Analisis Perspektif Hubungan AS-PKT-Rusia dari Pertemuan Trump-Xi dan Putin-Xi

erabaru.net
5 jam lalu
Cover Berita

oleh Heng He Opinion

Pertemuan Trump-Xi tidak menghasilkan pernyataan bersama, sementara pertemuan Putin-Xi menghasilkan dua pernyataan bersama dari Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan Rusia, yang mencerminkan keadaan sebenarnya dari hubungan AS-PKT dan PKT-Rusia. Hubungan trilateral masih dalam penyesuaian, dengan Rusia sebagai faktor variabel perubahan. Apa signifikansi dari konfirmasi Trump bahwa dirinya akan berbicara langsung dengan Presiden Republik Tiongkok Lai Ching-te?

Begitu Trump meninggalkan Beijing, Putin tiba tak lama kemudian. Jelas bahwa Partai Komunis Tiongkok sedang berusaha untuk menjaga keseimbangan.

Penyambutan terhadap Putin 1/2 Tingkat Lebih Rendah daripada Trump 

Dalam hal penyambutan yang dilakukan pihak PKT, tampak jelas Putin disambut setengah tingkat lebih rendah daripada Trump, karena yang menyambut di bandara bukan Xi Jinping, melainkan Menlu PKT Wang Yi yang masih tergolong pejabat eselon setingkat wakil negara, di bawah Han Zheng yang setingkat negara penuh. Meskipun Wang Yi adalah anggota Politbiro, sementara Han Zheng bukan, tetapi Han Zheng berada di peringkat kedelapan setelah 7 orang anggota Komite Tetap Politbiro PKT.

Sebagai tanggapan, Kremlin secara khusus menyatakan bahwa tidak perlu membandingkan formalitas dalam penyambutan, tetapi isi substantif kunjungan itulah yang lebih perlu mendapat perhatian. 

Meskipun hal ini mencerminkan penekanan Rusia yang lebih besar terhadap harapan untuk memperoleh dukungan substantif dari rezim Beijing di sektor ekonomi, energi, dan teknologi militer-sipil. Namun di sisi lain, baik secara langsung atau tidak Rusia juga mengakui bahwa tingkatan penyambutan terhadap Putin memang berbeda dengan Trump.

Dari Substansi Pertemuan: Putin-Xi Lebih Berbobot daripada Trump-Xi

Namun, dinilai dari substansinya, pertemuan Putin-Xi lebih signifikan daripada pertemuan Trump-Xi. PKT dan Rusia bersama-sama mengeluarkan dua pernyataan. Yang pertama adalah “Pernyataan Bersama PKT dan Rusia tentang Penguatan Lebih Lanjut Koordinasi Strategis Komprehensif dan Pendalaman Kerja Sama Bertetangga Baik dan Bersahabat,” yang berfokus pada penguatan persahabatan bilateral, termasuk pembaruan “Perjanjian Bertetangga Baik dan Kerja Sama Persahabatan antara PKT dan Rusia.”

25 tahun silam, perjanjian ini ditandatangani oleh Jiang Zemin, Sekjen PKT. Pembaruan umumnya hanya formalitas. Perjanjian ini melegalkan dan melanggengkan perjanjian tentang penyerahan jutaan kilometer persegi tanah milik Tiongkok kepada Rusia, yang tidak diakui baik oleh Dinasti Qing, maupun Republik Tiongkok.

Ini berfungsi sebagai pengingat bahwa sahabat terbaik PKT adalah negara yang secara historis telah menyebabkan kerugian terbesar bagi Tiongkok dan bangsa Tionghoa. Sebenarnya, ada beberapa warga Tionghoa yang berharap rezim Beijing dapat memanfaatkan kesempatan mumpung Rusia sedang membutuhkan bantuan PKT, pada saat pembaruan perjanjian harus dilakukan untuk mencoba mengambil kembali wilayah Tiongkok, seperti Vladivostok.

Dari perspektif kekuatan dan waktu, PKT dapat melakukan hal ini, tetapi dari sifat dasarnya, mereka tidak akan melakukannya. Lagipula, PKT adalah rezim asing, yang terutama memainkan peran destruktif di Tiongkok daratan, dan rezim asing ini berasal dari Rusia. 

Meskipun hubungan Sino-Rusia dalam bidan kekuatan dan pengaruh telah mengalami perubahan substansial, terutama 4 tahun setelah perang Rusia-Ukraina, peran tersebut pada dasarnya telah berbalik, dengan PKT menjadi abang dan Rusia menjadi adik.

Deklarasi kedua yakni “Deklarasi Bersama tentang Membangun Dunia Multipolar dan Hubungan Internasional Baru,” kecuali tidak secara eksplisit menyebut Amerika Serikat, deklarasi ini dari awal hingga akhir berisikan pernyataan yang anti-Amerika Serikat. 

