Bisnis.com, SEMARANG - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indeks Harga Konsumen DI Yogyakarta pada Mei 2026 mengalami inflasi baik secara tahunan maupun bulanan. Secara tahunan, inflasi berada di angka 2,77% (year-on-year/yoy). Adapun inflasi bulanan DI Yogyakarta tercatat di 0,15% (month-to-month/mtm).
"Secara umum, realisasi inflasi bulanan pada Mei 2026 terutama disumbang oleh kelompok transportasi dengan andil inflasi sebesar 0,11% (mtm). Inflasi pada kelompok tersebut terutama bersumber dari kenaikan tarif angkutan udara yang memberikan andil inflasi sebesar 0,08% (mtm), sejalan dengan adanya pelonggaran kenaikan tarif batas atas pada angkutan udara seiring dengan peningkatan harga avtur akibat ketidakpastian geopolitik global," jelas Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DI Yogyakarta, Sri Darmadi Sudibyo, Rabu (3/6/2026).
Sudibyo menyampaikan bahwa tekanan inflasi secara bulanan bersumber dari kelompok pengeluaran perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. Kenaikan harga pada kelompok pengeluaran tersebut memberikan andil inflasi sebesar 0,06% (mtm). Adapun penyebab kenaikannya berasal dari kenaikan harga bahan bakar rumah tangga, sesuai dengan penyesuaian harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) non-subsidi.
"Di sisi lain, inflasi yang lebih tinggi tertahan oleh penurunan harga pada Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang menyumbang andil deflasi sebesar 0,07% (mtm)," tutur Sudibyo.
Penurunan harga terutama pada komoditas telur ayam ras dipicu oleh menurunnya permintaan ditengah pasokan yang melimpah di pasar lokal. Selain itu, Kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya turut menyumbang andil deflasi sebesar 0,03% (mtm), terutama dipengaruhi oleh penurunan harga emas perhiasan dengan andil deflasi sebesar 0,04% (mtm), seiring dengan pelemahan harga emas global.
Inflasi secara tahunan dikontribusikan oleh hampir seluruh kelompok pengeluaran. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi tertinggi dengan angka 15,30%, dilanjutkan dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 3,18% (yoy), serta kelompok pengeluaran pendidikan sebesar 2,13% (yoy).
Jika dibedah berdasarkan kota Indeks Harga Konsumen (IHK), Kota Yogyakarta mengalami inflasi tahunan sebesar 2,99% (yoy) dengan IHK 112,35. Sementara itu, Kabupaten Gunungkidul mencatatkan inflasi tahunan sebesar 2,59% (yoy) dengan IHK 110,39. Secara keseluruhan, IHK DI Yogyakarta pada periode ini tercatat sebesar 111,27.
Sudibyo menyampaikan bahwa BI bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di DI Yogyakarta akan terus berupaya melakukan pengendalian inflasi dalam kerangka 4K, yang terdiri dari keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
"Mencermati perkembangan inflasi Mei 2026, KPw BI DIY memprakirakan inflasi DIY tahun 2026 tetap terjaga pada kisaran target nasional sebesar 2,5±1% (yoy)," tambahnya.
Langkah konkret yang telah dilakukan mencakup pemantauan harga intensif dan penguatan koordinasi antarwilayah. Selain itu, edukasi mengenai belanja bijak terus digencarkan melalui program MRANTASI (Masyarakat lan Pedagang Tanggap Inflasi) Goes to School. Program yang menyasar siswa dan guru SMA/SMK/MA di lima kabupaten/kota di DIY tersebut diharapkan dapat membangun kesadaran masyarakat dalam menjaga stabilitas harga dari tingkat rumah tangga.





