Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah memastikan terus memantau perkembangan nilai tukar rupiah dan pergerakan pasar keuangan di tengah pelemahan mata uang Indonesia serta volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah bersama otoritas ekonomi dan keuangan terus melakukan koordinasi intensif untuk merespons dinamika yang terjadi di pasar.
"Berkenaan dengan masalah rupiah, kami pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan, kemudian Bank Indonesia, kemudian juga Otoritas Jasa Keuangan terus berkoordinasi secara intens untuk terus memonitor dan kemudian melakukan langkah-langkah," kata Prasetyo kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Prasetyo menjelaskan koordinasi tersebut melibatkan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) guna memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga.
Meskipun pasar tengah menghadapi tekanan, tetapi pemerintah meminta masyarakat dan pelaku usaha tetap optimistis terhadap kondisi perekonomian nasional. Menurut Prasetyo, sejumlah indikator utama menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia masih berada pada kondisi yang kuat.
"Tetapi yang pasti bisa kami sampaikan bahwa kita harus yakin bahwa sesungguhnya fundamental ekonomi kita yang tergambar dari pertumbuhan ekonomi, kemudian dari inflasi yang masih terjaga, insyaallah sesungguhnya kita memiliki fundamental ekonomi yang cukup kuat," tandas Prasetyo.
Baca Juga
- Purbaya Bantah Kondisi APBN Picu Pelemahan Rupiah, Klaim Setoran Pajak Naik 22%
- Rupiah Ditutup Terjun ke Rp18.049 per Dolar AS Kamis (4/6)
- Rupiah Ambrol ke Rp18.000, Purbaya Ingatkan Pembayaran Bunga Utang Meningkat
Perdagangan pasar keuangan pada Kamis, 4 Juni 2026, mencatat tekanan berat seiring melemahnya nilai tukar rupiah yang drastis hingga menyentuh level Rp18.038 per dolar AS. Pelemahan tajam mata uang garuda ini dipicu oleh derasnya arus modal asing yang keluar dari pasar domestik akibat sentimen global.
Kondisi tersebut turut menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup merosot -1,58% ke level 5.846,94 setelah kehilangan 94,12 poin.
Aksi jual bersih oleh investor asing bahkan sempat menekan indeks lebih dalam ke zona 5.600 hingga 5.700 selama sesi perdagangan berlangsung.





