Jakarta, VIVA – Di tengah kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, emas kembali menjadi salah satu instrumen yang banyak dilirik oleh masyarakat maupun investor. Tekanan inflasi, ketidakstabilan geopolitik, serta arah kebijakan suku bunga yang berubah-ubah membuat banyak orang mencari aset yang dinilai lebih tahan terhadap gejolak pasar.
Secara historis, emas memang dikenal sebagai salah satu aset yang mampu mempertahankan nilai dalam jangka panjang. Tidak seperti instrumen lain yang sangat dipengaruhi kebijakan satu negara atau kondisi pasar tertentu, emas cenderung memiliki pergerakan yang lebih stabil dalam situasi krisis.
Di Indonesia sendiri, minat terhadap emas juga meningkat seiring dengan semakin luasnya literasi keuangan dan kesadaran akan pentingnya diversifikasi aset. Berikut beberapa tips investasi emas saat krisis yang dapat menjadi panduan, sebagaimana dihimpun Viva pada Minggu, 7 Juni 2026.
1. Pahami fungsi emas sebagai lindung nilai
Salah satu alasan utama emas banyak dipilih saat krisis adalah perannya sebagai aset lindung nilai atau hedge terhadap inflasi. Ketika nilai mata uang melemah atau biaya hidup meningkat, emas cenderung mempertahankan daya belinya.
Sebab itu, sebelum mulai berinvestasi, penting untuk memahami bahwa emas bukan instrumen yang bertujuan memberikan keuntungan cepat, melainkan lebih kepada menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang. Dengan pemahaman ini, investor bisa lebih realistis dalam menentukan ekspektasi.
2. Gunakan strategi pembelian bertahap
Dalam kondisi pasar yang tidak stabil, harga emas bisa mengalami naik turun dalam waktu singkat. Strategi pembelian bertahap atau dollar cost averaging dapat menjadi pendekatan yang lebih aman dibanding membeli dalam jumlah besar sekaligus. Melalui cara ini, investor dapat mengurangi risiko membeli di harga tertinggi, sekaligus mendapatkan rata-rata harga yang lebih seimbang dari waktu ke waktu. Strategi ini juga membantu membangun disiplin investasi secara konsisten.
3. Diversifikasi portofolio investasi
Meskipun emas dikenal relatif aman, menempatkan seluruh dana hanya pada satu instrumen tetap memiliki risiko. Diversifikasi menjadi langkah penting untuk menjaga keseimbangan portofolio. Emas dapat dikombinasikan dengan instrumen lain seperti obligasi, reksa dana, atau deposito agar risiko lebih tersebar. Dengan begitu, jika salah satu aset mengalami penurunan kinerja, aset lain masih dapat membantu menjaga stabilitas nilai portofolio secara keseluruhan.





