Grid.ID - Suasana haru menyelimuti keluarga Gisella Anastasia saat mengantarkan kepergian sang Opung untuk peristirahatan terakhir. Namun di balik kesedihan yang mendalam, tersimpan pula rasa syukur dan kelegaan yang menjadi bagian dari perjalanan sebuah keluarga dalam menghadapi kehilangan.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Gisella membagikan perasaan yang begitu jujur tentang momen emosional tersebut. Dalam unggahannya pada Kamis (4/6/2026), Gisella menggambarkan bagaimana perasaannya dan keluarganya bercampur menjadi satu antara duka dan rasa ikhlas melepas orang yang dicintai.
"Hari yang rasanya campur aduk. Tidak lepas dari duka kehilangan orang yang kami sayangi yang punya segudang kebaikan untuk diingat, namun juga sedikit kelegaan karena Opung sudah nggak sakit lagi dan kami percaya Opung sudah berbahagia pulang ke rumah Bapa di surga," tulis Gisella Anastasia di akun Instagram pribadinya pada Kamis (4/6/2026).
Di tengah suasana pemakaman, keluarga juga mendapatkan pelajaran berharga mengenai adat dan tradisi Batak yang diwariskan turun-temurun. Bagi masyarakat Batak, kematian tidak selalu dimaknai semata-mata sebagai peristiwa penuh kesedihan. Ada nilai-nilai penghormatan, rasa syukur, dan penghargaan terhadap perjalanan hidup seseorang yang telah selesai menjalankan tugasnya di dunia.
"Di tengah dukacita ini, kami juga belajar memaknai adat tradisi kami, dimana saat seseorang berpulang dalam status saur matua, keluarga tidak hanya menangis, tapi juga mengucap syukur," tulisnya.
Bagi keluarga, kepergian sang Opung bukan hanya akhir dari sebuah kehidupan, melainkan penutup dari perjalanan panjang yang dipenuhi kasih dan pengabdian kepada keluarga.
"Syukur karena Opung sudah menuntaskan "tugasnya" di dunia - melihat anak, cucu, dan keluarga besarnya bertumbuh lengkap dalam kasih," sambungnya.
Salah satu hal yang mungkin terlihat unik bagi sebagian orang adalah adanya musik dan tarian dalam prosesi adat Batak yang berlangsung di tengah suasana berkabung. Namun justru di situlah letak kekayaan makna budaya tersebut.
"Mungkin itu sebabnya hari ini dipenuhi doa, pelukan, tangisan, sekaligus tortor dan kebersamaan keluarga," katanya.
"Bukan karena kami tidak berduka, tapi karena cinta dan penghormatan terakhir itu dirayakan dengan penuh makna," sambung Gisel.
Di antara berbagai kenangan yang ditinggalkan sang Opung, terdapat satu kalimat yang akan terus hidup dalam ingatan Gisel. Mantan istri Gading Marten itu mengingat slogan "Indah pada waktunya" yang selalu disebutkan oleh sang Opung.
"Akan selalu kami ingat pung slogan hidup Opung, "Indah pada waktunya." Terima kasih untuk setiap doa dan kasih yang mengiringi perjalanan terakhir Opung," tuturnya.
Di tengah suasana yang penuh emosi, Gisella juga membagikan cerita menarik mengenai putrinya, Gempita Nora Marten atau Gempi. Momen tersebut menjadi pengalaman berharga bagi Gempi yang untuk pertama kalinya terlibat cukup lama dalam prosesi adat Batak.
"Kayaknya ini pertama kali Gempi benar-benar terlibat dalam adat Batak agak panjang. Gemes liat dia bingung tapi belajar menyesuaikan diri. Bingung kok sedih tapi kok malah ada musik-musik nari-nari. Mana rambutnya baru banget pink," tulis Gisel. (*)
Artikel Asli




