Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mencatat penerimaan pajak mencapai Rp 834,4 triliun atau tumbuh 22,1 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Angka itu tumbuh 22,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang ada di Rp 683,3 triliun.
Purbaya mengatakan hampir seluruh komponen pajak tumbuh. Penerimaan pajak penghasilan (PPh) badan dan deposit PPh badan terealisasi sebesar Rp 167,6 triliun atau tumbuh 23,9 persen.
Kemudian, PPh orang pribadi dan PPh 21 tercatat Rp123,1 triliun atau tumbuh 26 persen. Sementara PPh final, PPh 22, dan PPh 26 terhimpun Rp138,7 triliun atau tumbuh 5,2 persen.
Selain pajak penghasilan, komponen pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) juga mengalami pertumbuhan signifikan sebesar 41,3 persen dengan nilai Rp 315,7 triliun.
“Tahun lalu pertumbuhan pajaknya negatif, sekarang positif,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Jumat (5/6).
Sementara itu, lainnya masih terkontraksi sebesar 6 persen, dengan realisasi senilai Rp 89,3 triliun. Sementara bila ditinjau secara sektoral, sektor perdagangan tumbuh 52,4 persen yang dipengaruhi oleh subsektor perdagangan BBM dan perdagangan daring.
Selanjutnya, sektor industri pengolahan tumbuh 19,7 persen, didukung oleh subsektor industri minyak kelapa sawit yang profitabilitasnya meningkat. Sektor berikutnya yaitu pertambangan tumbuh 28,2 persen berkat pertumbuhan sektor pertambangan migas.
Defisit APBN per Mei 2026 Sebesar Rp 180,4 T atau 0,70 Persen Terhadap PDBPurbaya mengungkapkan APBN hingga Mei 2026 defisit senilai Rp 180,4 triliun. Realisasi itu setara dengan 0,70 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Defisit dapat terjadi jika pendapatan negara lebih kecil dibanding jumlah pengeluaran atau belanja negara.
Tercatat, pendapatan negara sampai April 2026 mencapai Rp 1.185 triliun atau tumbuh 19,1 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sementara belanja negara terealisasi sebesar Rp 1.365 triliun atau tumbuh 34,4 persen yoy.
"Defisit APBN sampai Mei tercatat sebesar Rp 180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap PDB," ungkap Purbaya.
Keseimbangan primer tercatat surplus Rp 58,6 triliun atau tumbuh 69,5 persen yoy.





