Hadapi Pelemahan Rupiah, Industri Farmasi Dongkrak Ekspor

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Untuk menyiasati tekanan ekonomi akibat pelemahan rupiah, perusahaan farmasi di Tanah Air menerapkan beragam strategi, salah satunya dengan mendongkrak nilai ekspor. Langkah ini diterapkan oleh PT Ferron Par Pharmaceuticals, bagian dari Dexa Group. Pada Kamis (4/6/2026), Ferron melepas kontainer ke-150 berisi obat diabetes berteknologi tinggi, metformin sustained release, untuk diekspor ke Inggris, Belanda, dan Polandia.

Direktur Utama PT Ferron Par Pharmaceuticals Benny Sutisna Suwarno mengatakan, pelemahan rupiah berdampak pada industri farmasi. ”Namun, kami tetap bertahan, tinggal bagaimana strateginya. Strategi kami adalah mengencangkan ekspor supaya mendapatkan devisa,” ujar Benny dalam acara pelepasan ekspor di fasilitas produksi Ferron, Cikarang, Jawa Barat, yang turut dihadiri Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar.

Di tengah tekanan ekonomi saat ini, Benny menyebut kenaikan harga obat sebagai sebuah keniscayaan. Hal ini terutama didorong oleh ketergantungan industri farmasi dalam negeri pada bahan baku impor yang harganya melambung, ditambah lonjakan biaya transportasi. Apalagi saat ini, lebih dari 90 persen bahan baku obat masih berasal dari impor.

Baca JugaMenuju Kemandirian Obat Nasional, Obat Tak Harus Mahal

​”Secara logika pasti akan berpengaruh terhadap harga obat karena kita tidak mungkin menjalankan bisnis yang merugi. Jadi, menurut saya, itu sebuah keniscayaan. Namun, ini kembali lagi pada produk dan persaingannya. Kenaikan harga obat adalah suatu proses yang kompleks,” ujar Benny.

Pada produksi yang diekspor Ferron kali ini, komponen utama bahan baku mentahnya mayoritas masih diimpor. Meski demikian, bahan pendukung, seperti material pengemasan, sepenuhnya bersumber dari produk lokal. Sejumlah bahan pembantu produksi obat pun diproduksi di dalam negeri.

Sejak 2015, Ferron juga telah mengantongi sertifikasi Cara Pembuatan Bahan Baku Aktif Obat yang Baik (CPBBAOB) sehingga memiliki lini produksi untuk bahan baku obat, seperti omeprazole, pantoprazole, dan lansoprazole. Di sisi lain, Dexa Group memproduksi bahan baku obat melalui ekstraksi bahan alam—tumbuhan dan hewan—untuk produk fitofarmaka, mulai dari obat diabetes, sakit kepala, jantung, hingga obat pelancar peredaran darah dan penyembuh luka.


Kendati seluruh industri rentan terhadap fluktuasi nilai tukar, pelemahan rupiah saat ini dipastikan tidak berdampak signifikan terhadap Dexa Group. ”Karena kami sangat kuat di pasar domestik, dampaknya belum menyentuh pada penurunan utilitas. Apalagi, kami memiliki strategi menggenjot ekspor. Utilisasi di lini-lini tertentu justru naik. Intinya, dalam setiap krisis, kita harus punya strategi yang tepat supaya perusahaan bisa bertahan,” kata Benny.

Meski tidak menyebutkan nilai spesifiknya, ekspor obat buatan Ferron diklaim berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan perusahaan. Setiap tahun, Ferron mengekspor 8-9 kontainer ke Polandia, Inggris, dan Belanda. Hingga kini, Ferron telah mengirimkan lebih dari setengah miliar tablet ke Eropa. Kawasan tersebut sekaligus menjadi tujuan ekspor andalan bagi Dexa Group.

”Dexa Group sangat kuat di mancanegara, bukan hanya Eropa. Eropa itu hanya sebagian kecil, sementara porsi kita ke kawasan ASEAN, Timur Tengah, dan Afrika justru sangat besar. Kami merambah ke Eropa karena tantangannya tinggi; banyak perusahaan multinasional masuk ke sana. Walaupun tidak mudah, kami berhasil bersaing dari segi harga dan kualitas,” tambahnya.

Kepercayaan global

Konsistensi Ferron dalam mengekspor produknya selama 18 tahun menjadi bukti konkret kemampuan industri farmasi Indonesia dalam memenuhi standar global. Fasilitas produksi Ferron di Cikarang telah memperoleh sertifikasi UK-MHRA dan EU-GMP, dua standar penting di kancah internasional. Sertifikasi ini menjadi landasan kepercayaan bagi keberlanjutan ekspor Ferron ke Eropa selama hampir dua dekade.

