Washington: Militer Amerika Serikat menyatakan telah menyerang sejumlah situs radar di pesisir selatan Iran dekat Selat Hormuz di hari Jumat, dalam eskalasi terbaru yang mengancam keberlangsungan gencatan senjata di Timur Tengah.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengatakan pasukannya lebih dulu menembak jatuh empat drone bunuh diri Iran yang diluncurkan menuju Selat Hormuz.
Setelah itu, militer AS melancarkan serangan terhadap fasilitas radar pengawasan pantai Iran di Kota Goruk dan Pulau Qeshm.
“Drone serang tersebut menimbulkan ancaman langsung terhadap lalu lintas maritim regional,” ujar pernyataan CENTCOM yang dikutip dari The New Arab, Sabtu, 6 Juni 2026.
Militer AS menyebut serangan terhadap instalasi radar dilakukan untuk “mencegah serangan lanjutan.”
Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran telah berlaku sejak 8 April, namun pembicaraan untuk mencapai penyelesaian permanen hingga kini belum membuahkan hasil.
Presiden AS Donald Trump menghadapi tekanan domestik untuk mencari jalan keluar dari konflik yang memicu gejolak pasar dan dinilai tidak populer menjelang pemilu sela di Amerika Serikat.
Dalam wawancara dengan NBC News pada Jumat malam, Trump mengakui Iran masih memiliki kemampuan tempur meski telah mengalami kerusakan besar pada infrastruktur militernya.
“Mereka masih punya beberapa rudal dan drone. Saya kira secara persentase mungkin tinggal sekitar 21 atau 22 persen dari stok rudal mereka,” kata Trump.
Sementara itu, militer Iran pada Jumat mengklaim telah menembakkan “rudal peringatan” ke arah dua kapal perusak Amerika Serikat di Teluk Oman. Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh militer AS.
Dua hari sebelumnya, Kuwait menyatakan telah mencegat 30 rudal balistik yang disebut sebagai bagian dari “agresi keji Iran.”
Baca juga: Araghchi Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz Jadi Kewenangan Iran dan Oman




