Gaza: Rencana Israel untuk memperluas cakupan wilayah kendalinya hingga mencapai 70 persen di Jalur Gaza memicu kekhawatiran besar bagi warga Palestina yang tinggal di sekitar kawasan pembatas yang disebut garis kuning.
Mereka mengatakan bahwa penyusutan ruang aman bagi warga sipil tersebut membuat wilayah yang tersisa kini menjadi semakin tidak layak huni.
Garis kuning sendiri merupakan penanda batas yang memisahkan wilayah di bawah kendali militer Israel di Gaza timur dengan zona pergerakan bebas warga Palestina di sisi lebih barat.
Pada Kamis pekan lalu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka mengakui bahwa militer Israel saat ini telah menguasai sekitar 60 persen wilayah Gaza dan mengungkap rencana untuk memperluas penguasaan tersebut hingga mencapai 70 persen.
Sejarah penandaan ini bermula sejak 20 Oktober tahun lalu, di mana militer Israel mulai menempatkan blok beton berwarna kuning di sepanjang garis tersebut. Garis ini muncul pascapenghalauan gelombang pertama pasukan Israel dari sebagian wilayah Gaza, yang didasarkan pada kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada awal bulan yang sama.
Kondisi memprihatinkan terlihat di dekat garis sebelah timur Khan Younis, di mana para penduduk melaporkan bahwa kehadiran tank, buldoser, serta intensitas tembakan harian militer Israel telah mengubah kehidupan mereka menjadi perjuangan konstan untuk bertahan hidup.
Seorang warga Palestina bernama Abdullah al-Astal menyampaikan kepada Anadolu mengenai kondisi warga yang kini sudah terjebak di area yang sangat sempit.
“Tidak ada lagi tempat untuk pergi. Orang-orang sudah terjebak di area yang sangat kecil,” ujar Al-Astal, seperti dikutip Anadolu, pada Jumat, 5 Juni 2026.
Al-Astal yang bermukim dekat dengan garis pembatas menjelaskan bahwa tank-tank Israel secara rutin mengawal buldoser untuk meruntuhkan rumah-rumah warga di sekitar lokasi, sementara rentetan tembakan dari kendaraan militer dan pesawat tanpa awak drone hampir tidak pernah berhenti.
Al-Astal menunjuk ke arah rumah-rumah tetangganya yang terluka akibat tembakan Israel dan mengkhawatirkan keselamatan jiwanya yang bisa terancam kapan saja.
Rangkaian kekhawatiran serupa juga membayangi para pengungsi Palestina yang takut jika perluasan garis pembatas ini akan membuat ratusan ribu warga sipil terkurung di area yang lebih sempit dan padat pascagelombang pengungsian yang berulang.
Al-Astal mempertanyakan ke mana lagi masyarakat harus mengungsi jika garis kuning tersebut terus meluas, mengingat sudah tidak ada lagi tempat yang aman di seantero Gaza.
Keluhan senada turut disuarakan oleh Hamdi Malaka, seorang warga yang menetap di lingkungan Zeitoun, Kota Gaza. Ia mendesak pihak Israel untuk berterus terang jika memang berniat menduduki seluruh wilayah Gaza ketimbang terus memperdebatkan masalah garis pembatas kuning maupun merah.
Malaka menceritakan bahwa lingkungan tempat tinggalnya kini sudah hancur lebat akibat perang, dengan pemandangan rumah yang runtuh serta tumpukan puing bangunan yang mengepung area pemukiman warga.
“Kami sudah berada dekat dengan garis kuning. Jika garis itu bergeser lebih jauh, kami akan berakhir di dalamnya,” kata Malaka.
Saat ini, ratusan ribu warga Palestina dipaksa bertahan hidup di tenda-tenda pengungsian yang sangat padat dengan kondisi kekurangan pasokan makanan, air bersih, serta akses layanan kesehatan yang parah.
Para penduduk memperingatkan bahwa setiap kebijakan yang mengurangi ruang hidup warga sipil dipastikan akan memicu gelombang pengungsian baru, sekaligus memberikan tekanan yang jauh lebih berat pada infrastruktur Gaza yang sudah lumpuh.
Merespons ancaman perluasan wilayah tersebut, kelompok Palestina Hamas pada pekan lalu telah menyerukan kepada Dewan Perdamaian untuk mengambil sikap tegas terkait pernyataan Israel yang berencana menguasai 70 persen wilayah Gaza.
Berdasarkan data statistik otoritas Palestina, agresi genosida yang dilancarkan Israel di Gaza sejak Oktober 2023 lalu telah menewaskan hampir 73.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 173.000 orang, di mana sebagian besar korban merupakan kelompok perempuan dan anak-anak.
Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah resmi diberlakukan sejak 10 Oktober 2025, data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat militer Israel tetap membunuh 947 warga Palestina dan melukai 2.935 orang lainnya dalam rangkaian serangan harian yang terus terjadi.
(Kelvin Yurcel)




