Lanskap dunia kerja kini berubah. Gelombang pemutusan hubungan kerja di mana-mana sehingga membuat pelambatan perekrutan karyawan. Profesi baru bermunculan. Persaingan kerja semakin ketat. Biaya hidup di masa depan juga semakin besar.
Semua itu menyebabkan keputusan mengundurkan diri tanpa rencana cadangan atau dengan ada pekerjaan sampingan dulu menjadi taruhan yang jauh lebih besar dibandingkan beberapa tahun lalu.
Amalia (23) asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, baru saja memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan pertamanya sebagai teller suatu bank di Banjarmasin. Padahal, di pekerjaan ini, dia baru bekerja selama enam bulan.
Dia mengakui belum ada tawaran pekerjaan baru ataupun pekerjaan sampingan untuk menopang kehidupannya setelah mengundurkan diri sebagai teller. Sejumlah rekan kerja dan lingkungan sekitarnya sempat meragukan, tetapi ia merasa keputusannya cukup bulat.
”Jalur karier di sana tidak membantu saya mencapai target finansial ataupun karier yang saya mau. Jadi, saya rasa wajar kalau saya mengundurkan diri,” kata Amalia saat dihubungi Jumat (29/5/2026) dari Jakarta.
Menurut Amalia, generasi muda seperti dirinya cenderung melihat pekerjaan berdasarkan keseimbangan antara hasil yang diperoleh dengan waktu dan tenaga yang dikeluarkan. Jika keduanya tidak sepadan, kemungkinan besar mereka lebih memilih mencari peluang lain yang dianggap lebih sesuai dengan tujuan dan kualitas hidup yang diinginkan.
”Aku beruntung karena mempunyai keistimewaan berupa orangtua yang masih kuat bekerja,” katanya.
Wilda (24) asal Lamongan, Jawa Timur, memiliki cerita yang mirip. Seusai lulus kuliah di Surabaya, dia sempat mendapatkan pekerjaan jarak jauh untuk mengelola acara organisasi nonpemerintah milik salah satu diaspora Indonesia di London. Sayangnya, pekerjaan ini hanya bertahan dua bulan.
Ia mengakui sempat terlalu percaya diri karena selama kuliah aktif magang dan menjadi sukarelawan, bahkan beberapa kali memperoleh penghasilan dari program magang. Pengalaman tersebut membuatnya berpikir proses mendapatkan pekerjaan baru tidak akan sulit. Kenyataannya, ia berulang kali gagal dalam proses wawancara kerja.
Meski sempat mendapat tawaran menjadi guru les untuk mengisi waktu di sela mencari pekerjaan baru, ia menolaknya. Dia beralasan ingin fokus membangun karier korporasi. Belakangan, keputusan itu diakuinya sebagai kesalahan.
”Kondisi keuangan keluarga tidak bisa dibilang mapan sekali. Ayah meninggal dunia, lalu kondisi ekonomi keluarga memburuk akibat usaha penggilingan padi keluarga yang terdampak kesalahan bisnis sejak masa pandemi. Ibu tidak bekerja dan adik masih kuliah sehingga kebutuhan keluarga banyak ditopang oleh kakak saya yang sudah bekerja sebagai dokter hewan,” kata Wilda.
Saat menganggur, kakak Wilda yang membantu keuangannya ketika tabungan dia semakin menipis. Wilda merasa bersalah karena menyusahkan kakaknya.
Kini, dia sudah kembali bekerja sebagai karyawan. Kantornya bergerak di industri modal ventura.
Kalau Amalia dan Wilda mempunyai pengalaman tanpa back up plan, Klara sebaliknya. Saat ini dia berusia 28 tahun dan bekerja sebagai public relations specialist di perusahaan properti di Tangerang.
Klara mengaku telah enam tahun berkarier dan berpindah tempat kerja sebanyak lima kali. Dari lima perpindahan tersebut, tiga kali dilakukan atas keputusan sendiri dan dua kali akibat pemutusan hubungan kerja (PHK). Menurut dia, berpindah tempat kerja karena mengundurkan diri umumnya muncul karena merasa kariernya stagnan, baik dari sisi pengembangan keterampilan maupun penghasilan.
Pengalaman mengundurkan diri yang paling berkesan terjadi saat ia beralih profesi dari reporter ke bidang UI/UX yang saat itu sedang berkembang pesat. Meski tertarik berpindah karier, ia tidak memilih resign tanpa persiapan atau hanya mengandalkan sokongan finansial orangtuanya.
Karena itu, sambil bekerja sebagai reporter, ia mengikuti bootcamp UI/UX selama enam bulan pada malam hari dan membagi waktu antara pekerjaan penuh waktu dan proses belajar. Hasilnya, ia berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai UI/UX Designer sebelum mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai reporter.
”Ada lagi pengalaman saya mengundurkan diri karena saya merasa karier di kantor stagnan. Cuma, aku tidak langsung mengajukan surat pengunduran diri, tetapi coba lamar ke sana-kemari, bahkan sempat melakoni pekerjaan sampingan secara total sampai akhirnya dapat tawaran baru. Setelah itu, saya berani resign,” kata Klara.
Sejalan dengan cerita ketiganya, di media sosial Tiktok sudah sebulan terakhir ramai pembicaraan konten mengenai mengundurkan diri tanpa versus ada rencana cadangan. Konten-konten tersebut dibuat oleh anak muda, sekitar usia 20-an tahun atau gen Z. Ada yang membagikan alasan di balik keputusan itu demi kesehatan mental. Ada pula yang bercerita kalau keputusan tersebut berat dijalani, tetapi akhirnya berani melangkah lagi setelah mengetahui trik melamar pekerjaan baru yang lebih baik.
