Bisnis.com, PEKANBARU — Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) membawa perubahan signifikan terhadap cara kerja industri media dalam memproduksi dan mendistribusikan informasi.
Di tengah tuntutan kecepatan penyajian berita, insan pers dituntut mampu beradaptasi dengan teknologi tanpa mengabaikan prinsip-prinsip dasar jurnalistik seperti akurasi, verifikasi, dan etika.
Isu tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam kegiatan Media Meet Up yang digelar PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sumatera Bagian Tengah (UIP Sumbagteng) bersama insan pers di Pekanbaru, Rabu (3/6/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Kepala Pengembangan Kompetensi Teknis Umum dan Fungsional BPSDM Riau, Sutawijaya mengatakan AI dapat membantu mempercepat berbagai pekerjaan media, mulai dari transkripsi wawancara, penyusunan draf berita, pencarian ide liputan hingga optimalisasi konten yang ramah mesin pencari (SEO).
Meski demikian, ia menegaskan AI tidak dapat menggantikan peran jurnalis dalam memastikan akurasi dan kebenaran informasi. Setiap konten yang dihasilkan dengan bantuan AI tetap harus melalui proses verifikasi dan penyuntingan sesuai prinsip Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.
"AI memang sangat membantu dalam proses kerja jurnalistik, tetapi tidak bisa sekadar diminta membuat artikel lalu langsung dipublikasikan. Tetap harus ada proses pengecekan, verifikasi, dan penyuntingan oleh manusia," ujarnya.
Baca Juga
- PLN UIP Sumbagteng Perkuat Sinergi Lewat Media MeetUp 2026
- Kesiapan PLN Serap Listrik Proyek PLTS 100 GW
- PLN Target Pangkas 44 Anak Usaha jadi 23 hingga 2028
Sutawijaya menilai tantangan terbesar saat ini berada pada editor media massa yang bertanggung jawab memastikan informasi yang diproduksi dengan bantuan AI tetap akurat, berimbang, dan tidak menyesatkan.
Dia juga mengingatkan agar media berhati-hati menggunakan AI dalam produksi visual karena berpotensi menimbulkan kesalahan persepsi apabila tidak sesuai dengan fakta.
Menurutnya, AI harus dipandang sebagai alat bantu, bukan pengganti jurnalis. Kecepatan yang ditawarkan teknologi perlu dimanfaatkan, namun integritas informasi harus tetap menjadi prioritas utama.
"AI adalah kopilot yang luar biasa untuk kecepatan, tetapi manusia adalah kaptennya untuk kebenaran. Ruang redaksi yang modern adalah ruang redaksi yang adaptif terhadap AI, namun tetap tegas menjaga integritas informasi," pungkasnya.





