Bisnis.com, BALIKPAPAN — Peralatan pengujian keamanan pangan yang telah didistribusikan Badan Gizi Nasional (BGN) kepada satuan pelayanan pemenuhan gizi di Kalimantan Selatan ternyata belum sepenuhnya berfungsi sebagaimana mestinya.
Bukan karena rusak, melainkan karena para pengelolanya belum memahami cara menggunakannya.
Kondisi itulah yang mendorong Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Provinsi Kalimantan Selatan menggelar pelatihan penggunaan test kit bagi pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru pada Juni 2026.
Sebanyak 60 peserta ditargetkan mengikuti kegiatan yang akan berlangsung di Kantor DPKP Kalsel, dengan menghadirkan narasumber yang kompeten di bidang keamanan pangan segar asal tumbuhan.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan DPKP Kalsel, Muhammad Maulidinsyah Sarasakti, menyatakan di lapangan pihaknya menemukan fakta yang cukup mengkhawatirkan.
"Di lapangan kami menemukan bahwa masih ada pengelola SPPG yang belum memahami tujuan dan cara penggunaan test kit yang telah dibagikan. Karena itu kami berinisiatif memfasilitasi pelatihan agar peralatan tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (3/6/2026).
Baca Juga
- Prabowo: MBG Lebih dari Program Makan, Dorong Pertumbuhan Ekonomi Desa
- Prabowo Tegaskan Komitmen Integritas dan Akuntabilitas dalam Pelaksanaan Program MBG
Dia menambahkan dua kelompok peserta menjadi sasaran utama pelatihan ini, yaitu petugas yang membidangi gizi di masing-masing SPPG, serta tenaga yang bertugas di bagian dapur dan pengolahan makanan.
Keduanya dinilai memiliki peran langsung dalam rantai penyediaan menu bagi penerima manfaat.
Adapun materi yang disiapkan mencakup dua hal pokok. Pertama, teknis penggunaan test kit untuk pengawasan pangan segar asal tumbuhan, khususnya komoditas sayur dan buah.
Kedua, edukasi mengenai cara mengenali produk segar yang aman, berkualitas, dan memenuhi standar gizi anak.
"Selain penggunaan test kit, kami juga akan memberikan edukasi terkait pangan segar asal tumbuhan, seperti sayur dan buah yang baik serta layak dikonsumsi oleh peserta didik. Harapannya, kualitas makanan yang disajikan kepada anak-anak semakin terjamin dari sisi keamanan maupun nilai gizinya," terang Muhammad.
Sementara itu, kemungkinan perluasan cakupan ke Kota Banjarmasin masih menggantung.
Adapun, dia menuturkan opsi tersebut masih dalam tahap pembahasan internal sebelum keputusan resmi diambil.