Sejak 2008, Ferron rutin mengirimkan produknya ke ”Benua Biru”. Ke depan, perusahaan ini bertekad merambah ekspor produk lain, seperti lini injeksi dan injeksi onkologi. Benny menuturkan, keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan BPOM yang konsisten melakukan pengawasan, pembinaan, serta memberikan fasilitas yang diperlukan industri.

”Kami dari BPOM ingin membantu pemerintah semaksimal mungkin agar pelemahan rupiah tidak berdampak signifikan terhadap ketersediaan bahan baku. Harapannya, kondisi ini juga tidak memukul industri farmasi kita,” kata Kepala BPOM RI Taruna Ikrar.

Baca JugaPamor Moncer Obat Bahan Alam Indonesia di Pasar Global

Taruna menegaskan, BPOM berkomitmen menjaga agar pelemahan rupiah tidak mendongkrak harga obat nasional secara liar. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melonggarkan aturan bagi industri untuk mengganti pemasok bahan baku tanpa harus melewati proses perizinan yang panjang. Dengan demikian, perusahaan dapat lebih fleksibel mencari sumber bahan baku alternatif dari negara lain dengan harga yang kompetitif.

BPOM juga menyiapkan regulasi terkait perubahan kemasan bahan baku guna mempermudah industri. ”Hal-hal yang tidak mutlak memerlukan kemasan etiket atau label fisik—yang tentu memakan biaya—bisa diganti dengan e-labeling. Aturannya sedang berproses dan beberapa sudah saya tanda tangani,” tuturnya.

Data Kementerian Perindustrian mencatat, nilai ekspor industri farmasi dan obat bahan alam Indonesia menembus 639,42 juta dolar AS sepanjang periode Januari hingga September 2024. ”Kita ingin industri tidak sekadar menjadi raja di negeri sendiri, tetapi juga tamu terhormat di mancanegara. Oleh karena itu, BPOM akan memberikan dukungan lebih besar, khususnya kepada Ferron, Dexa Medica, dan tentu saja industri-industri farmasi kita lainnya yang andal. Total, kita memiliki 272 industri,” kata Taruna.

Taruna menambahkan, pencapaian Ferron membuktikan bahwa Indonesia bukan sekadar importir, melainkan telah mampu mengekspor obat-obatan hingga ke pasar Eropa. Hal ini diyakini akan memperkuat ekonomi nasional melalui penerimaan devisa sekaligus menegaskan makin tingginya kepercayaan internasional terhadap kualitas produk Indonesia.

Status World Health Organization Listed Authority (WLA) yang telah diraih BPOM turut memperkuat kepercayaan pasar global terhadap industri farmasi nasional. WLA merupakan pengakuan WHO bagi otoritas regulatori yang memiliki sistem pengawasan obat berstandar internasional. Melalui status ini, Indonesia masuk dalam jaringan global WLA yang mencakup 41 otoritas regulator dari 39 negara. Kredibilitas sistem regulasi Indonesia yang diakui dunia ini menjadi modal berharga bagi industri farmasi nasional.

Menurut Taruna, Indonesia saat ini berada pada fase krusial untuk memperkokoh perannya sebagai produsen produk kesehatan berkualitas global. Sejumlah strategi disiapkan untuk menekan ketergantungan bahan baku obat impor yang masih berkisar 90 persen.

Pemerintah berupaya mendorong kemandirian bahan baku, salah satunya lewat kemudahan bagi industri dalam meragamkan sumber pasokan dari beberapa negara. Sebagai contoh, industri yang selama ini bergantung kepada China dan Eropa dipermudah untuk mencari pasokan dari India atau negara lainnya. ”Karena setiap negara atau benua memiliki keunggulannya tersendiri,” katanya.

Di samping itu, pemerintah mendorong produksi bahan baku obat bersumber dari sumber daya alam lokal melalui insentif bagi industri yang melakukan ekstraksi bahan alam. Kuantitas uji klinis juga akan didorong. ”Setiap jenis obat memiliki paten atau intellectual property. Agar kita bisa beradaptasi dengan hal tersebut, kita akan berfokus pada tahap hilir pengembangannya, yaitu uji klinis. Oleh karena itu, kami ingin jumlah uji klinis di negeri kita meningkat,” kata Taruna.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Prof Hasmyati Soroti Masa Depan Olahraga Rakyat di Era AI pada Forum Akademik Internasional
• 10 jam laluharianfajar
thumb
Berkat PNM Mekaar, Nasabah di Pesisir Sorong Bisa Sekolahkan Anak-Renovasi Rumah
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Wamendagri Dorong Pemda Maluku Optimalkan Potensi Maritim
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
PTBA Siapkan Kajian Komprehensif Dukung Implementasi Skema Ekspor Baru DSI
• 11 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Hasil Piala AFF U19 2026: Indonesia Bungkam Timor Leste 3-0, Tempel Ketat Vietnam di Klasemen
• 22 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.