Tahun 2026 baru berjalan separuh, namun hingga Jumat (5/6) investor asing sudah mencatatkan aksi jual (net sell) senilai Rp 61,36 triliun. Nilai ini melonjak 3 kali lipat dibandingkan dengan net sell asing sebesar Rp 17,34 triliun pada 2025 secara penuh.
Jika dilihat lebih jauh, nilai transaksi net sell asing per Jumat (5/6) tahun ini menjadi yang terbesar dibandingkan catatan transaksi asing selama lima tahun terakhir. Pada 2024, investor asing mencatatkan beli bersih atau net buy mencapai Rp 16,52 triliun.
Pada 2023, investor asing membukukan net sell senilai Rp 6,18 triliun. Lalu pada masa pandemi covid-19, yaitu 2021 dan 2022, investor asing secara berurutan membukukan net buy senilai Rp dan Rp 54,04 triliun dan Rp 37,97 triliun.
Keluarnya dana asing dari pasar saham RI terjadi akibat tekanan beruntun yang terjadi. Keputusan dari dua lembaga pemeringkat global MSCI dan FTSE Russel terhadap sejumlah saham berkapitalisasi besar yang masuk dalam indeks sejak akhir Februari menjadi mula kejatuhan IHSG. Sentimen berlanjut dengan pecahnya konflik dan perang antara Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran.
Belakangan seiring meredanya ketegangan di Timur Tengah sejumlah bursa global kembali pulih. Namun IHSG masih terus melanjutkan pelemahan dan bahkan kini menjadi salah satu bursa dengan kinerja terburuk di dunia. Saat pasar global mulai naik, sentimen justru disebut datang dari dalam negeri. IHSG bahkan sudah turun lebih dari 34% sejak awal tahun atau year to daet (ytd).
Data perdagangan global menunjukkan indeks saham Sensex India yang turun 12,74%, Nifty 50 melemah 10,38%. Juga ada Bursa Beirut yang terkoreksi 10,69%. Bahkan sejumlah bursa regional masih mampu mencatatkan kenaikan YTD, seperti Vietnam yang menguat 2,64%, Shanghai Composite 2,24%, Singapura 9,07%, hingga Abu Dhabi dan Arab Saudi yang masing-masing naik 11,59% dan 4,76%.
Secara year-to-date (YTD), babak belurnya IHSG menjadi salah satu bursa dengan kinerja terburuk tidak hanya di Asia. IHSG juga jauh tertinggal dibandingkan sejumlah pasar global yang masih mencatatkan kenaikan signifikan.
Di kawasan Afrika, misalnya, indeks GGSECI Ghana melesat 63,60%, diikuti NSE All Share Nigeria yang naik 55,67%, dan DSEI Tanzania dan ZSI Industrials Zimbabwe yang masing-masing menguat 43,29% dan 42,35%.
Sentitem Negatif Imbas Ketidakpastian
Pakar Ekonomi dan Analisis Pasar Modal Ferry Latuhihin menilai derasnya arus keluar dana asing dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai kurang ramah terhadap investor.
Dalam podcast berjudul Rupiah Sekarat, Market Hancur! Surat Terbuka Ferry Latuhihin untuk Presiden, Ferry menyoroti pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang akan berperan dalam tata kelola ekspor komoditas nasional. Menurut Ferry, pasar khawatir model bisnis DSI berpotensi menimbulkan risiko baru bagi eksportir maupun pembeli komoditas Indonesia.
“Berdirinya PT DSI ini sangat-sangat riskan. Bahkan S&P sudah mengatakan, bukan tidak mungkin ya nanti saya downgrade rating anda (Indonesia) ya. Ini sangat mengerikan buat para pelaku pasar,” ujar Ferry dalam YouTube pribadinya dikutip Jumat (5/6).
Pemerintah sebelumnya menjelaskan DSI dibentuk untuk mengawasi praktik under invoicing, misinvoicing dan transfer pricing yang dinilai merugikan negara. Namun Ferry menilai pengawasan ekspor seharusnya dilakukan melalui badan pengawas, bukan dengan membentuk entitas yang terlibat langsung dalam rantai perdagangan komoditas.
Mantan Chief Economist di Bank International Indonesia ini menilai skema tersebut berpotensi memunculkan moral hazard karena eksportir harus bertransaksi melalui DSI sebelum komoditas dikirim kepada pembeli akhir.
Ferry juga mengungkapkan adanya kekhawatiran dari pembeli komoditas Indonesia. Ia mencontohkan kabar mengenai importir batu bara asal Cina yang disebut mulai mempertimbangkan pengalihan pembelian ke negara lain.
"Ini semua yang membuat pasar jadi takut. Mereka keluar dan indeks harga saham gabungan itu sampai drop tadi ke 5.600 an," ujarnya.
Selain faktor domestik, Ferry menyoroti risiko dari evaluasi yang dilakukan penyedia indeks global MSCI dan FTSE Russell terhadap pasar saham Indonesia. Menurut dia, ancaman penurunan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi frontier market menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kekhawatiran investor.
"Semua ini membuat pasar takut. Investor memilih keluar dari pasar modal dan beralih ke dolar AS," kata Ferry.
Ferry pun menilai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat turun ke kisaran 5.600 tidak terlepas dari sentimen tersebut. Ferry juga mengkritisi sejumlah kebijakan pemerintah yang dianggap meningkatkan ketidakpastian dunia usaha. Salah satunya kebijakan penurunan komisi aplikasi transportasi online dari 20% menjadi 8%.
Menurut dia, kebijakan tersebut berpotensi menekan profitabilitas operator seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan Grab yang masih berupaya mencapai keberlanjutan bisnis.
Ke depan, Ferry memperkirakan tekanan terhadap pasar keuangan domestik masih berlanjut apabila tidak ada kebijakan yang mampu memulihkan kepercayaan investor. Menurut dia, ketidakpastian terkait sejumlah kebijakan pemerintah membuat pelaku pasar cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Ferry bahkan memprediksi nilai tukar rupiah masih berisiko mengalami pelemahan lebih lanjut apabila sentimen negatif terhadap pasar Indonesia tidak mereda dalam beberapa bulan mendatang.
Sementara itu Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan, OJK bersama Self Regulatory Organization (SRO) pasar modal terus mencermati perkembangan pasar serta melakukan koordinasi secara intensif dengan seluruh pemangku kepentingan dan pelaku pasar.
"Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa transaksi perdagangan, manajemen risiko, dan terutama penyelesaian transaksi di pasar modal di masa rebalancing ini dapat tetap dilakukan dengan baik dan berjalan dengan lancar," kata Hasan dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK, Jumat (5/6).
Hasan menilai kebijakan-kebijakan stabilisasi pasar yang saat ini diterapkan masih relevan dan efektif dalam menjaga stabilitas pasar modal Indonesia. Ke depan, OJK bersama SRO akan terus memantau agenda-agenda yang dilakukan penyedia indeks global sekaligus memastikan reformasi pasar modal yang tengah berjalan dapat diimplementasikan secara konsisten.
Menurut Hasan, langkah tersebut penting untuk memperkuat kredibilitas serta meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor. Sebelumnya, Pejabat sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan fundamental pasar modal Indonesia dalam kondisi baik meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat rontok nyaris 5% selama dua hari berturut-turut.
Jeffrey mengingatkan investor untuk tetap mengambil keputusan investasi secara rasional dengan mempertimbangkan fundamental perusahaan dan profil risiko masing-masing di tengah pelemahan IHSG. Meski begitu, Jeffrey mengatakan kinerja emiten yang tercatat di bursa masih menunjukkan tren positif.




