jpnn.com, JAKARTA - Fenomena Taylor Swift tidak hanya menjadi sorotan industri musik dunia, tetapi juga masuk ke ruang akademik.
President University menghadirkan kelas khusus yang mengkaji Taylor Swift secara multidisipliner, mulai dari budaya populer, komunikasi, personal branding, industri kreatif, hingga dampak ekonomi global atau yang dikenal sebagai Swiftonomics.
BACA JUGA: Selebrasi 25 Tahun President University Tegaskan Komitmen Cetak Pemimpin Masa Depan
President University menyebut kelas itu sebagai bagian dari inovasi pembelajaran di pendidikan tinggi.
Kampus tersebut menjadi satu-satunya universitas di Indonesia yang memiliki kelas khusus mengenai Taylor Swift.
BACA JUGA: President University Raih Peringkat Pertama dan Kedua Dunia Versi WURI 2025
"Secara global, kajian tentang Taylor Swift juga telah hadir di sejumlah universitas ternama dunia, seperti Harvard University, Stanford University, dan University of Michigan," kata Dosen pengampu kelas Taylor Swift di President University, Ferawati Natalita, S.H., LL.M., Jumat (5/6).
Kelas Taylor Swift dirancang untuk menghubungkan teori akademik dengan fenomena nyata yang dekat dengan generasi muda.
BACA JUGA: Tahun Ini President University Terima Mahasiswa Baru Dari 14 Negara
Dalam kelas tersebut, mahasiswa tidak hanya membahas Taylor Swift sebagai penyanyi atau figur publik, tetapi juga sebagai fenomena global yang memengaruhi ekonomi, budaya fandom, komunikasi, branding, hingga perilaku sosial masyarakat.
Dosen lulusan Pennsylvania State University itu menjelaskan bahwa kelas ini berfokus pada besarnya pengaruh Taylor Swift dalam berbagai aspek kehidupan modern.
"Ia bukan hanya seorang penyanyi atau pembangun brand. Kami mempelajari perjalanan kariernya, album-albumnya beserta makna di baliknya, pencapaiannya, hingga berbagai gerakannya,” jelasnya.
Menurut Ferawati, mahasiswa juga diajak memahami fenomena Swiftonomics, yakni dampak ekonomi yang muncul dari popularitas Taylor Swift terhadap berbagai sektor industri global.
“Dari sisi ekonomi, ada juga Swiftonomics. Kami juga membahas kontroversi yang pernah muncul, termasuk bagaimana ia meresponsnya melalui lagu-lagunya dan bagaimana ia menjaga konsistensinya,” lanjutnya.
Ferawati menyebutkan, President University ingin menghadirkan pendekatan pembelajaran yang berbeda dan relevan dengan perkembangan zaman. Budaya populer, menurutnya, dapat menjadi objek kajian akademik yang serius karena memiliki pengaruh luas terhadap masyarakat.
“Kami ingin belajar dari hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh banyak orang,” katanya.
Sebagai bagian dari pengembangan diskusi akademik tersebut, President University menggelar Taylor Swift’s Day pada 13 Mei 2026 di Theater, President University Convention Center, Kampus Utama President University, Kota Jababeka, Jawa Barat.
Acara ini menghadirkan Rayhan Mumtaz dari Taylor Swift Indonesia. Dia membahas bagaimana Taylor Swift membentuk komunitas penggemar yang kuat serta memberi pengaruh besar terhadap budaya populer global.
Rayhan mengatakan fenomena Taylor Swift tidak hanya berkaitan dengan musik, tetapi juga koneksi sosial yang terbentuk di antara para penggemarnya.
“Melalui Taylor Swift, saya bisa terhubung dengan lebih banyak orang. Kami bahkan berbicara dengan bahasa yang hanya dipahami sesama Swifties, dan ada rasa kebersamaan dari kesukaan yang sama. Bahkan, sebagian orang menemukan sahabat terbaik mereka melalui komunitas ini,” ujarnya.
Taylor Swift bukan hanya sebagai ikon musik, tetapi juga sebagai studi kasus tentang kekuatan narasi, komunitas, strategi bisnis, komunikasi global, serta dampak sosial dari industri kreatif. (esy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Mahasiswa President University Dipersiapkan Hadapi Dunia Kerja Sejak Dini
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Mesyia Muhammad