Tetap berhati-hati
Fenomena itu bisa ditarik dari kacamata pengelolaan keuangan. William Sudhana, Builder Kumpul Leaders, berpendapat, pekerja muda yang ingin mengundurkan diri sebagai karyawan perusahaan tetap perlu berhati-hati. Kalau merasa ingin mengundurkan diri karena sudah punya pekerjaan sampingan (side hustle), dia menekankan kalau penghasilan dari side hustle pada dasarnya bersifat variabel sehingga bisa naik maupun turun secara signifikan.
Oleh karena itu, sebelum memutuskan meninggalkan pekerjaan utama, seseorang perlu memastikan bahwa pekerjaan sampingan yang dijalankan benar-benar sudah stabil dan memiliki pengelolaan bisnis yang solid,” ujarnya di sela-sela menghadiri acara Manager Fest 2026, Sabtu (16/5/2026), di Jakarta.
Ia menilai gaji sebagai karyawan merupakan sumber pendapatan tetap yang tidak seharusnya dilepas begitu saja apabila fondasi side hustle belum kuat. Pengalamannya saat beralih dari dunia korporat ke wirausaha menunjukkan bahwa tidak ada jaminan keberhasilan ketika seseorang memutuskan ”melompat” menjadi pengusaha. Fokus awalnya bukan mengejar keuntungan besar, melainkan memastikan dirinya mampu bertahan hidup dan menjaga keberlangsungan usaha.
William juga menekankan pentingnya mengubah pendapatan usaha yang semula tidak menentu menjadi lebih terstruktur. Salah satu caranya adalah dengan menggaji diri sendiri secara rutin dari bisnis yang dijalankan, lalu memisahkan keuntungan perusahaan sebagai dividen bagi pemilik usaha. Menurut dia, pemisahan yang tegas antara keuangan pribadi dan keuangan bisnis merupakan syarat penting agar usaha dapat berkembang sehat dan tidak menimbulkan masalah keuangan di kemudian hari.
CEO @MamaBer.UANG, Ayu Sara Herlia-Hinch, memiliki pandangan senada. Menurut dia, sebelum memutuskan mengundurkan diri dari kantor lama dan beralih sepenuhnya ke pekerjaan baru, mengandalkan side hustle atau usaha sendiri yang sudah dirintis, seseorang harus menghitung secara menyeluruh nilai kompensasi yang diterima sebagai karyawan.
”Jangan hanya melihat gaji pokok. Misalnya, gaji bulanan Rp 6 juta, tetapi masih ada tunjangan hari raya (THR), bonus kinerja, asuransi kesehatan, jaminan sosial ketenagakerjaan, hingga program dana pensiun. Jika seluruh manfaat tersebut dihitung, bisa jadi nilai kompensasi yang diterima setara dengan pendapatan sekitar Rp 8 juta per bulan atau bahkan lebih,” ujar dia, yang juga ditemui di acara Manager Fest 2026.
Dengan kata lain, seandainya seseorang karyawan sudah memiliki pekerjaan sampingan yang menghasilkan pendapatan sekitar Rp 8 juta per bulan secara konsisten selama minimal enam bulan berturut-turut, barulah ia bisa mulai mempertimbangkan apakah layak meninggalkan pekerjaan korporat dan beralih sepenuhnya pekerjaan sampingan tersebut.
”Stabilitas pendapatan perlu menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan meninggalkan pekerjaan tetap sebagai karyawan di kantor lama,” ucap Ayu Sara.
Saat dihubungi Senin (1/6/2026) di Jakarta, dosen Prodi Ketahanan Nasional Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia (UI), Puspitasari, berpendapat, pekerja gen Z berani ambil keputusan mengundurkan diri tanpa rencana cadangan biasanya terjadi pada mereka yang punya keistimewaan kapital ekonomi dan sosial. Keluarga menjadi jaring pengaman sosial bagi mereka sehingga mereka tidak khawatir kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan lagi.
”Keluar dari pekerjaan bagi mereka tidak menjadi masalah. Sebab, mereka percaya akan mendapat peluang berkat kapital sosial berupa koneksi dan jaringan yang dimiliki orangtua. Secara finansial juga mereka memiliki sandaran pada kapital ekonomi keluarga sehingga berhenti bekerja tidak menjadikan mereka kehilangan sumber pendapatan,” paparnya.
Menariknya, lanjut Puspitasari, media sosial terutama Tiktok menampilkan hanya satu sisi gambaran, yaitu tentang keberanian untuk mengundurkan diri. Hal lain yang tidak ditangkap orang adalah ada ketidakpastian yang tinggi dalam dunia kerja sehingga mendorong angkatan kerja generasi Z untuk mengundurkan diri.
Di sisi lain, media sosial menyajikan satu hal yang meninabobokkan dan tidak mendorong orang untuk berpikir kritis, seperti menyoal perlunya memiliki skenario ketahanan finansial jika mengundurkan diri.
”Soal kerja atau tidak, media sosial membuat topik ini disederhanakan dan direduksi menjadi sebatas urusan kenyamanan personal,” katanya.
Ekonom ketenagakerjaan dari Inggris, Guy Standing, pernah berpendapat tentang kelas prekariat. Ini adalah pekerja yang tidak mempunyai kepastian jalur karier, bekerja berdasarkan sistem kontrak temporer, dan tidak punya identitas profesional yang jelas.
Barangkali, sekarang adalah eranya resign sebagai pilihan yang rasional di tengah sistem ketenagakerjaan yang tidak menawarkan kejelasan kerja layak.





