Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah hingga menembus Rp18.020 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (4/6/2026), berdasarkan data Bank Indonesia.
Dari sisi eksportir, kondisi ini memberikan keuntungan. Namun, Abdul Sobur Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) mengingatkan bahwa pelemahan rupiah bukan kondisi ideal.
Dia membeberkan, kondisi ini sebetulnya menguntungkan bagi 2.500 anggotanya yang mayoritas eksportir. Hal ini mengingat 70 persen bahan baku produksi bersumber dari lokal, sementara presentase sisanya sekitar 25 persen baru impor mesin atau teknologi. Tapi, ia mengatakan kalau keuntungan ini hanya bersifat sementara.
“Iya tapi untungnya sesaat ya karena kita terima dalam bentuk dolar. Kita mengatakan kayak semacam windfall (keuntungan tiba-tiba) ya. Tapi kan juga nanti belanja mesin juga pakai dolar. Logistik juga ada dolarnya. Belanja bahan finishing juga ada dolarnya,” bebernya saat ditemui dalam kegiatan Indowood Expo 2026 di Surabaya, Kamis (4/6/2026).
Keuntungan itu menurutnya hanya sementara. Industri mebel lebih perlu kondisi rupiah yang stabil untuk rencana jangka panjang. Karenanya, ia menilai perlu regulasi untuk meningkatkan kepercayaan publik termasuk internasional.
“Dengan memastikan regulasi atau hambatan-hambatan di dalam dunia usaha itu menjadi hilang. Supaya ada kepercayaan publik yang kuat termasuk dunia internasional melihat Indonesia ini adalah peluang untuk membangun pertumbuhan. Jangan sampai outflow keluar mereka. Karena ribetnya aturan misalnya. Ketidakpercayaan ya pergilah, dibawalah duitnya. Akhirnya apa? Kebutuhan terhadap dolar meningkat karena dibawa keluar, jadi rupiahnya jatuh,” bebernya lagi.
Dalam 4-5 tahun ke depan, ia menarget industri mebel mencapai nilai ekspor 6 miliar dolar AS. “Dua kali lipat dari sekarang,” ungkapnya.
Sementara Andi Rizaldi Staf Ahli Bidang Percepatan Transformasi Industri 4.0 Kementerian Perindustrian menambahkan, 80 persen hasil produksi industri furnitur, diekspor ke luar negeri.
Sehingga, penguatan dolar cenderung menguntungkan industri furnitur karena sekitar mayoritas bahan bakunya berasal dari dalam negeri.
“Kalau kita lihat kasus furnitur karena 60 persen bahan baku lokal, sedangkan penjualannya 80 persen ekspor, berarti kenaikan nilai tukar dolar itu sebetulnya menguntungkan,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah juga terus mendorong hilirisasi industri kayu dengan membatasi ekspor bahan baku mentah berupa kayu log atau geloneongan. Kebijakan itu menurutnya membuka peluang masuknya investasi ke sektor pengolahan kayu dan furnitur dalam negeri.
Andi mengatakan, kebutuhan bahan baku kayu di sejumlah negara, termasuk China, masih cukup tinggi. Namun, karena ekspor kayu log dari Indonesia telah dibatasi, pelaku usaha asing didorong untuk berinvestasi dan membangun industri pengolahan di Indonesia.
“Kalau mau ya datang ke sini. Nanti kita kasih log. Jadi saya pikir itu trade off yang bagus. Supaya mereka dapat bahan baku, kemudian kita juga industrinya jadi bertambah,” katanya.
Andi menyebut nilai ekspor industri furnitur pada 2024 mencapai sekitar 1,9 miliar USD atau sekitar Rp34,24 triliun. Sementara 2025 nilainya berada di kisaran 1,8 miliar USD atau setara Rp32,44 triliun. (lta/bil/ham)



