Dari Peneleh ke Istana: Jejak Gemblengan Tjokroaminoto pada Sukarno

liputan6.com
12 jam lalu
Cover Berita

Liputan6.com, Jakarta - Bangunan berkelir hijau di Jalan Peneleh Gang VII, Surabaya, kini berdiri sebagai ruang penanda sejarah. Namun sekitar satu abad silam, seorang remaja bernama Sukarno ditempa oleh HOS Tjokroaminoto.

Bagi Sukarno muda, Tjokroaminoto bukan sekadar pengajar yang mewariskan pengetahuan. Ia adalah teladan hidup.

Advertisement

BACA JUGA: Bonnie Triyana Inisiasi Bulan Bung Karno 2026 di Banten, Ajak Masyarakat Ramaikan

"Pak Tjokro mengajarku tentang apa dan siapa dia, bukan tentang apa yang ia ketahui ataupun tentang apa jadiku kelak. Seorang tokoh yang mempunyai daya cipta dan cita-cita tinggi, seorang pejuang yang mencintai tanah tumpah darahnya. Pak Tjokro adalah pujaanku. Aku muridnya," kata Sukarno dalam autobiografinya yang disusun oleh Cindy Adams 'Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat'.

Sukarno muda tahu ia sedang ditempa. Tjokroaminoto memberinya akses kepada buku-buku yang paling berharga yang dimilikinya. Bukan bermain, seluruh waktunya digunakan untuk membaca, larut dalam perenungan dan dialog batin dengan gagasan-gagasan yang ditemuinya.

"Secara mental aku berbicara dengan Thomas Jefferson. Aku merasa dekat dan bersahabat dengan dia karena dia bercerita kepadaku tentang Declaration of Independence yang ditulisnya pada tahun 1776. Aku memperbincangkan persoalan George Washington dengan dia. Aku mendalami lagi perjalanan Paul Revere. Aku dengan sengaja mencari kesalahan-kesalahan dalam kehidupan Abraham Lincoln sehingga aku dapat mempersoalkan hal ini dengan dia," kata Sukarno.

"Di dalam dunia pemikiranku aku pun berbicara dengan Gladstone dari Britania, ditambah dengan Sidney dan Beatrice Webb yang mendirikan Gerakan Buruh Inggris. Aku berhadapan muka dengan Mazzini, Cavour, dan Garibaldi dari Italia. Aku berhadapan dengan Otto Bauer dan Adler dari Austria," lanjutnya.

"Aku berhadapan dengan Karl Marx, Friedrich Engels, dan Lenin dari Rusia, dan aku mengobrol dengan Jean-Jacques Rousseau, Aristide Briand, dan Jean Jaurès, ahli pidato terbesar dalam sejarah Prancis," kata Sukarno.

Pelajaran tentang pengadilan rakyat di Yunani kuno menjelma lebih dari sekadar materi sekolah bagi Sukarno muda yang saat itu tengah menempuh pendidikan di Hoogere Burger School (HBS).

Di kepalanya, kisah itu berubah menjadi panggung besar yang dipenuhi para pemikir, negarawan, dan orator yang beradu gagasan tentang keadilan dan kebebasan.

"Aku membayangkan pemikir-pemikir yang sedang marah selagi berpidato dan meneriakkan semboyan-semboyan seperti 'Persetan dengan Penindasan' dan 'Hidup Kemerdekaan'. Hatiku terbakar menyala-nyala," kata Sukarno.

Sukarno muda kerap menjadikan kamar sempitnya sebagai mimbar pidato. Berdiri di atas meja yang bergoyang, ia melontarkan kata demi kata dengan penuh penghayatan, seolah sedang berbicara di hadapan ribuan orang.

“Hai, No, kau gila? Ada apa? Hei, apa kau sakit?”

Kemudian tukang-tukang sorak itu kembali pada jawabannya sendiri,

“Ah, tidak ada apa-apa. Cuma si No mau menyelamatkan dunia lagi.”

Satu demi satu pintu-pintu menutup lagi dan membiarkan aku sendiri dalam kegelapan.

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Harga Minyak Indonesia Turun ke 106,56 Dolar AS, Dipicu Meredanya Ketegangan Geopolitik
• 6 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
4 Arti Mimpi Uang Dolar, Bisa Jadi Pertanda Baik Sekaligus Sinyal Bahaya buat Keuangan
• 11 jam lalugrid.id
thumb
Bongkar Gudang Penyimpanan Kosmetik Impor Ilegal di Tangerang, BPOM Ungkap Modus Operandi dan Peredaran
• 22 jam lalurctiplus.com
thumb
Vaksin Buatan Al Diuji pada Manusia
• 5 jam lalurepublika.co.id
thumb
Radio dan Rindu yang Tak Tergantikan
• 8 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.