PT MRT Jakarta membukukan pendapatan sebesar Rp1,5 triliun sepanjang 2025 atau meningkat sekitar tujuh persen dibandingkan tahun sebelumnya.
"Pendapatan pada 2025 mencapai Rp1,5 triliun dengan pertumbuhan sekitar tujuh persen dibandingkan tahun sebelumnya," kata Direktur Keuangan dan Manajemen PT MRT Jakarta (Perseroda) Risa Olivia saat dikonfirmasi di Jakarta, Kamis (4/6).
Dia mengatakan pertumbuhan pendapatan itu didorong oleh peningkatan jumlah pengguna serta kontribusi bisnis non-tiket.
Menurut dia, pendapatan tiket atau farebox terus menunjukkan tren positif dengan pertumbuhan tahunan yang signifikan sejak 2021.
Secara keseluruhan, pendapatan MRT Jakarta tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata suatu investasi atau metrik bisnis selama periode tertentu atau compound annual growth rate (CAGR) sebesar 2,3 persen pada periode 2021-2025.
Pertumbuhan tersebut ditopang oleh diversifikasi sumber pendapatan perusahaan yang berasal dari tiket (farebox), subsidi pemerintah, serta pendapatan non-farebox.
Selain itu, kontribusi pendapatan farebox mencatat CAGR positif sebesar 50,4 persen selama periode tersebut. Capaian ini menunjukkan semakin tingginya minat masyarakat menggunakan transportasi publik, khususnya MRT Jakarta.
"Semakin banyak yang menggunakan MRT, nantinya pendapatan tiket bisa semakin meningkat," ujar Risa.
Di sisi lain, dukungan pemerintah melalui skema subsidi masih menjadi salah satu komponen penting dalam menjaga kinerja perusahaan sekaligus memastikan layanan transportasi publik tetap berjalan dengan standar yang tinggi dan tarif yang terjangkau bagi masyarakat.
Risa menuturkan kemampuan perusahaan menjaga kinerja operasional tercermin dari indikator keuangan yang mengukur laba operasional sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi atau Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) margin yang berada pada kisaran 35 hingga 51 persen dalam beberapa tahun terakhir.
"Kinerja operasional perusahaan relatif terjaga dan cukup stabil dalam jangka panjang," tutur Risa.
Selain itu, total aset MRT Jakarta hingga 2025 telah mencapai sekitar Rp32 triliun, yang sebagian besar berasal dari pembangunan infrastruktur transportasi, seperti jalur dan stasiun MRT.
Dia mengungkapkan arah pertumbuhan jangka panjang perusahaan masih terjaga, terlihat dari tren pendapatan yang terus meningkat serta kemampuan MRT Jakarta mempertahankan margin EBITDA di atas 35 persen meski menghadapi berbagai tantangan eksternal.
Sementara itu, Direktur Pengembangan Bisnis MRT Jakarta Farchad Mahfud mengatakan perusahaan terus memperkuat sumber pendapatan non-farebox melalui pengembangan kawasan transit.
Salah satunya, dilakukan melalui pengelolaan kawasan Blok M Hub yang saat ini menampung sekitar 375 tenant.
"Kami terus mengoptimalkan area komersial dan pengembangan kawasan transit untuk memperkuat pendapatan non-tiket," ungkap Farchad.
MRT Jakarta berharap diversifikasi pendapatan tersebut dapat mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap subsidi sekaligus mendukung keberlanjutan operasional jangka panjang.




