Jakarta, VIVA – Kemajuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat banyak pekerjaan dapat dilakukan lebih cepat dan efisien dibandingkan sebelumnya. Namun di tengah pesatnya perkembangan teknologi tersebut, kemampuan manusia justru dinilai tetap menjadi faktor pembeda yang tidak mudah digantikan mesin.
Berbagai laporan industri menunjukkan bahwa dunia kerja sedang mengalami perubahan besar. Perusahaan kini tidak hanya mencari kandidat yang menguasai teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kreatif, beradaptasi dengan cepat, dan mampu bekerja lintas disiplin.
Perubahan tersebut juga tercermin dalam laporan Future of Jobs Report 2025 yang dirilis oleh World Economic Forum. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa sekitar 39 persen keterampilan inti yang dibutuhkan di dunia kerja diperkirakan akan berubah hingga tahun 2030.
Di tengah transformasi tersebut, kreativitas dan adaptabilitas menjadi dua kemampuan yang semakin sering disebut sebagai kunci sukses di era digital. Keduanya dianggap penting karena teknologi berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kurikulum maupun metode kerja konvensional.
Kemampuan beradaptasi memungkinkan seseorang tetap relevan saat menghadapi perubahan teknologi yang terus berlangsung. Sementara kreativitas membantu individu menemukan solusi baru yang belum tentu dapat dihasilkan oleh sistem otomatis atau AI generatif.
Fenomena itu terlihat dalam berbagai proyek yang ditampilkan pada UIC Creative Showcase 2026 yang diselenggarakan UIC College di bawah naungan USG Education Group. Acara tersebut menghadirkan karya dari sekitar 250 siswa yang berasal dari enam program studi berbeda.
Menariknya, para peserta tidak hanya menampilkan karya seni atau desain semata. Sejumlah proyek juga menggabungkan unsur teknologi, bisnis, kreativitas, dan pemecahan masalah yang relevan dengan kebutuhan industri modern.
Pada bidang Computing misalnya, para siswa mengembangkan berbagai proyek digital mulai dari web design, interactive media hingga Internet of Things atau IoT. Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana teknologi saat ini semakin membutuhkan kolaborasi dengan disiplin ilmu lain.
Banyak perusahaan teknologi kini mencari talenta yang mampu memahami aspek teknis sekaligus memiliki kemampuan komunikasi dan pemikiran kreatif. Kombinasi tersebut dianggap penting karena inovasi sering lahir dari pertemuan berbagai bidang yang berbeda.





