EtIndonesia.com – Tepat pada peringatan 37 tahun Insiden Lapangan Tiananmen, Amerika Serikat kembali menyerukan pentingnya mengingat tragedi yang terjadi pada 4 Juni 1989. Pemerintah AS menegaskan bahwa para korban yang gugur dalam perjuangan menuntut demokrasi dan kebebasan suatu hari akan memperoleh keadilan sejarah, sementara dunia internasional tidak boleh melupakan peristiwa yang menjadi salah satu momen paling kontroversial dalam sejarah modern Tiongkok.
Pada 4 Juni 2026, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Tiongkok serta American Institute in Taiwan (AIT) secara bersamaan membagikan kembali pernyataan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, untuk memperingati tragedi tersebut.
Dalam pernyataannya, Rubio menegaskan bahwa mereka yang kehilangan nyawa demi memperjuangkan kebebasan dan demokrasi tidak akan dilupakan oleh sejarah.
Amerika Serikat: Dunia Tidak Pernah Melupakan 4 Juni 1989
Melalui akun resminya di platform X, Kedutaan Besar AS mempublikasikan pernyataan yang secara langsung menyinggung tindakan pemerintah Tiongkok pada saat itu.
Pernyataan tersebut menyebut:
“Tanggal 4 Juni menandai 37 tahun sejak Partai Komunis Tiongkok memerintahkan militer menyerang ribuan demonstran damai di Lapangan Tiananmen dan wilayah sekitarnya. Dunia tidak pernah melupakan hari itu.”
Pernyataan itu menegaskan bahwa mahasiswa, buruh, dan warga sipil yang berkumpul di Lapangan Tiananmen pada musim semi 1989 pada dasarnya hanya menggunakan hak-hak dasar mereka sebagai warga negara. Mereka menyerukan reformasi politik, transparansi pemerintahan, serta pertanggungjawaban terhadap praktik korupsi yang saat itu menjadi sumber ketidakpuasan publik.
Rubio menyatakan bahwa dunia terus mengenang keberanian mereka dan menghormati pengorbanan yang telah diberikan.
Ia juga menegaskan bahwa sensor dan pembungkaman informasi tidak akan mampu menghapus fakta sejarah.
Menurut Rubio, mereka yang berkorban demi kebebasan berbicara, kebebasan pers, dan kebebasan berkumpul secara damai pada akhirnya akan memperoleh rehabilitasi nama baik dalam catatan sejarah.
Detail Menarik dalam Unggahan Kedutaan Besar AS
Salah satu hal yang menarik perhatian publik adalah versi bahasa Mandarin dari pernyataan tersebut.
Dalam unggahan berbahasa Mandarin, nama Marco Rubio ditulis menggunakan transliterasi yang sama dengan nama yang selama ini tercantum dalam daftar sanksi pemerintah Tiongkok terhadap sejumlah pejabat Amerika Serikat.
Unggahan Kedutaan Besar AS itu dengan cepat menarik perhatian luas di media sosial.
Hingga beberapa jam setelah dipublikasikan, unggahan tersebut telah memperoleh:
- Hampir 3.000 komentar
- Sekitar 7.500 kali dibagikan ulang
- Lebih dari 40.000 tanda suka
Angka tersebut tergolong tinggi untuk unggahan diplomatik yang membahas isu sensitif terkait sejarah politik Tiongkok.
Warganet Sampaikan Duka dan Penghormatan
Banyak pengguna internet menyampaikan pesan penghormatan kepada para korban yang tewas dalam tragedi tersebut.
Salah satu komentar yang mendapat perhatian luas berbunyi:
“Hari ini adalah luka bagi semua orang yang mencintai kebebasan. Kita mengenang mereka yang kehilangan nyawa demi keyakinan dan kebebasan.”
Komentar lainnya menuliskan harapan agar generasi masa kini tidak lagi hidup dalam ketakutan karena menyampaikan pendapat atau keyakinan mereka.
“Semoga generasi kita tidak lagi hidup dalam ketakutan hanya karena kebebasan berbicara dan berkeyakinan.”
Namun tidak semua tanggapan bernada simpati.
Perdebatan Sengit dan Tuduhan “Revolusi Warna”
Unggahan tersebut juga memicu perdebatan sengit di media sosial.
Kelompok nasionalis yang mendukung Beijing menuduh Amerika Serikat berupaya menggunakan isu Tiananmen untuk melakukan apa yang mereka sebut sebagai “revolusi warna” terhadap Tiongkok.
Sebagian dari mereka mempertanyakan mengapa Washington terus memperingati peristiwa Tiananmen setiap tahun.
Sebagai respons terhadap kritik tersebut, sejumlah pengguna internet mengajukan pertanyaan yang kemudian banyak dibagikan ulang:
“Amerika Serikat berani mempublikasikan pernyataan Marco Rubio secara terbuka. Apakah pemerintah Tiongkok juga berani membiarkan rakyatnya membaca dan mendiskusikan pernyataan itu tanpa sensor dan penghapusan?”
Pernyataan tersebut kembali menyoroti perdebatan lama mengenai kebebasan informasi dan kontrol internet di Tiongkok.
