Penelitian menunjukkan bahwa perasaan ”sudah tahu”ssetelah menonton banyak video pendek tidak selalu berarti kita benar-benar memahami atau mengingat sesuatu. Justru sebaliknya, semakin banyak informasi yang datang dalam potongan-potongan pendek dan terus berganti, semakin sulit otak menyimpannya dalam memori jangka panjang.
Temuan ini dipublikasikan di jurnal Communications Psychology pada Mei 2026. Tim peneliti dari Yunnan Normal University dan Central China Normal University menemukan bahwa video pendek ala Tiktok, Reels, atau Shorts secara signifikan lebih buruk dalam membantu pembelajaran dibandingkan video yang lebih panjang.
”Munculnya video pendek secara pesat, khususnya format ala media sosial yang dicirikan oleh peralihan cepat dan konten yang terfragmentasi, telah menyebabkan semakin terintegrasinya video pendek ke dalam lingkungan pembelajaran,” kata Meiting Wei dari Center for Educational Cognitive Neuroscience, Yunnan Normal University, yang menjadi penulis pertama laporan.
Dalam satu dekade terakhir, internet mengalami perubahan besar. Jika dahulu orang menghabiskan waktu membaca artikel panjang atau menonton video berdurasi belasan menit, kini perhatian manusia semakin diperebutkan oleh konten yang hanya berlangsung 15-60 detik.
Platform digital dirancang agar pengguna terus menggulir. Begitu satu video selesai, video berikutnya langsung muncul. Tidak ada jeda untuk merenung, apalagi mengingat.
Otak menerima banyak informasi, tetapi tanpa kesempatan untuk menyusunnya menjadi pengetahuan yang utuh.
Fenomena ini menciptakan apa yang disebut para ilmuwan sebagai fragmented content, yaitu informasi yang terpecah menjadi potongan-potongan kecil dan terpisah satu sama lain. Otak menerima banyak informasi, tetapi tanpa kesempatan untuk menyusunnya menjadi pengetahuan yang utuh.
Wei dan timnya membuat pertanyaan untuk risetnya, apakah format seperti ini cocok untuk belajar?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, para peneliti melakukan tiga eksperimen yang melibatkan lebih dari 150 mahasiswa. Para peserta diminta menonton video yang berisi informasi edukatif tentang berbagai tujuan wisata jarak jauh. Sebagian peserta menonton video berdurasi sekitar 10 menit. Sebagian lainnya menonton versi pendek yang terdiri dari klip-klip berdurasi 30 detik hingga 2,5 menit.
Ada peserta yang diberi tahu bahwa mereka harus mengingat informasi tersebut. Ada pula yang hanya diminta menonton seperti biasa. Yang menarik, sebagian besar eksperimen dilakukan ketika peserta berada di dalam mesin functional magnetic resonance imaging (fMRI), alat yang dapat memetakan aktivitas otak secara real time melalui perubahan aliran darah. Dengan demikian, para peneliti tidak hanya mengetahui apa yang diingat peserta, tetapi juga bagaimana otak mereka bekerja selama proses belajar berlangsung.
Hasilnya cukup jelas. Mereka yang belajar melalui video pendek memiliki tingkat ingatan yang lebih rendah dibandingkan kelompok video panjang. Ketika diuji kemudian, mereka juga lebih cepat melupakan informasi yang telah dipelajari.
Temuan paling menarik justru berasal dari pemindaian otak. Para peneliti menemukan bahwa video pendek menurunkan sinkronisasi aktivitas pada beberapa wilayah otak yang sangat penting untuk belajar, termasuk area yang berperan dalam perhatian, memori episodik, dan kontrol kognitif. Sebaliknya, video pendek meningkatkan aktivitas wilayah otak yang bertugas merespons rangsangan baru dari lingkungan sekitar.
Dengan kata lain, otak menjadi sangat baik dalam memperhatikan hal-hal baru, tetapi kurang efektif dalam mengolahnya secara mendalam.
Bayangkan seseorang berada di pasar malam yang penuh lampu warna-warni, suara musik, dan pedagang yang berteriak menawarkan dagangan. Perhatian akan terus berpindah dari satu obyek ke obyek lain. Namun, sangat sedikit yang benar-benar tersimpan dalam ingatan jangka panjang.
Itulah yang tampaknya terjadi ketika kita terus-menerus mengonsumsi video pendek. Otak menjadi mesin pencari perhatian, bukan mesin pembangun pengetahuan.