Deklarasi ini menentang hegemoni dan unilateralisme, menekankan kepatuhan terhadap tujuan dan prinsip Piagam PBB, dan menentang penggantian hukum internasional yang diterima secara universal dengan “tatanan berbasis aturan” oleh beberapa negara. Pernyataan-pernyataan ini tidak hanya ditujukan kepada Amerika Serikat tetapi juga mencerminkan sikap konsisten PKT. Rusia hanya ikut menggemakan sikap Beijing.

Klausul lain yang berkaitan dengan Rusia bersifat kontradiktif, secara bersamaan menyatakan “penentangan terhadap perluasan aliansi militer yang tidak teratur” dan “advokasi untuk penyelesaian sengketa secara damai melalui dialog dan konsultasi.” Yang pertama jelas merujuk pada tuduhan Rusia terhadap perluasan NATO ke arah timur, sementara yang kedua paling sesuai dengan posisi Rusia.

Kedua kepala negara juga bersama-sama menyaksikan penandatanganan 40 dokumen kerja sama bilateral yang mencakup perdagangan, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pendidikan.

Dapat dikatakan bahwa Putin mendapatkan sebagian besar yang diinginkannya, karena ada pertemuan rahasia setelah pembicaraan publik, yang isinya tidak diungkapkan, dan dunia luar tidak mengetahui semua detailnya. 

Namun, jelas bahwa Rusia membutuhkan bantuan dari PKT, terutama mengingat situasinya yang tidak menguntungkan di bawah sanksi Barat dan kondisi medan perang di Ukraina, bahkan Moskow pun mengalami pemboman drone berskala besar. Rusia sangat membutuhkan dukungan politik, ekonomi, dan militer dari PKT. Hanya PKT yang memiliki kemampuan dan kemauan untuk memberikan dukungan tersebut.

Namun, sangat diragukan apakah PKT mau mengambil risiko dengan menyinggung Eropa, secara terbuka memberikan dukungan militer kepada Moskow ketika kekalahan Rusia semakin jelas.

Sebaliknya, tidak ada pernyataan bersama yang dikeluarkan setelah pertemuan Trump-Xi. PKT bahkan tidak mengeluarkan pernyataan resmi yang sedikit formal, kecuali laporan dari Kantor Berita Xinhua. Tidak ada dokumen atau perjanjian yang ditandatangani, pembelian pesawat Boeing dan produk pertanian hanyalah janji lisan.

Tetapi Xi Jinping dan Putin mengadakan konferensi pers bersama, sesuatu yang tidak dilakukan usai pertemuan Trump-Xi.

Hubungan AS-PKT: Penekanan Xi terhadap Perangkap Thucydides adalah Mempermalukan Diri

Mengenai hubungan AS-PKT, yang ditekankan oleh Xi Jinping adalah menghindari Perangkap Thucydides (paradigma mengenai pola kekuatan, di mana kekuatan baru yang mengintimidasi kekuatan yang lebih lama). Inilah sesungguhnya yang merupakan keadaan hubungan AS-PKT saat ini. Xi Jinping sangat bangga dengan pernyataan dari dirinya ini. 

Dalam laporan standar Kantor Berita Xinhua tertulis: “Xi Jinping menunjukkan bahwa transformasi abad ini sedang bergulir semakin cepat, dan situasi internasional sangat kompleks dan saling terkait sama sama lain. Dapatkah PKT dan Amerika Serikat keluar dari Perangkap Thucydides?” dan seterusnya.

“Transformasi abad ini” bukanlah istilah yang diterima secara internasional, tetapi istilah yang diciptakan oleh Xi Jinping pada tahun 2017. Ia berpendapat bahwa tatanan dunia sedang berubah, dengan Timur bangkit dan Barat menurun, yang menyiratkan bahwa Amerika Serikat sedang menurun dan PKT harus memanfaatkan kesempatan untuk menggantikannya. 

Istilah ini sering digunakan bebarengan dengan konsep komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia. Penyebutan Perangkap Thucydides di sini mengandaikan bahwa kekuatan baru yang sedang bangkit mengancam hegemon yang ada, yang baru mulai atau sedang menurun, sehingga perang menjadi tak terhindarkan.

Terlepas dari apakah ini sesuai atau tidak dengan sejarah dunia, Trump tentu tidak suka mendengarnya. Kali ini, ia juga menekankan bahwa Amerika Serikat tidak menurun, bahkan, Amerika Serikat lebih kuat dari waktu sebelumnya.

