Gejolak Ekonomi Indonesia, Masih Baik-baik Sajakah Fondasi Domestik Kita?

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita
Apa yang bisa dipelajari dari artikel ini?
  • Mengapa gejolak pasar keuangan 2026 disebut lebih parah dari era pandemi?
  • Benarkah runtuhnya kepercayaan investor menjadi akar masalah domestik?
  • Bagaimana bantahan otoritas bursa terhadap ketakutan pasar?
  • Apakah hoaks dan pola komunikasi pejabat ikut memperkeruh suasana?
  • Bagaimana dampak nyata kejatuhan rupiah mulai mencekik kelas menengah?
Mengapa gejolak pasar keuangan 2026 disebut lebih parah dari era pandemi?

Pasar keuangan Indonesia memasuki fase yang sangat mengkhawatirkan pada pertengahan tahun 2026. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) dan Bloomberg pada Kamis (4/6/2026), nilai tukar rupiah resmi menembus Rp 18.039 per dolar AS, yang mencatatkan rekor terlemah sepanjang sejarah. Pada saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles 1,7 persen ke level 5.839,78, bahkan sempat menyentuh titik terendah di level 5.655 pada sesi perdagangan pertama. Secara tahun kalender berjalan, IHSG merosot hingga 33,8 persen dan tercatat sebagai indeks dengan performa terburuk secara global.

Kondisi ini terhitung lebih ekstrem jika disandingkan dengan periode awal pandemi Covid-19 tahun 2020. Sepanjang Januari-Mei 2020, rupiah hanya melemah 6,92 persen yang saat itu dipicu oleh penguatan indeks dolar AS (DXY) sebesar 2,02 persen. Namun, pada periode yang sama di tahun 2026, penguatan DXY yang hanya sebesar 0,5 persen justru mampu mendepresiasi rupiah jauh lebih dalam hingga melebihi 7-8 persen. Tim Analis BRI Danareksa Sekuritas juga mencatat bahwa IHSG telah memasuki fase langka berupa penurunan beruntun selama enam bulan (six consecutive red candles), sebuah fenomena ekstrem yang secara historis hanya pernah terjadi saat krisis keuangan global tahun 2008.

Pelemahan yang tidak biasa ini tidak bisa lagi hanya dituduhkan pada faktor eksternal. Sektor luar negeri, seperti tensi geopolitik Timur Tengah yang melambungkan harga minyak dunia dan memicu tren risk-off global, memang menyedot likuiditas dari negara berkembang. Kebutuhan valas musiman untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen di triwulan II juga ikut menekan rupiah. Namun, para ekonom sepakat bahwa kombinasi daya rusak eksternal tersebut menjadi berkali-kali lipat lebih destruktif akibat akumulasi masalah dari dalam negeri sendiri.

Baca JugaPasar Keuangan Ambruk Lebih Dalam dari Pandemi Covid-19
Benarkah runtuhnya kepercayaan investor menjadi akar masalah domestik?

Ekonom senior Indef, Tauhid Ahmad, mengungkapkan bahwa faktor utama masifnya pelarian modal asing, yang mencatatkan arus keluar (outflow) sebesar Rp 69,5 triliun sepanjang Januari-Mei 2026, adalah hilangnya faktor trust (kepercayaan) terhadap kondisi domestik. Investor global mengkhawatirkan kenaikan harga minyak mentah dunia yang berkepanjangan akan langsung menjebol pertahanan fiskal APBN. Sinyal bahaya ini sebelumnya sudah dikonfirmasi secara nyata oleh lembaga pemeringkat internasional, Moody’s Ratings dan Fitch Ratings, yang kompak memotong proyeksi kredit Indonesia menjadi negatif sejak awal tahun.

Pasar juga menyoroti berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai kontradiktif dan mengganggu iklim usaha, salah satunya adalah pemaksaan regulasi ekspor sumber daya alam melalui satu pintu. Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menegaskan bahwa fokus kekhawatiran global saat ini bukan lagi tentang kemampuan Indonesia untuk tumbuh, melainkan pada kredibilitas penegakan hukum dan konsistensi tata kelola otoritas. Investor kini bersikap sangat hati-hati menjelang dua minggu paling krusial, yaitu rangkaian evaluasi indeks dan klasifikasi pasar oleh MSCI serta FTSE Russell pada pertengahan Juni 2026.

