Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan akan terus mencermati perkembangan perbankan Indonesia di tengah pelemahan kurs rupiah.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae, menyatakan ekonomi global kini masih dibayangi gejolak geopolitik, tingginya harga minyak, serta penguatan indeks dolar AS. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan volatilitas pasar keuangan global dan menekan nilai tukar sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Dapat kami sampaikan bahwa di tengah berbagai risiko yang berasal dari dinamika global tersebut, ketahanan perbankan Indonesia itu tergolong sangat kuat ya,” ucap Dian dalam konferensi pers RDKB OJK, Jumat (5/6).
Hingga April 2026, rasio kecukupan modal capital adequacy ratio atau CAR perbankan tercatat sebesar 23,97 persen, menunjukkan permodalan yang tetap terjaga pada level tinggi.
Dari sisi kualitas aset, risiko kredit perbankan juga dinilai masih terkendali. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang berada di level 2,17 persen atau masih di bawah ambang batas 3 persen. Selain itu, tren pencadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) juga relatif stabil. Likuiditas perbankan pun disebut masih memadai. Rasio liquidity coverage ratio (LCR) perbankan tercatat sebesar 192,37 persen.
“Masih jauh di atas threshold dan masih mencukupi untuk memenuhi likuiditas jangka pendek perbankan ke depan,” ucap Dian.
Ia pun meyakinkan saat ini tidak terdapat potensi bank rush atau penarikan dana besar-besaran di perbankan karena kondisi politik, keamanan, dan ekonomi Indonesia masih kondusif.
“Bank rush pada umumnya diakibatkan oleh isu kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan sehingga upaya untuk menjaga kepercayaan masyarakat itu harus senantiasa dilakukan oleh management bank,” ucap Dian.
OJK pun menjelaskan secara teori pelemahan rupiah dapat memicu inflasi impor yang berpotensi menekan daya beli masyarakat akibat kenaikan harga barang impor. Selain itu, pelemahan nilai tukar juga dapat menambah beban fiskal pemerintah, terutama terkait subsidi energi, pupuk, serta kebutuhan barang modal dan bahan baku yang masih memiliki kandungan impor tinggi.
Namun di sisi lain, pelemahan rupiah juga dapat memberikan dampak positif berupa meningkatnya daya saing produk ekspor Indonesia karena menjadi lebih murah di pasar internasional. Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai destinasi wisata bagi wisatawan mancanegara.
“Oleh karena itu, kami senantiasa melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala terkait pergerakan nilai tukar dan dampaknya terhadap perbankan,” tutur Dian.
Dian pun kembali menekankan efek langsung pelemahan rupiah terhadap stabilitas perbankan masih terbatas. Meski begitu, apabila pelemahan rupiah berlangsung berkepanjangan, terdapat potensi tekanan terhadap debitur yang memiliki kewajiban atau eksposur dalam valuta asing.
“Dalam kondisi tersebut, OJK terus meminta perbankan untuk memastikan kecukupan pembentukan cadangan rupiah penurunan nilai atau CKPN serta ketahanan permodalan yang kuat,” ucap Dian.





