Bagi masyarakat Indonesia yang lahir pada 1990-an, beyblade atau gasing modern ala Jepang sudah tidak asing di telinga. Permainan ini ramai dimainkan anak-anak pada 2000-an. Puncaknya saat animasi beyblade disiarkan di televisi nasional.
Permainan yang dimainkan dengan cara menarik beyblade dari peluncurnya itu kini mulai kembali digemari. Para pemain pun kini bukan hanya anak-anak, orang dewasa hingga lansia turut ikut bermain beyblade.
”Show your bey,” ujar wasit saat memerintahkan kedua peserta yang akan bertanding untuk memperlihatkan beyblade mereka masing-masing.
”Three, two, one, lets shoot!” lanjut wasit, menandakan kedua beyblade peserta telah saling beradu di dalam arena bernama stadium pada kompetisi yang diadakan komunitas Beyjaxel di M Bloc, Jakarta, Kamis pertengahan Mei 2026.
”Bermain beyblade ini, kan, hubungannya muscle memory, ya. Jadi, saat akan bertarung dengan pemain lain kita lihat dulu kombinasi beyblade yang akan mereka gunakan. Dari sepersekian detik itu, kita harus memutuskan akan bermain seperti apa. Itu semua tergantung dari cara kita menarik peluncur,” ungkap Jefri.
Saat ini, bukan hanya Jefri saja yang bermain beyblade, istri dan kedua anaknya turut bermain dan menjadi anggota komunitas Beyjaxel. Bukan hanya Jefri yang bermain beyblade sekeluarga, Maisie (37) beserta suaminya, Heraldo (39), dan kedua anaknya, Erel (9) dan Eren (8), turut menjadi pemain beyblade.
Maisie baru mulai bermain beyblade pada 2024 saat ia selalu mengantar suami dan kedua anaknya bermain beyblade. Karena bosan hanya selalu melihat, Maisie mencoba untuk bermain. Keseruan saat melihat beyblade miliknya saling beradu dengan milik orang lain membuat ia keterusan menjalani permainan ini.
Maisie bersyukur anak-anaknya memiliki hobi yang sama dengan dirinya. Hobi ini menjadi perekat keluarga mereka saat berada di rumah ataupun luar rumah.
”Sekarang kalau di rumah kita bermain beyblade sekeluarga, saling taruhan, yang kalah cuci piring misalkan. Selain itu, beyblade juga akhirnya jadi family time kita kalau setiap akhir pekan keluar rumah. Jadi, ga perlu bingung lagi mau ke mana,” kata Maisie.
Beyblade telah mengajarkan banyak hal untuk kedua anak Maisie, mulai dari cara bagaimana berteman hingga menjalin relasi dengan orang yang umurnya lebih dewasa.
”Permainan ini setidaknya dapat mengurangi waktu bermain ponsel Erel dan Eren,” ujarnya.
Beyblade juga menjadi wahana untuk mempererat Eli (86) dengan cucunya Adriel (34). Eli menjadi pemain beyblade tertua di komunitas Beyjaxel, bahkan mungkin se-Jakarta. Hampir setiap minggu Eli bersama cucunya Adriel datang untuk bermain beyblade. Walau sudah berumur, kemampuan Eli menarik beyblade dari peluncurnya masih diwaspadai pemain lain.
”Oma ini sangat kompetitif, bahkan lebih kompetitif dia daripada saya. Kalau saya cuman suka beyblade karena bentuknya aja lucu-lucu,” ujar Adriel.
”Iya, kalau kalah, saya suka kesal,” ujar Eli meneruskan perkataan cucunya.
Permainan ini menjadi pengisi waktu-waktu tua Eli. Walaupun baru bermain sejak tahun kemarin, Eli sudah sangat menyukai permainan ini. Namun, umurnya yang sudah tidak lagi muda membuat ia harus bergantung kepada Adriel untuk mengantarkannya menuju tempat-tempat komunitas beyblade.
Ketua Komunitas Beyjaxel Ardhitia Bayu atau akrab dipanggil Abe mengatakan, kini di komunitasnya sudah ada hampir 500 anggota beyblade yang aktif. Pada kompetisi hari ini saja lebih dari 100 orang yang mendaftar. Menurut Abe, para peminat beyblade terus naik sejak 2023.
Permainan yang dulu hanya terlihat untuk anak kecil itu berubah menjadi permainan segala usia. Setiap putaran gasing ala Jepang itu mempererat tali persahabatan dan kekerabatan.





