PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) atau Alfamart akan membagikan dividen tunai senilai sekitar Rp 1,7 triliun atau Rp41,5 per saham kepada pemegang saham dari laba bersih tahun buku 2025. Direktur sekaligus Corporate Secretary AMRT, Tomin Widian, mengatakan dividend payout ratio kali ini naik sebesar 50% dari laba bersih yang dibukukan perusahaan sepanjang 2025.
“Angka ini naik dibandingkan rasio tahun sebelumnya sebesar 40%, tahun lalu di Juni di RUPS tahun lalu itu kami membagikan dividen Rp 1,4 triliun,” kata Tomin dalam paparan publik usai RUPST di Alfa Tower, Tangerang, Kamis (4/6).
Sepanjang 2025, AMRT membukukan pendapatan sebesar Rp 126,74 triliun, naik dibandingkan Rp 118,23 triliun pada tahun sebelumnya. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga meningkat menjadi Rp3 ,41 triliun dari Rp 3,15 triliun pada 2024.
Torehan itu ditopang dari kenaikan aktivitas transaksi, termasuk melalui Alfagift yang mengintegrasikan kanal belanja daring dan luring (omnichannel). Selain itu, strategi promosi yang efektif, ketersediaan produk sesuai kebutuhan pelanggan, dan peningkatan loyalitas konsumen melalui pemanfaatan analisis data juga mendukung pertumbuhan bisnis perusahaan.
Meski begitu, Presiden Direktur Alfamart, Anggara Hans Prawira, mengaku AMRT menghadapi tantangan yang semakin kompleks, baik dari aspek keberlanjutan maupun kondisi ekonomi. Menurutnya, tekanan inflasi dan melemahnya daya beli masyarakat mendorong konsumen menjadi lebih selektif dalam berbelanja.
Namun Anggara menilai prospek pertumbuhan perusahaan tetap terbuka. Hal itu karena produk yang dipasarkan merupakan kebutuhan pokok yang permintaannya relatif stabil, sehingga mampu menjadi penopang kinerja di tengah dinamika ekonomi.
“Didukung oleh penerapan strategi promosi yang efektif untuk menjaga daya tarik harga serta mendorong loyalitas pelanggan,” kata Anggara.
Sepanjang 2025, Alfamart dan entitas anak berhasil menambah 1.159 gerai baru. Dengan penambahan tersebut, jumlah gerai ritel perseroan mencapai 24.434 unit, meningkat dari 23.277 gerai pada akhir 2024.
Anggara juga mengatakan perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan sepanjang 2025 di tengah dinamika global. Berdasarkan data BPS, ekonomi nasional tumbuh sekitar 5,11% secara tahunan, ditopang oleh konsumsi domestik serta meningkatnya aktivitas di sektor jasa dan perdagangan.
Menurut Anggara, stabilitas tersebut mencerminkan daya tahan ekonomi Indonesia meski masih menghadapi berbagai tantangan. Seperti ketidakpastian global, tensi geopolitik, dan fluktuasi harga komoditas yang berpengaruh terhadap inflasi serta daya beli masyarakat.
Memasuki 2026, Anggara menilai prospek industri ritel nasional tetap positif seiring berlanjutnya pemulihan ekonomi domestik dan pertumbuhan permintaan konsumen. Ia mengungkapkan, Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,33% hingga 5,4% pada 2026. Hal itu didukung oleh konsumsi rumah tangga, percepatan belanja fiskal, serta stabilitas moneter yang menopang permintaan ritel.
Demi menangkap peluang tersebut, Alfamart berencana memperkuat bisnis digital dan omnichannel, termasuk melalui integrasi layanan digital demi meningkatkan pengalaman pelanggan.
Perseroan juga akan mengoptimalkan rantai pasok dan sistem logistik untuk memastikan ketersediaan produk serta meningkatkan kemampuan merespons perubahan pola permintaankonsumen.
“Perseroan optimis dapat memperkuat posisinya di industri ritel Indonesia pada tahun 2026, serta menyokong target pertumbuhan pendapatan tahunan,” kata Anggara.