Kritik tajam juga disuarakan oleh pakar kebijakan publik, Achmad Nur Hidayat, yang meminta pemerintah berhenti menganggap kejatuhan rupiah sekadar gangguan sentimen sesaat. Pasar terus bergejolak karena meragukan disiplin belanja negara dan independensi kebijakan moneter. Ketika pemerintah terus memaksakan program populis besar tanpa kalkulator fiskal yang transparan, pasar merespons dengan menaikkan premi risiko Indonesia. Akibatnya, imbal hasil (yield) SBN tenor sepuluh tahun merangkak naik ke level 6,82 persen karena investor menuntut pengembalian yang lebih tinggi atas ketidakpastian yang mereka tanggung.

Baca JugaRupiah Sundul Rp 18.000 Per Dolar AS dan IHSG Anjlok, BEI Yakin Fundamental Pasar Masih Bagus
Bagaimana bantahan otoritas bursa terhadap ketakutan pasar?

Di tengah kepanikan pasar yang meluas, Pejabat Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik meminta para investor domestik maupun ritel untuk tetap rasional dan tidak mengambil keputusan secara emosional. Otoritas bursa menegaskan bahwa jika dilihat dari sisi kinerja keuangan perusahaan, fundamental emiten Indonesia sebenarnya berada dalam kondisi yang sangat prima. Hingga akhir tahun 2025, seluruh perusahaan tercatat di bursa berhasil membukukan rata-rata pertumbuhan laba bersih di atas 21 persen.

Kondisi solid ini bahkan berlanjut pada laporan keuangan triwulan I-2026, di mana saham-saham elite kelompok LQ45 mencatatkan pertumbuhan keuntungan bersih yang fantastis hingga 29,9 persen. Lebih dari itu, dari total seluruh perusahaan yang melantai di bursa, sebanyak 80 persen berhasil membukukan laba bersih yang positif. Angka ini merupakan persentase profitabilitas emiten tertinggi dalam lima tahun terakhir, jauh melampaui masa pandemi tahun 2020 yang hanya mencatatkan 63 persen perusahaan untung.

Otoritas bursa juga memastikan bahwa kebijakan perlindungan pasar seperti regulasi pembelian kembali (buyback) saham serta penundaan dan pelarangan transaksi short selling masih berjalan ketat untuk meredam spekulasi. Gejolak pasar dalam beberapa hari terakhir pun dilaporkan tidak mengganggu minat perusahaan baru untuk melantai di bursa (IPO). Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengonfirmasi bahwa terdapat 15 emiten dalam pipeline yang prosesnya tetap berjalan sesuai jadwal (on schedule) menggunakan laporan keuangan per Desember 2025.

Baca JugaRupiah Tembus Rp 18.000, Siap-siap Harga Barang Makin Mahal!
Apakah hoaks dan pola komunikasi pejabat ikut memperkeruh suasana?

Regulator bursa menyayangkan maraknya peredaran informasi tidak akurat di media sosial yang sengaja memanfaatkan kepanikan investor. Salah satu pemicu penurunan tajam bursa dalam beberapa hari terakhir adalah beredarnya sebuah tangkapan layar palsu (hoaks) yang mengumumkan seolah-olah lembaga MSCI telah mendegradasi status pasar modal Indonesia turun kelas dari emerging market (pasar berkembang) menjadi frontier market (pasar perbatasan). Pengumuman palsu tersebut sempat memicu kepanikan massal sebelum akhirnya dibantah secara resmi oleh BEI.

Kondisi psikologis pasar yang telanjur rapuh membuat satu rumor kecil bisa berdampak sangat mahal. Oleh karena itu, para analis mengingatkan pentingnya konsistensi komunikasi kebijakan dari para pejabat negara. Di tengah situasi krisis, pasar sangat sensitif terhadap kontradiksi dan perbedaan sinyal antar-instansi pemerintah. Pernyataan normatif dari pejabat yang hanya mengulang-ulang kalimat bahwa ”fundamental ekonomi kita kuat” terbukti tidak lagi ampuh menenangkan pelaku pasar jika tidak dibarengi dengan transparansi kalkulasi fiskal.

