JAKARTA, KOMPAS.TV- Sejumlah wilayah di Indonesia mulai mengalami penurunan suhu, terutama pada malam hingga pagi hari. Di kawasan dataran tinggi, suhu bahkan dapat merosot hingga kisaran belasan derajat Celsius.
Fenomena cuaca ini dikenal dengan sebutan bediding. Istilah bediding atau bedhidhing berasal dari Bahasa Jawa yang merujuk pada kondisi udara dingin yang muncul di tengah musim kemarau.
Masyarakat umumnya merasakan fenomena ini sebagai hawa dingin yang lebih menusuk dibandingkan hari-hari biasa. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring, bediding merupakan masa peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau.
Baca Juga: Fenomena Bediding Kembali Landa Indonesia, BMKG: Suhu Dingin Bertahan hingga Awal September
Fenomena ini umum terjadi di sejumlah wilayah seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga Nusa Tenggara Timur (NTT). Mengacu pada penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), bediding berkaitan erat dengan kondisi atmosfer khas musim kemarau, yakni minimnya tutupan awan dan rendahnya kelembapan udara.
Fenomena bediding umumnya muncul saat puncak musim kemarau. Berdasarkan Prediksi Musim Kemarau 2026 dari BMKG, proses menuju puncak kemarau berlangsung bertahap sejak Mei.
Pada Mei 2026, sebanyak 184 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 26,3 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Wilayah tersebut meliputi Aceh bagian utara, sebagian Sumatera Utara, sebagian Riau, sebagian besar Jawa, hingga sebagian Papua Selatan.
Memasuki Juni 2026, jumlah wilayah yang mengalami musim kemarau bertambah menjadi 163 ZOM. Sementara itu, sekitar 63 ZOM lainnya mulai memasuki musim kemarau pada Juli 2026.
Meski masih ada sebagian kecil wilayah yang baru memasuki musim kemarau pada Agustus, puncak musim kemarau sudah mulai terjadi sejak Juli 2026 di 88 ZOM. Secara umum, mayoritas wilayah Indonesia diprediksi mencapai puncak musim kemarau pada Agustus 2026, yakni sekitar 61,4 persen atau 429 ZOM.
Pada periode inilah fenomena bediding biasanya terasa paling kuat, terutama pada malam hingga dini hari.
Penulis : Switzy Sabandar Editor : Gading-Persada
Sumber : BMKG
- Bediding
- Kapan Fenomena Bediding 2026
- Kapan Bediding 2026
- Hawa dingin





