JAKARTA, KOMPAS.com – Jakarta terus menambah pilihan transportasi publik. MRT berkembang, Transjakarta mencatat rekor penumpang, LRT Jakarta mengalami pertumbuhan pengguna, sementara jaringan KRL dan layanan mikrotrans semakin meluas.
Namun, di saat jumlah pengguna angkutan umum terus meningkat, kemacetan masih menjadi pemandangan sehari-hari di ibu kota.
Pertanyaan pun muncul, mengapa jalanan Jakarta tetap padat meski pilihan transportasi publik semakin banyak?
Pengguna transportasi publik terus bertambah
Data berbagai operator menunjukkan tren positif penggunaan angkutan umum di Jakarta.
PT MRT Jakarta (Perseroda) mencatat rata-rata 130.533 pelanggan per hari pada September 2025, melampaui target 119.000 pelanggan.
Baca juga: Tol Jakarta Macet Pagi Ini, Contraflow Diberlakukan di Sejumlah Ruas
Pada hari kerja, angka keterangkutan bahkan mencapai 148.972 pelanggan per hari.
Stasiun Dukuh Atas BNI menjadi stasiun tersibuk dengan kontribusi 17 persen dari total pengguna MRT. Selanjutnya Stasiun Lebak Bulus, Bundaran HI Bank Jakarta, dan Blok M BCA.
Keempatnya merupakan simpul transportasi yang terintegrasi dengan moda lain dan kawasan aktivitas masyarakat.
Sementara itu, Transjakarta menutup tahun 2025 dengan capaian 413 juta pelanggan atau meningkat dua kali lipat dibandingkan tiga tahun sebelumnya.
Rata-rata terdapat 1,4 juta perjalanan setiap hari menggunakan layanan bus tersebut.
Pertumbuhan juga terjadi pada LRT Jakarta. Sepanjang 2025, jumlah pengguna mencapai 1,3 juta penumpang atau meningkat 8,97 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca juga: WFH Tiap Jumat Hanya Kurangi Perjalanan, Belum Bisa Atasi Macet Jakarta
Data Badan Pusat Statistik (BPS) turut menunjukkan tren yang sama.
Pada Desember 2025, jumlah penumpang MRT Jakarta mencapai 4,05 juta orang atau naik 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penumpang LRT Jakarta meningkat 17,89 persen secara tahunan, sedangkan Transjakarta tumbuh 13,04 persen.
Secara angka, minat masyarakat menggunakan transportasi publik memang terus meningkat.
Namun, pertumbuhan itu belum otomatis membuat kemacetan berkurang secara signifikan.