Namun, Xi Jinping benar-benar melihat dirinya sebagai satu-satunya kekuatan baru yang mampu menantang Amerika Serikat. Hal ini terlihat jelas dalam pernyataannya selama masa jabatannya: sebuah komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia, kebangkitan Timur dan kemunduran Barat, dan diplomasi “serigala perang”-nya. Ia melihat dirinya sebagai Athena yang menantang Sparta. Dengan demikian, bagaimana ia dapat menghindari Perangkap Thucydides?

Tentu saja, Xi tidak akan menahan diri untuk menantang AS, sebaliknya, ia akan menuntut agar AS tidak berusaha mencegah atau menentang kebangkitan PKT. Ini jelas adalah pernyataan yang memprovokasi Trump.

Namun, Xi Jinping mungkin saja tidak tahu bahwa Perang Peloponnesos (perang antara Athena-Sparta) berakhir dengan kekalahan penantangnya, Athena. Ucapan Xi ini selain mempermalukan dirinya sendiri juga menyinggung perasaan Trump. Tidak jelas ahli strategi mana yang memberi Xi ide buruk ini. Xi Jinping sendiri kemungkinan besar tidak mengetahui kiasan sejarah ini. Kutipannya terhadap teks-teks klasik justru merugikan dirinya sendiri.

PKT dan AS adalah Rival, “Kemitraan Strategis” PKT-Rusia Belum Ada Kepastian

Betapapun mengesankan penampilan, pernyataannya secara terbuka, yang jelas PKT dan AS adalah rival. Sedangkan Rusia adalah mitra strategis, atau sekutu PKT, betapapun banyaknya intrik bersama yang ada di balik layar—ini tetap tidak berubah, setidaknya untuk saat ini.

Hubungan antara ketiga negara ini telah berkembang dari waktu ke waktu. Sejak digulingkannya Republik Tiongkok dan berdirinya Republik Rakyat Tiongkok (1949), PKT memilih pro-Soviet dan anti-AS, kemudian mengadakan rekonsiliasi dengan AS untuk melawan Uni Soviet di puncak Perang Dingin, setelah Revolusi Kebudayaan, PKT bergeser ke kebijakan reformasi dan keterbukaan yang pro-AS. 

Setelah Uni Soviet runtuh, Rusia gagal berintegrasi ke dalam masyarakat Barat, PKT mulai menantang AS seiring dengan kebangkitan ekonominya. Begitu Amerika Serikat menerapkan kebijakan “America First,” ketiga negara tersebut masuk ke periode saling menguji, yang mengalami pasang surut dan gejolak dalam hubungan. Sekarang sedang berada dalam fase penataan ulang dan integrasi. Di antara mereka, Rusia adalah faktor yang paling tidak pasti.

PKT tidak akan mengubah sikapnya yang anti-Amerika Serikat, karena Xi Jinping melihat AS sebagai penghalang utama bagi kebangkitan dan dominasi globalnya. Namun, di bawah kebijakan “America First” sentimen anti-AS di Rusia setidaknya sudah tidak sekuat dulu lagi, dan hambatan utamanya adalah perang Rusia-Ukraina.

Begitu perang Rusia-Ukraina berakhir, AS dan Rusia mulai berdamai, beberapa kontradiksi antara PKT dan Rusia secara bertahap akan muncul seiring menghilangnya musuh bersama.

Beberapa orang berpendapat bahwa kunjungan berturut-turut kepala negara AS dan Rusia ke Beijing menunjukkan posisi sentralnya PKT dalam kekuatan global, tetapi pendapat ini jelas tidak benar. 

Kunjungan Trump bertujuan untuk meredakan ketegangan antara kedua negara atau mengelola perbedaan dan konflik. Tema utamanya adalah “stabilitas strategis yang konstruktif,” bukan persaingan, meskipun akan ada beberapa perjuangan terbuka dan terselubung, tetapi yang pasti bukan kunjungan untuk menyatakan rasa bakti dan penghormatan.

Berbeda dengan Putin yang pergi ke Beijing untuk mencari bantuan, betapapun lihainya ia memainkan kata-kata. Setelah serangkaian peristiwa termasuk Venezuela, Terusan Panama, Iran, dan blokade Selat Hormuz, sekutu-sekutu PKT dan PKT sendiri telah berulang kali mengalami pukulan, namun PKT tidak melakukan tindakan apa pun, meski harus kehilangan muka dan substansi. Di manakah statusnya sebagai pusat kekuatan global?

Presiden Trump Menegaskan Lagi Soal Rencananya Berbicara dengan Lai Ching-te

Pada 20 Mei, Presiden Trump menegaskan kembali bahwa ia akan berbicara langsung dengan Presiden Republik Tiongkok Lai Ching-te. Menjawab pertanyaan wartawan sebelum naik Air Force One di Pangkalan Gabungan Andrews, ia mengatakan: “Saya akan berbicara langhsung dengannya (Lai Ching-te), saya berbicara dengan semua orang. Kami telah mengendalikan situasi dengan baik.” Jika panggilan telepon itu terjadi, itu akan menjadi peristiwa yang sangat penting.

