Jakarta, tvOnenews.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan 0,27 persen.
Rupiah mencatat rekor terendah tembus Rp18.015 per dolar AS pada perdagangan pada Kamis (4/6/2026) pagi.
Posisi tersebut menjadi salah satu level terlemah rupiah dalam beberapa waktu terakhir sekaligus menandai mata uang Indonesia ke ambang psikologis baru Rp18.000 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong menilai pelemahan ini mencerminkan kuatnya tekanan eksternal di tengah meningkatnya ketidakpastian global, ditambah sentimen domestik yang masih kurang kondusif.
“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat di tengah tensi geopolitik yang meningkat di Timur Tengah,” kata Lukman di Jakarta.
Selain itu, sejumlah data ekonomi AS yang dirilis lebih baik dari perkiraan pasar turut memperkuat mata uang Negeri Paman Sam.
Data ketenagakerjaan AS serta indeks aktivitas sektor jasa Institute for Supply Management (ISM) yang menunjukkan kinerja lebih kuat dari ekspektasi memperbesar optimisme terhadap ekonomi AS.
Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat permintaan terhadap dolar AS meningkat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sementara dari dalam negeri, sentimen pasar juga dinilai belum cukup kuat untuk menopang pergerakan rupiah.
Meski demikian, Lukman memperkirakan pelemahan rupiah berpotensi tertahan oleh langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia (BI).
Dengan kurs yang kembali mendekati level psikologis baru, bank sentral diperkirakan akan meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
“Sentimen domestik yang masih buruk, namun kembali mendekati level psikologi baru, kemungkinan Bank Indonesia akan mengintervensi secara agresif,” tambahnya.
Dengan analisa tersebut, Lukman memperkirakan pergerakan rupiah masih fluktuatif di kisaran Rp17.900 - Rp18.050 per dolar AS. (ant)




