KUPANG, KOMPAS - Jenazah dua wisatawan Austria yang tewas akibat jebolnya jembatan gantung menuju Air Terjun Cunca Wulang dikremasi di Bali. Namun, di balik rampungnya proses pemulangan korban, penyelidikan mengenai penyebab kecelakaan dan kemungkinan adanya pihak yang lalai masih terus berjalan
"Infonya hari ini dikremasi di Denpasar (Bali)," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Manggarai Barat Petrus Antonius Rasyid, Kamis (4/6/2026) siang.
Jenazah korban dikirim dari Labuan Bajo pada Rabu (3/6/2026), setelah sempat tertahan selama lebih dari satu pekan di Rumah Sakit Umum Daerah Komodo. Selanjutnya, abu jenazah akan dikirim ke alamat keluarga kedua korban di Austria.
Jenazah tertahan di Labuan Bajo selama beberapa hari lantaran kendala komunikasi dengan pihak keluarga serta kedutaan besar. Dalam proses pemulangan, pihak imigrasi, kedutaan besar serta Kementerian Luar Negeri Indonesia berkomunikasi secara aktif.
Seperti diberitakan sebelumnya, pada Minggu (24/5/2026) pukul 11.30 Wita, dua wisatawan asal Austria terjatuh saat melintas di atas jembatan menuju lokasi wisata air terjun Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling. Papan pada jembatan kayu jebol ketika kedua korban melintas di atasnya.
Akibatnya, mereka jatuh ke dasar sungai sedalam 10 meter dan tewas setelah tubuhnya terbentur batu. "Korban terjatuh dan meninggal di lokasi kejadian." tutur Fathur Rahman Kepala Kantor SAR Maumere.
Serial Artikel
Mafia Berbaju Turis Berpotensi Incar Labuan Bajo, Bagaimana Mencegahnya?
Tindakan WNA di Labuan Bajo mulai dari tidak membayar ongkos ojek, bekerja secara ilegal sebagai instruktur selam, hingga terlibat dalam jaringan mafia tanah.
Djoko Setijowarno, Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia mengatakan, sebuah destinasi wisata kelas dunia tidak pernah dinilai sekadar dari keindahan lanskap atau kemegahan akomodasinya. Semua sistem di dalamnya harus mampu menjamin keselamatan setiap nyawa manusia.
"Ketika label superprioritas dan superpremium mulai disematkan pada Labuan Bajo, ekspektasi publik terhadap standar pelayanan publiknya pun otomatis melonjak. Sayangnya, realitas di lapangan sering kali masih memperlihatkan celah yang mengkhawatirkan," katanya.
Menurutnya, standar keselamatan wajib menjadi prioritas utama. Pemerintah dan pengelola tidak boleh berkompromi dengan keselamatan manusia. Sangat ironis jika destinasi wisata berlabel superpremium ini justru abai terhadap keselamatan, hingga membuat wisatawan merasa tengah bertaruh nyawa.
"Jika terus dibiarkan dan pemerintah tetap abai, bukan tidak mungkin Labuan Bajo akan ditinggalkan oleh pelancong mancanegara. Bagaimanapun, wisatawan datang untuk bersenang-senang, bukan untuk mempertaruhkan nyawa akibat buruknya layanan dan infrastruktur pendukung. Tanpa adanya jaminan keselamatan, reputasi Labuan Bajo taruhannya," papar Djoko.
Menurut dia, pemerintah perlu mengalokasikan anggaran khusus yang didedikasikan sepenuhnya untuk penanganan keselamatan di Labuan Bajo.
Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda NTT Komisaris Besar Henry Novika Chandra mengatakan, polisi masih terus melakukan penyelidikan terkait peristiwa tersebut. Sudah ada delapan orang dimintai keterangan mulai dari pemandu wisata, petugas spot wisata, dan pejabat terkait di bidang kepariwisataan.
Tempat wisata itu dikelola masyarakat setempat. Hasil penjualan tiket dibagi bersama oleh pemerintah desa dan pemerintah kabupaten.
Tarif untuk wisatawan asing Rp 50.000 per orang sedangkan wisatawan lokal Rp 30.000 per orang.
"Proses penyelidikan sedang berlangsung. Dalam waktu dekat sudah ada titik terang mengenai kasus ini," ujar Henry seperti memberi sinyal bakal ada pihak-pihak yang diminta pertanggungjawaban hukum. Belum ada penegasan terkait penetapan status tersangka.
Serial Artikel
Jembatan Lapuk yang Dibiarkan, Kisah di Balik Tewasnya Dua Warga Austria di Labuan Bajo
Setiap wisatawan yang masuk wajib membayar kepada pengelola. Wisatawan mancanegara Rp 50.000 per orang dan wisatawan domestik Rp 30.000 per orang.





