JAKARTA, KOMPAS.com - Akhir pekan biasanya menjadi waktu jeda bagi aktivitas pemerintahan. Namun, Sabtu (6/6/2026) kemarin berbeda.
Sejumlah pejabat pemerintah dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI berkumpul dalam sebuah rapat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, untuk membahas satu isu yang belakangan menjadi perhatian publik, pelemahan nilai tukar rupiah.
Pada Sabtu sore, rupiah masih melemah di level Rp 18.095 per dollar AS.
Baca juga: Mensesneg Tegaskan Pemerintah Intens Bahas Kondisi Rupiah
Rupiah diprediksi akan semakin melemah ke level psikologis Rp 19.000 pada pekan depan jika sentimen negatif masih berlangsung.
Beberapa pihak yang hadir dalam rapat tersebut, di antaranya Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.
Dibahas intens
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Jadi mengatakan, pembahasan mengenai kondisi ekonomi di dalam negeri memang terus dibahas secara intens antara eksekutif dan legislatif.
Ia menyebut, komunikasi yang dilakukan selama ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat nilai rupiah.
Namun, tidak semua komunikasi membawa hasil yang diharapkan.
“Ya kan bukan berarti kalau kemudian komunikasi intens terus belum menghasilkan seperti yang kita harapkan, kemudian kita tidak ada komunikasi kan enggak begitu juga. Ini kan semua bagian dari upaya,” kata Prasetyo, Sabtu.
Ia tidak memungkiri, pelemahan nilai tukar turut dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan.
Salah satu pengaruhnya adalah ketergantungan impor, yang notabene menggunakan mata uang dollar AS untuk sarana pembayaran.
“Kemandirian kita secara ekonomi itu juga memengaruhi kekuatan mata uang kita. Ada beberapa yang masih ketergantungan impor itu juga akan memengaruhi. Makanya ini tidak bisa berdiri sendiri begitu loh,” tutur dia.