Bisnis.com, PURWOKERTO — Penjualan Wuling Eksion menembus 1.500 surat pemesanan kendaraan (SPK) sejak diluncurkan. Tingginya minat terhadap model tersebut menjadi sinyal awal bahwa pasar kendaraan hybrid plug-in atau plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) mulai mendapat tempat di Indonesia, meski kendaraan listrik murni masih mendominasi permintaan.
Brand Communication Senior Manager Wuling Motors Brian Gomgom mengatakan hingga saat ini SPK Wuling Eksion telah mencapai 1.500 unit. Konsumen masih dapat memanfaatkan program harga dan paket early bird sebelum kuota pemesanan mencapai 2.000 unit.
“Untuk Eksion sekarang SPK-nya sudah ada di angka 1.500 unit. Jadi masih ada beberapa lagi untuk menikmati early bird price dan early bird package,” ujarnya dalam Media Riding di Purwokerto, Rabu (3/6/2026).
Wuling berencana menyesuaikan harga setelah pemesanan mencapai 2.000 unit. Meski belum mengumumkan besaran kenaikannya secara resmi, Brian mengakui terdapat indikasi penyesuaian harga sekitar Rp10 juta.
Dari total pemesanan yang telah masuk, varian kendaraan listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) masih mendominasi dengan kontribusi sekitar 70%. Adapun varian PHEV menyumbang sekitar 30% atau setara kurang lebih 450 unit.
“Yang EV sekitar 70%, lalu yang PHEV sekitar 30%,” katanya.
Baca Juga
- Adu Spesifikasi MPV Hibrida: BYD M6 DM vs Wuling Darion PHEV
- Produksi Mobil RI Naik 9,5% per April 2026, Didorong Toyota hingga Wuling
- Wuling Eksion Resmi Mengaspal di Makassar, Patok Harga Mulai Rp397,8 Juta
Secara geografis, permintaan terbesar masih berasal dari Jabodetabek. Selain itu, sejumlah kota besar seperti Surabaya, Medan, Makassar, Bali, dan Bandung juga menjadi kontributor utama pemesanan.
Tangkap Peluang PHEVMeski kontribusi PHEV masih lebih kecil dibandingkan EV, Wuling melihat adanya tren pertumbuhan minat yang mulai terbentuk di segmen tersebut.
Brian membandingkan perkembangan PHEV saat ini dengan fase awal kendaraan listrik murni beberapa tahun lalu. Menurutnya, adopsi EV juga berangkat dari pangsa pasar yang kecil sebelum akhirnya berkembang pesat.
“Di EV sendiri tahun 2022 market share-nya belum banyak. Sekarang market share EV sudah sekitar 18%. Artinya dalam empat tahun perkembangannya sangat cepat,” ujarnya.
Dia menilai kemunculan sejumlah model baru di segmen PHEV menjadi indikator bahwa pasar Indonesia mulai menerima teknologi tersebut. Selain Wuling, sejumlah produsen lain juga mulai menghadirkan model PHEV ke pasar domestik.
Menurut Brian, PHEV memiliki keunggulan sebagai teknologi transisi yang menjembatani kendaraan bermesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE) menuju kendaraan listrik murni.
Selain dapat menggunakan bahan bakar konvensional, kendaraan PHEV juga memiliki kemampuan pengisian daya layaknya mobil listrik sehingga menawarkan fleksibilitas lebih bagi konsumen yang belum sepenuhnya siap beralih ke EV.
“PHEV ini jembatannya antara ICE dan EV. Kita melihat pasar tersebut punya potensi,” katanya.
Wuling menegaskan strategi perusahaan tidak hanya berfokus pada satu teknologi. Pengembangan kendaraan listrik murni dan PHEV akan berjalan beriringan menyesuaikan kebutuhan konsumen serta perkembangan ekosistem otomotif nasional.
Menurut Brian, keputusan memperkenalkan EV lebih dahulu pada 2022 dilakukan karena mempertimbangkan kesiapan pasar dan arah perkembangan industri kendaraan listrik di Indonesia. Setelah ekosistem mulai terbentuk, perusahaan kemudian memperluas pilihan produk melalui teknologi PHEV.
“Kami akan menghadirkan produk dan inovasi yang relevan dengan pasar Indonesia. EV dan PHEV memiliki kelompok pengguna yang berbeda dan keduanya berkembang bersamaan,” ujarnya.





