Jakarta (ANTARA) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memandang animo perusahaan untuk melakukan initial public offering (IPO) di pasar modal tetap terjaga, dengan 15 perusahaan masuk dalam antrean (pipeline) hingga akhir Mei 2026 dengan nilai indikatif Rp3,67 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi mengatakan perusahaan-perusahaan tersebut diharapkan dapat melangsungkan IPO pada tahun ini setelah mengajukan permohonan pernyataan pendaftaran.
“Ke depan, kita harapkan akan kembali mengundang minat perusahaan untuk melakukan penghimpunan modal melalui proses IPO yang kita harapkan dari waktu ke waktu akan mengalami peningkatan dan pertumbuhan kembali,” kata Hasan dalam konferensi pers hasil RDKB Mei 2026 di Jakarta, Jumat.
Ia menjelaskan bahwa secara umum, OJK tetap aktif melakukan berbagai upaya untuk mendorong minat perusahaan memanfaatkan pasar modal melalui penawaran umum perdana (IPO), yang dapat menjadi alternatif pendanaan jangka panjang bagi kegiatan usaha perusahaan.
Menurut Hasan, OJK secara rutin menyelenggarakan program sosialisasi dan edukasi kepada calon emiten dari berbagai daerah, sektor, dan skala usaha, termasuk perusahaan menengah serta perusahaan dengan potensi pertumbuhan tinggi.
Kegiatan tersebut dilakukan melalui program sosialisasi, coaching clinic, dan forum diskusi bersama pelaku pasar guna memberikan pemahaman mengenai manfaat IPO, mekanisme dan teknis pencatatan saham, serta berbagai persiapan yang diperlukan untuk menjadi perusahaan terbuka.
Hasan menambahkan, OJK bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) juga menjalankan program pengembangan finansial daerah menuju IPO melalui coaching clinic yang melibatkan profesi penunjang pasar modal.
Program tersebut bertujuan membantu perusahaan yang menghadapi hambatan dalam proses IPO sekaligus meningkatkan kesiapan dari aspek tata kelola, pelaporan keuangan, struktur organisasi, dan kepatuhan lainnya yang menjadi persyaratan utama sebelum perusahaan dapat melakukan penawaran saham melalui IPO.
Selain itu, OJK saat ini juga tengah melakukan kajian terhadap regulasi penawaran umum, termasuk penyederhanaan dokumen penawaran umum. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mempercepat proses penawaran umum tanpa mengurangi kualitas perusahaan tercatat.
Baca juga: BEI dorong perusahaan sektor ekonomi kreatif gelar IPO di pasar modal
Baca juga: Danantara ingin holding proyek PSEL bisa IPO pada 2028
Baca juga: BEI catat 11 perusahaan skala besar siap IPO di pasar modal RI
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi mengatakan perusahaan-perusahaan tersebut diharapkan dapat melangsungkan IPO pada tahun ini setelah mengajukan permohonan pernyataan pendaftaran.
“Ke depan, kita harapkan akan kembali mengundang minat perusahaan untuk melakukan penghimpunan modal melalui proses IPO yang kita harapkan dari waktu ke waktu akan mengalami peningkatan dan pertumbuhan kembali,” kata Hasan dalam konferensi pers hasil RDKB Mei 2026 di Jakarta, Jumat.
Ia menjelaskan bahwa secara umum, OJK tetap aktif melakukan berbagai upaya untuk mendorong minat perusahaan memanfaatkan pasar modal melalui penawaran umum perdana (IPO), yang dapat menjadi alternatif pendanaan jangka panjang bagi kegiatan usaha perusahaan.
Menurut Hasan, OJK secara rutin menyelenggarakan program sosialisasi dan edukasi kepada calon emiten dari berbagai daerah, sektor, dan skala usaha, termasuk perusahaan menengah serta perusahaan dengan potensi pertumbuhan tinggi.
Kegiatan tersebut dilakukan melalui program sosialisasi, coaching clinic, dan forum diskusi bersama pelaku pasar guna memberikan pemahaman mengenai manfaat IPO, mekanisme dan teknis pencatatan saham, serta berbagai persiapan yang diperlukan untuk menjadi perusahaan terbuka.
Hasan menambahkan, OJK bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) juga menjalankan program pengembangan finansial daerah menuju IPO melalui coaching clinic yang melibatkan profesi penunjang pasar modal.
Program tersebut bertujuan membantu perusahaan yang menghadapi hambatan dalam proses IPO sekaligus meningkatkan kesiapan dari aspek tata kelola, pelaporan keuangan, struktur organisasi, dan kepatuhan lainnya yang menjadi persyaratan utama sebelum perusahaan dapat melakukan penawaran saham melalui IPO.
Selain itu, OJK saat ini juga tengah melakukan kajian terhadap regulasi penawaran umum, termasuk penyederhanaan dokumen penawaran umum. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mempercepat proses penawaran umum tanpa mengurangi kualitas perusahaan tercatat.
Baca juga: BEI dorong perusahaan sektor ekonomi kreatif gelar IPO di pasar modal
Baca juga: Danantara ingin holding proyek PSEL bisa IPO pada 2028
Baca juga: BEI catat 11 perusahaan skala besar siap IPO di pasar modal RI





