Skellefteå, Kota Industri yang Berubah Menjadi Laboratorium Transisi Hijau

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita

Di ujung utara Swedia, sekitar 800 kilometer dari Stockholm, berdiri sebuah kota yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi simbol ambisi besar Eropa untuk membangun industri hijau. Kota itu bernama Skellefteå.

Kota berpenduduk sekitar 75.000 jiwa yang berada di wilayah Västerbotten itu baru-baru ini berambisi memangkas emisi maskapai penerbangan. Ambisi semacam ini di tempat lain mungkin menjadi pekerjaan pelaku industri aviasi. Namun, di Skellefteå, pemerintah ikut menginisiasi program ini.

Melalui proyek e-Sustainable Aviation Fuel (e-SAF), perusahaan energi milik pemerintah kota, Skellefteå Kraft, berupaya mengubah karbon yang ditangkap dari industri kehutanan dan pembangkit bioenergi menjadi bahan bakar pesawat yang jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan avtur konvensional.

Bagi CEO Skellefteå Kraft Joachim Nordin, proyek itu bukan sekadar inovasi teknologi. Ia merupakan bagian dari transformasi besar yang sedang berlangsung di kawasan utara Swedia.

”Industri penerbangan merupakan salah satu sektor yang paling sulit dielektrifikasi. Dengan bahan bakar hijau, pesawat yang ada saat ini tetap dapat digunakan sambil menurunkan emisi secara signifikan,” kata Nordin saat memaparkan kinerja perusahaan, Kamis (4/6/2026).

Teknologi e-SAF memanfaatkan listrik terbarukan, air, dan karbon dioksida biogenik yang ditangkap dari cerobong pembangkit bioenergi ataupun industri kehutanan. Melalui proses elektrolisis dan sintesis bahan bakar, karbon tersebut diubah menjadi bahan bakar pesawat yang kompatibel dengan armada penerbangan saat ini.

Namun, fokus perusahaan tidak hanya sekadar memproduksi listrik ramah lingkungan. Nordin menekankan pentingnya membangun sistem ekonomi sirkular di mana limbah dari satu industri menjadi sumber daya bagi industri lainnya.

Dengarkan masyarakat

Skellefteå kini memang dikenal sebagai salah satu laboratorium transisi hijau paling ambisius di Eropa. Namun, perjalanan menuju titik ini bukanlah cerita tentang pertumbuhan yang mulus.

Fondasi transformasi Skellefteå sesungguhnya dibangun jauh sebelum istilah ekonomi hijau menjadi populer.

Pada 1906, perusahaan energi milik kota mulai membangun pembangkit listrik tenaga air yang menjadi tulang punggung industrialisasi kawasan tersebut. Kemudian, pada 1924, penemuan cadangan emas di Boliden mengubah arah sejarah daerah itu dan melahirkan industri pertambangan yang selama puluhan tahun menjadi penggerak ekonomi lokal.

Namun, seperti banyak kota industri lainnya, Skellefteå juga pernah mengalami dampak negatif dari masa sulit. Dari kebangkrutan masyarakat hingga dampak kesehatan dan lingkungan dari keberadaan industri. Bahkan, memasuki dekade 1990-an hingga awal 2010-an, anak-anak muda mulai meninggalkan kota untuk kuliah dan bekerja di wilayah yang lebih besar.

Pertumbuhan penduduk pernah nyaris berhenti. Banyak yang khawatir kota ini akan mengalami kemunduran jangka panjang. Kesadaran itulah yang mendorong pemerintah kota melakukan sesuatu yang tidak biasa.

Helena Renström, yang bekerja untuk Pemerintah Kota Skellefteå, Rabu (3/6/2026), bercerita, lebih dari 1.000 warga pernah dilibatkan dalam dialog publik untuk merumuskan masa depan Skellefteå. Dalam forum-forum tersebut, politisi tidak diperbolehkan berbicara. Mereka hanya mendengarkan.

”Kami membalik hubungan kekuasaan. Wargalah yang berbicara, kami yang mendengar,” kata perempuan yang menjabat sebagai Head of Society Expo Skellefteå.

Hasilnya adalah strategi pembangunan yang disahkan pada 2015. Separuh berasal dari aspirasi warga, separuh lagi berdasarkan penelitian tentang kebutuhan masa depan kota.

”Visi kami adalah menjadi tempat yang berkelanjutan untuk kehidupan sehari-hari,” ujar Helena.

Bagi pemerintah kota, keberlanjutan tidak hanya berarti mengurangi emisi karbon. Ia juga berarti menciptakan kota yang menarik untuk ditinggali, bekerja, membangun keluarga, dan menua dengan nyaman.

Oleh karena itu, pemerintah berinvestasi besar-besaran dalam pembangunan sekolah, perumahan, jalan raya, pelabuhan, fasilitas olahraga, hingga Sara Kulturhus, gedung kayu 20 lantai yang kini menjadi ikon kota.

Strategi tersebut kemudian mendapat momentum besar ketika Northvolt memilih Skellefteå sebagai lokasi gigafactory baterai pertama mereka pada 2016. Northvolt adalah perusahaan produsen baterai litium-ion pelopor industri baterai domestik di utara Eropa.

