Menyambung Nyawa Bisnis Perak Saat Harga Bahan Baku Melonjak

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita

Bunyi tak ritmis dari benturan perak dengan kepala palu mengisi suasana pagi di Gang Platina di kawasan Kotagede, Yogyakarta, tempat industri kerajinan perak Salim Silver berada, Jumat (5/6/2026). Sembilan pekerja menggarap perhiasan perak di pos masing-masing dan mengerahkan keahlian terbaik mereka untuk menghasilkan produk yang menarik.

Sepintas, rutinitas pada salah satu perajin di kawasan sentra kerajinan perak Kotagede itu tampak normal. Namun, jika ditarik ke periode tahun 1990-2008 ketika industri itu memiliki 60 pekerja, maka kondisi saat ini mewakili surutnya jumlah pekerja pada salah satu sektor industri kebanggaan Yogyakarta itu.

”Pada tahun 2008 jumlah karyawan saya tinggal 10 orang karena krisis. Meski sempat naik, jumlah pekerja turun lagi karena terdampak pandemi Covid-19. Kini, karena harga bahan baku perak yang sangat tinggi, karyawan saya sekarang tinggal sembilan,” ujar Priyo Salim (65), pemilik Salim Silver. Kenaikan harga bahan baku perak yang sempat mencapai empat kali lipat sejak setahun terakhir dan kondisi perekonomian dunia yang karut-marut menjadi pukulan telak bagi perajin perak seperti Salim Silver.

Pelanggan industri itu dari kawasan Eropa dan Amerika Serikat telah berhenti memesan perhiasan perak ke tempat tersebut sejak Januari 2026. ”Saat ini tidak ada order dari luar (negeri). Sejak Januari lalu hingga Idul Fitri kemarin, pekerja saya hanya bekerja selama tiga hari dalam seminggu,” ujar Priyo.

Ketika industri kerajinan lain bersorak-sorai saat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencapai Rp 18.000 per dolar, tidak demikian halnya dengan pelaku industri kerajinan perak Kotagede seperti Priyo. Hal itu karena harga bahan baku yang tengah melejit diperparah dengan kondisi pasar ekspor yang lesu.

Meski saat ini harga perak sekitar Rp 42 juta per kg, harga bahan baku utama kerajinan perak itu sempat naik dari Rp 15 juta per kg pada Januari 2025 menjadi Rp 60 juta per kg pada Januari lalu. ”Harga perak bukan naik, tapi berganti harga,” ujar Priyo.

Harga perak di pasaran internasional naik karena meningkatnya kebutuhan akan komoditas itu dari sektor industri yang bergerak di bidang produksi kendaraan listrik, panel surya, dan barang elektronik lain. Tingginya harga emas juga berdampak pada keberadaan perak yang semakin dicari oleh sebagian kalangan untuk dipakai sebagai salah satu wujud investasi selain emas.

Rentetan faktor negatif tersebut membuat Priyo melakukan sejumlah manuver bisnis. Salim Silver sejak beberapa waktu terakhir mulai memanfaatkan potensi wisata Kotagede untuk menunjang perputaran roda bisnis usahanya.

Industri  itu mulai membuka paket wisata pelatihan pembuatan kerajinan perak bagi wisatawan yang berminat. Peminat paket seharga sekitar Rp 550.000 per orang itu mayoritas dari kalangan turis asing.

Priyo juga dibantu Wangi dan Gagas, anaknya, dalam membenahi tampilan situs perusahaan serta mengelola akun media sosial seperti pada platform Tiktok dan mendorong masukan positif dari pelanggan di laman Google Review. Hasilnya cukup signifikan dan mampu mendorong kunjungan wisatawan ke tempat tersebut.

Selain cerdik dalam mengelola bisnis, keterlibatan generasi penerus turut menjadi bagian utama dalam upaya pelestarian usaha perak di Kotagede. Berdasarkan catatan sejarah, industri perak Kotagede dimulai sekitar tahun 1900 ketika terdapat empat perusahaan perak yang melayani pesanan dari keluarga Keraton Yogyakarta.

Industri perak Kotagede terus berkembang dan mencapai masa keemasannya pada sekitar tahun 1930-1942. Pada masa itu, profesi perajin perak merupakan pekerjaan idaman bagi banyak orang dan mampu menghadirkan rezeki yang cukup bagi para pegiatnya.

Memasuki era modern, sejumlah industri kerajinan perak di Kotagede berguguran karena sejumlah faktor, salah satunya karena persaingan harga yang tidak sehat dan harga bahan baku yang terus naik. Sejumlah produsen perak di Kotagede pun melebarkan sayap, antara lain, dengan membuka kafe, restoran, atau paket wisata lainnya sebagai salah satu strategi untuk bertahan hidup.

 

Baca JugaYang Muda, yang Berniaga
Baca JugaMenyambut Kepunahan Becak Motor di Yogyakarta
Baca JugaKupon Makan Gratis Bantu Mahasiswa Saat Ekonomi Sulit


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pengumuman! Dibuka 2.843 Loker dengan Gaji Setara UMP Jakarta
• 5 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Dukung Pariwisata, Imigrasi Sumut Siap Kawal Kedatangan 254 Pelari Mancanegara pada Event Trail of The Kings 2026
• 10 jam lalutvonenews.com
thumb
Andre Rosiade Resmikan Area Parkir Truk Bypass Pelabuhan Teluk Bayur Padang
• 23 jam lalukumparan.com
thumb
Sempat Alami Crash, Marquez Bangkit Rebut Pole Position MotoGP Hungaria 2026
• 2 jam lalumedcom.id
thumb
Pemkot Makassar Kerahkan Perahu Pattasaki Bersihkan Sampah Laut Losari, Dorong Pariwisata Berkelanjutan
• 4 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.