rafli.
Senada, Tania (26) warga lainnya juga membenarkan adanya keberadaan Pak Ogah di area pertigaan Metro tersebut.
Baca juga: Marak Pak Ogah Meresahkan di Grogol, Anggota DPRD: Datang ke Jakarta Harus Punya Skill
Menurut dia, Pak Ogah itu bekerja secara berkelompok dan bergantian setiap harinya.