Sejak terjalinnya hubungan diplomatik antara AS dan RRT pada tahun 1979, hanya ada satu kali panggilan telepon langsung yang tercatat secara publik antara para pemimpin tertinggi AS dan Republik Tiongkok. 

Pada Desember 2016, Presiden Republik Tiongkok saat itu, Tsai Ing-wen, mengucapkan selamat kepada Trump atas terpilihnya sebagai Presiden AS, dan percakapan telepon tersebut berlangsung lebih dari 10 menit. Percakapan tersebut membahas hubungan ekonomi, politik, dan keamanan bilateral. Pada saat itu, hal tersebut menimbulkan perhatian internasional yang besar dan gejolak diplomatik.

Hampir sepuluh tahun telah berlalu. Jika pembicaraan telepon itu lebih merupakan alasan untuk memberi selamat kepada presiden terpilih, maka pembicaraan langsung dengan Presiden Lai ini adalah dialog yang tulus. Membahas isu substantif tertentu seperti penjualan senjata ke Taiwan bukanlah alat tawar-menawar dengan PKT. Karena Trump tidak meminta sesuatu dari PKT, dan jika ia ingin menggunakan pengaruh, alat tawar-menawar itu lebih tepat digunakan saat bernegosiasi dengan Xi Jinping, bukan dengan Presiden Lai.

Negosiasi dengan Presiden Lai bertujuan untuk mendapatkan komitmen tertentu dari Republik Tiongkok, seperti peningkatan anggaran belanja pertahanan, penguatan kemampuan militer Taiwan, dan bahkan mungkin menuntut agar Taiwan memindahkan lebih banyak kapasitas produksi chip ke AS.

Trump Menerobos Area Terlarang, Menantang Lemahnya Alasan Pemimpin PKT 

Selama beberapa dekade, komitmen AS terhadap Taiwan bersifat unilateral. Undang-Undang Hubungan Taiwan adalah undang-undang domestik AS, tiga komunike adalah komunike AS-PKT, di mana Taiwan tidak pernah diikutsertakan. Enam Jaminan yang dibuat oleh mantan Presiden Ronald Reagan, juga tanpa menyertakan Taiwan, setidaknya tidak di tingkat puncak.

Keputusan Trump untuk secara langsung membahas penjualan senjata dengan orang yang memerintah Taiwan, yaitu presiden Republik Tiongkok—setidaknya menunjukkan keberaniannya untuk menerobos area terlarang dan menantang lemahnya alasan pemimpin PKT untuk reunifikasi Taiwan. Kenyataannya adalah bahwa sejak Presiden Lai Ching-te menjabat ia tidak mengubah kebijakan Taiwan, tidak mempromosikan agenda pro-kemerdekaan, kecuali secara tegas mempertahankan status quo.

Gerakan Kemerdekaan Taiwan adalah istilah yang dipaksakan oleh PKT. Sebenarnya PKT-lah yang sangat ingin mengubah status quo di Selat Taiwan, bukan Taiwan. Pernyataan Trump: “Saya berbicara dengan semua orang,” kemungkinan besar merupakan upaya untuk menenangkan PKT.

Tentu saja, ia juga menyebutkan: “Kita mampu menanganinya, problematik tentang Taiwan.” Di sini ia merujuk pada “problematik tentang Taiwan.” belum jelas apa yang dimaksud dengan hal ini, tetapi kemungkinan besar adalah protes Beijing terhadap penjualan senjata, sehingga menimbulkan masalah.

Namun, terlepas dari apa saja yang akan dibahas oleh Trump dengan Presiden Lai—baik itu soal penjualan senjata atau menyangkut semikonduktor—tindakan membahas masalah secara langsung jauh lebih penting daripada penjualan senjata.  (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ditlantas Polda Metro Jaya Beri Dispensasi Bayar Pajak Kendaraan Tanpa KTP Pemilik Lama Selama Satu Tahun
• 18 jam lalupantau.com
thumb
Tingkatkan Layanan Kesehatan Mata, Gubernur Bobby Nasution Gandeng RS Mata Cicendo
• 18 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Resep Oolong Milk Tea yang Bisa Dibuat di Rumah
• 20 jam lalubeautynesia.id
thumb
Disindir Adik Sarwendah? Ruben Onsu Posting Soal Penghasut dan Kebaikan yang Dilupakan
• 19 jam lalugrid.id
thumb
Agrobisnis Perikanan FPIK UB Gelar Program Internasional 3 in 1 Bahas Manajemen Risiko Akuakultur Berkelanjutan
• 22 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.