Bisnis.com, JAKARTA - Wakil Ketua DPR RI, Cucun Ahmad Syamsurijal merekomendasikan pemerintah melalui Kementerian Keuangan melakukan konsolidasi fiskal dan moneter dengan Bank Indonesia (BI) imbas nilai tukar rupiah ke dolar AS berada di level Rp18.000.
Berdasarkan data TradingView dalam intraday perdagangan Kamis (4/6/2026) pukul 11.35 WIB, rupiah melemah ke posisi Rp18.042 per dolar AS.
Sementara itu, IHSG pun ambles 3,48% ke level 5.734,25 pada akhir perdagangan sesi I hari ini. Kejatuhan ini membuat IHSG sudah anjlok 33,68% sejak awal tahun (year-to-date/ytd).
Lebih lanjut, Cucun menyampaikan saat ini BI belum maksimal dalam melakukan operasi moneter ketika terjadi fluktuasi rupiah.
"DPR merekomendasikan kepada pemerintah terutama Kementerian Keuangan ya untuk segera melakukan konsolidasi fiskal moneter dengan Bank Indonesia," katanya saat konferensi pers di Kompleks Parlemen, Kamis (4/6/2026).
Menurutnya, presiden kemungkinan akan segera memanggil pihak terkait untuk membahas kondisi tersebut. Terlebih, Undang-Undang tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) telah disahkan sebagai landasan dalam memperkuat stabilitas dan pengembangan sektor keuangan nasional.
Baca Juga
- Mendag Pilih Barter Komoditas dengan Filipina Imbas Rupiah Anjlok
- Permintaan Valas Domestik Tinggi Tambah Beban Rupiah Jatuh ke Rp18.000 per Dolar AS
- IHSG Sudah Jatuh 33% Tertimpa Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS
Dia menilai pemerintah memiliki berbagai skema dan instrumen yang dapat digunakan untuk menahan laju pelemahan nilai tukar rupiah. Oleh sebab itu, katanya, Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia diminta terus menjaga soliditas dalam menjalankan kebijakan fiskal dan moneter guna menghadapi gejolak nilai tukar.
Dia menambahkan, apabila konsolidasi tersebut telah dilakukan, Bank Indonesia dapat segera menjalankan langkah intervensi di pasar sebagaimana yang biasa dilakukan. Terlebih, jika cadangan devisa yang dimiliki Bank Indonesia masih berada pada level yang kuat, intervensi dinilai dapat menjadi salah satu upaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
"Sekarang yang harus dilakukan segera mau siapa yang inisiatif, mau Menteri Keuangan atau BI melakukan konsolidasi fiskal dan moneter dalam menghadapi fluktuasi nilai tukar rupiah ini. Kalau sudah dilakukan konsolidasi tadi biasakan BI yang melakukan intervensi," jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua DPR Saan Mustopa menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, Kementerian Keuangan, dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika perekonomian global.
Dia berpendapat, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter harus terus diperkuat agar tekanan terhadap rupiah dapat diantisipasi dan tidak berdampak lebih luas terhadap perekonomian nasional.
Saan meyakini pemerintah terus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menahan laju pelemahan rupiah. Namun demikian, dia menekankan bahwa seluruh otoritas terkait perlu bergerak secara cepat dan terkoordinasi guna memastikan nilai tukar tetap berada dalam rentang yang telah ditetapkan dalam asumsi makro pemerintah untuk 2027.
"Mencegah untuk terus bisa mengendalikan pada posisi seperti yang memang kita harapkan bersama apalagi tadi dalam kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal pemerintah untuk tahun 2027 sudah mematok nilai tukar rupiah terhadap dolar itu di kisaran Rp16.800 sampai Rp17.500 dan tentu untuk bisa mewujudkan di tahun 2027 nilai tukar rupiah ada di kisaran itu maka upaya yang terjadi hari ini harus memang bener-bener ditangani secara serius oleh seluruh otoritas yang memang bertanggung jawab terkait penanganan itu," urainya.





