Rupiah Tembus Rp18.000, Menkeu Purbaya Siapkan Jurus Penguatan

bisnis.com
9 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyiapkan penguatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter sebagai strategi utama untuk menopang nilai tukar rupiah yang masih berada di kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi kuat, baik dari sisi fiskal maupun indikator makroekonomi lainnya. Oleh karena itu, pemerintah akan memastikan kebijakan fiskal tetap berjalan efektif untuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan memperkuat kepercayaan pasar.

"Dari pertemuan APBN Kita kemarin sudah terlihat fundamental kita baik. Fiskal juga dalam keadaan yang baik, sangat baik malah kalau kita melihat acuan-acuan yang ada," ujar Purbaya di DPR, Sabtu (6/6/2026).

Menurut Purbaya, pemerintah akan berfokus menjaga kualitas belanja negara dan efektivitas kebijakan fiskal agar pertumbuhan ekonomi dapat terus meningkat.

"Ke depan kita akan memastikan fokus kebijakan fiskal berjalan dengan baik sehingga pertumbuhan kita semakin cepat," katanya.

Selain itu, Kementerian Keuangan akan mempererat koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) guna menyelaraskan kebijakan fiskal dan moneter.

Baca Juga

  • Prospek Emiten Konsumer di Bawah Bayangan Nilai Tukar Rupiah
  • Menakar Fundamental Ekonomi Indonesia di Tengah Pelemahan Rupiah
  • Rupiah Terpuruk, OJK Perketat Pengawasan Valas Perbankan & Pantau Devisa Neto

Purbaya menilai sinergi yang kuat antara pemerintah dan bank sentral akan memperbesar efektivitas kebijakan ekonomi sekaligus membantu mengembalikan kepercayaan pasar terhadap aset-aset domestik, termasuk rupiah.

"Dalam perjalanannya kita juga tentu akan meningkatkan koordinasi dengan Bank Indonesia. Kita akan memperkuat koordinasi supaya kebijakan semakin sinkron. Kita akan mendukung bank sentral," ujarnya.

Menurutnya, apabila koordinasi kebijakan berjalan optimal, nilai tukar rupiah berpotensi kembali menguat dari level saat ini. Sinergi tersebut seharusnya mengembalikan kepercayaan pasar terhadap nilai tukar rupiah sehingga rupiah akan menguat secara signifikan," kata Purbaya.

Purbaya menyoroti dampak pelemahan rupiah terhadap pelaku usaha yang masih bergantung pada bahan baku impor, terutama sektor usaha kecil dan menengah.

Menurutnya, kenaikan biaya impor telah menekan margin usaha produsen tahu dan tempe yang menggunakan kedelai impor sebagai bahan baku utama.

"Penjual tempe, tahu tergerus keuntungannya karena bahan baku impor. Itu menaikkan biaya produksi mereka," ujarnya.

Dia juga menilai stabilitas nilai tukar penting untuk menjaga daya beli masyarakat karena dapat membantu menekan tekanan harga barang kebutuhan sehari-hari.

"Ke depan rupiah lebih stabil sehingga pelaku usaha tahu tempe, ibu-ibu rumah tangga juga, bisa merasakan harga yang lebih baik dan tidak terbebani biaya hidup," kata Purbaya.

Rupiah ditutup menguat 0,19% ke level Rp18.012 per dolar AS pada perdagangan Jumat (5/6/2026). Meski demikian, mata uang Garuda masih mencatat pelemahan sekitar 8,01% secara year-to-date dibandingkan posisi akhir 2025.

Purbaya menegaskan koordinasi erat antara pemerintah dan BI akan menjadi salah satu instrumen utama untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional, baik pada level makro maupun mikro.

"Koordinasi kebijakan ini amat baik sekali untuk ekonomi kita di level makro maupun mikro ke depan," ujarnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gempa Hari Ini M 4,4 Guncang Sumur Banten, Berpusat di Laut
• 20 jam lalurctiplus.com
thumb
Pemerintah komitmen selesaikan penetapan 1,4 juta ha hutan adat
• 26 menit laluantaranews.com
thumb
Polres Metro Jakarta Pusat Kerahkan 1.400 Personel untuk Amankan Laga Timnas Indonesia Kontra Oman di GBK
• 14 jam lalupantau.com
thumb
PBB Butuh Tambahan Dana untuk Atasi Krisis di Lebanon
• 10 jam laludetik.com
thumb
Istana Bantah Ada Pergantian Menkeu dan Gubernur Bank Indonesia
• 8 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.