Achmad Nur Hidayat menekankan bahwa dalam kondisi darurat, satu kalimat keliru yang diucapkan oleh pejabat publik dampaknya bisa jauh lebih mahal daripada nilai satu paket intervensi valas yang digelontorkan Bank Indonesia. Pasar membutuhkan kepastian arah, bukan retorika janji politik. Komunikasi kebijakan yang satu pintu, disiplin, dan berbasis data akurat menjadi syarat mutlak agar pelaku pasar tidak terus-menerus menebak-nebak arah kebijakan fiskal dan moneter ke depan.

Baca JugaRupiah Tembus Rp 18.000, IHSG Terjun ke Level 5.600
Bagaimana dampak nyata kejatuhan rupiah mulai mencekik kelas menengah?

Dampak dari ambruknya nilai tukar dan pasar saham kini tidak lagi terjebak di dalam layar monitor para pialang saham, tetapi mulai menjalar ke sektor riil dan mencekik kehidupan sehari-hari masyarakat. Ekonom Celios, Nailul Huda, menjelaskan bahwa depresiasi rupiah yang menembus Rp 18.000 secara otomatis memicu fenomena imported inflation (inflasi dari barang impor). Pelaku usaha yang mengandalkan bahan baku impor terpaksa menaikkan harga jual produk secara umum untuk menutupi kenaikan biaya produksi, yang pada akhirnya memicu inflasi dari sisi biaya (cost-push inflation).

Laporan BPS memperlihatkan tren peningkatan inflasi tahunan pada Mei 2026 yang melonjak hingga 3,08 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan Mei tahun lalu yang hanya berada di angka 1,6 persen. Lonjakan inflasi dan peningkatan suku bunga floating ini menjadi pukulan telak yang menyedot daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah yang konsumsinya banyak terpapar oleh barang-barang terkait impor. Kondisi ini tecermin dari kajian Mandiri Institute yang menemukan bahwa pertumbuhan belanja kelompok menengah melorot dari 6,6 persen menjadi 6 persen, sementara pertumbuhan konsumsi nasional triwulan II-2026 kini praktis hanya ditopang oleh belanja kelompok masyarakat kelas atas yang tumbuh 5,4 persen.

Dampak paling mengkhawatirkan yang ditemukan dalam riset Mandiri Institute adalah fenomena ”makan tabungan” dan ketergantungan pada utang. Penggunaan kartu debit dalam belanja masyarakat tercatat mengalami penurunan sebesar 0,2 persen, yang berbanding terbalik dengan penggunaan kartu kredit yang justru melonjak 0,4 persen pada tahun 2026. Fenomena ini membuktikan hipotesis Milton (Permanent Income Hypothesis), di mana masyarakat kelas menengah terpaksa mengandalkan penarikan kartu kredit sebagai bantalan darurat untuk mempertahankan standar konsumsi harian mereka di saat tabungan mereka sudah mulai menipis akibat impitan polikrisis ekonomi.

Baca JugaRupiah Anjlok Tembus Rp 18.000, Pelaku Usaha di Jawa Barat Terpukul

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tak Hanya Mahir Terbang, Awak Pesawat Kini Diajak Melek Saham: BEI Luncurkan Program “Awak Pesawat Investor Saham”
• 1 jam laluerabaru.net
thumb
Kilang Pengolahan LPG di Gresik Sokong Ketahanan Energi Nasional
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Sparta Pena FC Tundukkan PKDI Madiun 5-3, Bidik Gelar Juara Kapolres Cup HUT Bhayangkara ke-80
• 20 jam lalurealita.co
thumb
‎Singkirkan Alwi Farhan di Indonesia Open 2026, Jonatan Christie Akui Sempat Kesulitan Hadapi Juniornya
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Kebakaran Dekat Rel Tanah Abang Bikin Perjalanan KRL Cikarang-Duri Lumpuh, Penumpang Terancam Telat Masuk Kerja
• 6 jam laluviva.co.id
Berhasil disimpan.