Rekaman Rahasia Tiananmen yang Tersembunyi Selama Puluhan Tahun Akhirnya Terungkap
Di tengah peringatan 37 tahun tragedi Tiananmen, perhatian dunia juga tertuju pada kemunculan rekaman video yang selama puluhan tahun nyaris tidak pernah diketahui publik.
Pada Mei 2026, untuk pertama kalinya rekaman asli milik jurnalis Inggris dari organisasi berita Independent Television News (ITN) ditayangkan secara luas melalui YouTube.
Rekaman tersebut direkam secara diam-diam di Beijing pada saat demonstrasi berlangsung dan kemudian diselundupkan keluar dari Tiongkok.
Selama bertahun-tahun, publik internasional hanya pernah melihat kurang dari 20 detik cuplikan dari keseluruhan dokumentasi tersebut.
Diperkirakan sekitar 99 persen rekaman lainnya tersimpan dalam arsip selama hampir tiga dekade dan tidak pernah dipublikasikan secara luas.
Gambaran Langsung dari Dalam Lapangan Tiananmen
Rekaman yang baru dipublikasikan itu memperlihatkan berbagai adegan yang sebelumnya hampir tidak pernah disaksikan publik.
Video menunjukkan para mahasiswa tinggal di tenda-tenda darurat yang memenuhi Lapangan Tiananmen.
Mereka menyampaikan berbagai seruan kepada pemerintah, meminta agar pemerintah berhenti menyembunyikan fakta serta bersedia mendengarkan suara rakyat.
Dalam salah satu adegan yang paling mengharukan, seorang mahasiswa muda berbicara langsung di depan kamera:
“Saya tidak takut berkorban. Saya mempertaruhkan hidup saya demi kehidupan yang lebih baik.”
Pernyataan tersebut menjadi simbol semangat dan idealisme generasi muda yang terlibat dalam gerakan pro-demokrasi saat itu.
Rektor Universitas Menangis Memohon Mahasiswa Mundur
Salah satu bagian paling emosional dalam rekaman memperlihatkan seorang rektor universitas yang mendatangi para mahasiswa.
Dengan suara bergetar dan mata yang dipenuhi air mata, ia memohon agar para mahasiswa meninggalkan lapangan.
Ia memperingatkan bahwa pasukan keamanan kemungkinan akan melakukan tindakan keras dan pertumpahan darah mungkin tidak dapat dihindari.
Adegan tersebut memperlihatkan ketegangan luar biasa yang menyelimuti Beijing menjelang operasi militer pada malam hari.
Malam yang Mengubah Sejarah
Rekaman yang diambil pada malam 3 Juni 1989 memperlihatkan pasukan bergerak menuju pusat kota Beijing dari berbagai arah.
Di sejumlah lokasi, termasuk kawasan Muxidi, terdengar suara tembakan yang terus berlanjut sepanjang malam.
Ketika fajar menyingsing pada 4 Juni 1989, kamera merekam pemandangan yang jauh lebih memilukan.
Bus-bus yang dipenuhi lubang bekas peluru terlihat di berbagai lokasi.
Rumah sakit dipenuhi korban luka dan keluarga yang berusaha mencari kerabat mereka.
Dalam salah satu adegan, seorang warga Beijing bernama Bao Bocheng berbicara sambil menangis di depan kamera.
“Ini barbar. Ini tidak manusiawi.”
Kalimat singkat tersebut menjadi salah satu kesaksian paling kuat yang terekam dalam dokumentasi tersebut.
Kalimat Terakhir yang Menggetarkan Dunia
Bagian penutup rekaman menjadi salah satu momen yang paling banyak dibicarakan setelah video tersebut dipublikasikan.
Kamera memperlihatkan seorang pemuda yang sedang mengendarai sepeda.
Saat melewati wartawan asing, ia menoleh dan tersenyum.
Ketika ditanya mengapa ia tetap berada di lokasi yang berbahaya, pemuda tersebut menjawab:
“Karena ini adalah tanggung jawab saya.”
Beberapa saat kemudian, layar berubah menjadi gelap.
Tidak diketahui secara pasti apa yang terjadi terhadap pemuda tersebut setelah rekaman berakhir.
Reaksi Emosional dari Publik
Setelah rekaman itu dipublikasikan pada Mei 2026, banyak pengguna internet mengaku tersentuh oleh keberanian warga biasa yang muncul dalam video tersebut.
Banyak yang menilai bahwa dokumentasi itu memperlihatkan sisi kemanusiaan yang selama ini jarang terlihat dalam laporan-laporan sejarah mengenai Tiananmen.
Salah satu komentar yang banyak dibagikan berbunyi:
“Kita yang masih hidup tidak hanya harus memperjuangkan keadilan bagi mereka yang gugur demi kebebasan, tetapi juga melindungi mereka yang hari ini masih berjuang mencari kebenaran dan melawan penindasan.”
Tiga puluh tujuh tahun setelah peristiwa berdarah yang mengguncang Beijing itu, perdebatan mengenai makna, warisan, dan dampak Tragedi Tiananmen masih terus berlangsung. Bagi banyak pihak, kemunculan rekaman yang selama puluhan tahun tersembunyi tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah yang terkubur sekalipun dapat kembali muncul dan menghidupkan kembali diskusi mengenai kebebasan, hak asasi manusia, serta pencarian kebenaran. (***)