Penelitian ini bukan yang pertama mengkhawatirkan dampak video pendek terhadap fungsi kognitif manusia. Awal tahun 2026, Meiting Wei dan tim juga menerbitkan studi di jurnal npj Science of Learning.
Mereka menemukan bahwa belajar melalui kumpulan video pendek menghasilkan akurasi memori yang lebih buruk dibandingkan menonton satu video panjang dengan isi yang sama. Pemindaian otak menunjukkan adanya penurunan aktivitas pada jaringan saraf yang berperan dalam integrasi informasi, pemrosesan makna, dan kontrol kognitif.
Perpindahan konteks yang sangat cepat dapat merusak kemampuan otak mempertahankan niat dan tujuan.
Penelitian lain dari Nicholas Barton dan Michael Smyth dari School of Psychological Science, University of Bristol, Inggris, dan tim di jurnal Memory pada 2025 juga menemukan bahwa pergantian konteks yang cepat dalam video pendek mengganggu prospective memory, yaitu kemampuan mengingat sesuatu yang harus dilakukan di masa depan. Para peneliti menyimpulkan bahwa karakteristik utama video pendek, yaitu perpindahan konteks yang sangat cepat, dapat merusak kemampuan otak mempertahankan niat dan tujuan.
Bahkan, eksperimen sebelumnya yang membandingkan Tiktok dengan media lain menunjukkan bahwa kombinasi video singkat dan pergantian konteks yang terus-menerus dapat menurunkan kemampuan seseorang mengingat tugas yang sedang dikerjakannya.
Secara biologis, belajar bukan sekadar menerima informasi. Ketika seseorang memahami sebuah konsep baru, otak harus menghubungkannya dengan pengetahuan yang sudah ada. Jaringan saraf membentuk koneksi baru, memperkuat hubungan lama, lalu menyimpan hasilnya ke dalam memori jangka panjang.
Proses ini membutuhkan waktu. Karena itulah, membaca buku, mendengarkan kuliah, atau menonton dokumenter panjang sering kali terasa lebih lambat dan lebih melelahkan dibandingkan menggulir video pendek. Aktivitas tersebut memaksa otak mempertahankan perhatian pada satu topik dalam waktu cukup lama sehingga informasi dapat diproses secara mendalam.
Sebaliknya, video pendek dirancang untuk mempertahankan keterlibatan pengguna melalui kejutan, perubahan cepat, dan rangsangan baru yang terus-menerus. Sistem ini sangat efektif untuk menarik perhatian, tetapi tidak selalu efektif untuk membangun pemahaman.
Kita menjadi terbiasa menerima informasi sebagai potongan-potongan terpisah, bukan sebagai cerita atau argumen yang utuh.
Temuan-temuan ini tidak berarti video pendek harus dihapus dari dunia pendidikan. Video singkat tetap memiliki fungsi penting. Ia dapat menjadi pintu masuk untuk membangkitkan rasa ingin tahu, menjelaskan konsep sederhana, atau menarik perhatian siswa pada suatu topik.
Namun, masalah bakal muncul ketika video pendek dianggap dapat menggantikan proses belajar yang sesungguhnya. Mengetahui fakta bahwa Sungai Nil mengalir ke Laut Mediterania mungkin dapat dijelaskan dalam 30 detik. Namun, memahami bagaimana sungai itu membentuk peradaban Mesir selama ribuan tahun membutuhkan waktu, konteks, dan penjelasan yang jauh lebih panjang.
Pengetahuan tidak tumbuh dari potongan-potongan informasi yang berdiri sendiri. Pengetahuan lahir ketika potongan-potongan itu terhubung menjadi sebuah struktur yang bermakna.
Masalah bakal muncul ketika video pendek dianggap dapat menggantikan proses belajar yang sesungguhnya.
Mungkin inilah paradoks terbesar zaman digital. Manusia modern memiliki akses ke lebih banyak informasi dibandingkan generasi mana pun dalam sejarah. Dalam hitungan detik kita dapat mempelajari teori relativitas, Revolusi Perancis, atau cara membuat roti.
Namun, semakin cepat informasi datang, semakin sulit kita menyimpannya. Kita hidup di era ketika pengetahuan tersedia tanpa batas, tetapi perhatian menjadi sumber daya yang semakin langka.
Mungkin inilah paradoks terbesar zaman digital. Kita hidup di era paling kaya informasi dalam sejarah manusia, tetapi belum tentu menjadi generasi yang paling memahami dunia. Karena pengetahuan tidak lahir dari seberapa banyak yang kita lihat, tetapi dari seberapa lama kita mampu memberi perhatian.