Dalam waktu singkat, ribuan pekerja dari puluhan negara berdatangan. Permintaan perumahan melonjak. Infrastruktur berkembang pesat. Kota kecil ini mendadak menjadi salah satu pusat perhatian industri hijau Eropa.

Fenomena tersebut dikenal sebagai ”Northvolt Effect”. Ledakan pertumbuhan itu memang tidak berlangsung lama karena pada 2025, Northvolt bangkrut setelah menghadapi berbagai persoalan produksi dan pendanaan.

Ribuan pekerja kehilangan pekerjaan dan sebagian penduduk mulai meninggalkan kota walau sebuah perusahaan rintisan asal Amerika Serikat, Lyten, mengambil alih perusahaan itu pada 2026.

Meski demikian, bagi Skellefteå, krisis tersebut bukan akhir perjalanan. Masyarakat pernah menghadapi situasi serupa ketika industri pertambangan mengalami tekanan pada dekade 1990-an. Pengalaman itulah yang membuat mereka memilih melihat kegagalan sebagai bagian dari proses transformasi.

”Kami adalah masyarakat dengan tingkat kepercayaan yang tinggi. Kami saling percaya. Kami bisa mengambil keputusan dengan sangat cepat,” kata Helena.

Bangun kepercayaan

Kepercayaan sosial itu menjadi modal yang memungkinkan berbagai pihak tetap bergerak bersama bahkan ketika menghadapi ketidakpastian.

Di sektor industri, salah satu aktor yang mencerminkan semangat tersebut adalah Boliden Rönnskär. Perusahaan tambang dan peleburan logam itu bukan hanya salah satu pemberi kerja terbesar, tetapi juga bagian penting dari upaya membangun ekonomi hijau yang lebih sirkular.

Head of Sustainability Boliden Rönnskär, Cecilia Sundell Hedbald, mengatakan, kontribusi perusahaan tidak berhenti pada penciptaan lapangan kerja, tetapi juga keberlanjutan lingkungan dan sosial lainnya.

Sejak beroperasi hampir 100 tahun lalu, perusahaan itu terus berupaya menahan pencemaran ke lingkungan dari proses produksi mereka.

Pada 2020, misalnya, perusahaan berhasil menekan emisi sulfur dioksida hingga nol pada 2020 dengan produksi logam yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Mereka juga sudah menekan pencemaran logam di air ke level nol sejak tahun 1990-an.

Sementara dalam bidang energi, mereka mengolah panas hasil proses industri untuk dikembalikan kepada masyarakat melalui sistem energi lokal. ”Ini menjadi salah satu cara kami mendukung komunitas di sekitar,” kata Cecilia, Kamis (4/6/2026).

Dalam aspek sosial, Boliden juga aktif bekerja sama dengan sekolah dan universitas melalui program magang, penelitian, hingga tugas akhir mahasiswa.

”Kami menerima peserta magang, mahasiswa yang mengerjakan proyek akhir, serta melakukan berbagai bentuk kerja sama pendidikan. Ini merupakan bagian yang sangat penting bagi kami,” tuturnya.

Bagi perusahaan yang lahir dari tradisi pertambangan, keberlanjutan juga berarti memulihkan apa yang pernah diambil dari alam. ”Kami berupaya mengembalikan dan memulihkan kawasan tambang lama sehingga keanekaragaman hayati dapat berkembang kembali,” ujarnya.

Investasi pada pengetahuan juga jadi modal Skellefteå bertransformasi agar sesuai dengan visi besar mereka. Arctic Center of Energy (ACE) menjadi simpul kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan dunia usaha untuk mempersiapkan era elektrifikasi.

CEO ACE Tobias Vahlne mengingatkan bahwa transisi energi jauh lebih kompleks daripada sekadar mengganti kendaraan berbahan bakar fosil menjadi kendaraan listrik. ”Elektrifikasi masyarakat jauh lebih kompleks daripada yang terlihat di permukaan,” katanya, Kamis (4/6/2026).

Menurut Vahlne, teknologi sebenarnya sudah tersedia. Tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan manusia untuk memahami dan mengelolanya.

”Teknologi saja tidak cukup. Kita membutuhkan keterampilan dan pengetahuan untuk memanfaatkannya secara optimal,” ujarnya.

Karena itu, ACE mengembangkan laboratorium, program pendidikan, pusat inovasi, dan berbagai proyek demonstrasi yang memungkinkan teknologi baru diuji dalam kondisi nyata.

Tujuannya bukan sekadar menciptakan teknologi baru, tetapi memastikan masyarakat memiliki kapasitas untuk menggunakannya.

Benang merah yang menghubungkan semua inisiatif tersebut adalah kolaborasi.

Pemerintah kota menyediakan arah pembangunan dan infrastruktur. Perusahaan energi menghadirkan sistem energi rendah karbon. Industri menciptakan lapangan kerja dan inovasi. Universitas serta pusat riset menyiapkan pengetahuan dan talenta. Sementara masyarakat menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Skellefteå sedang mencoba membuktikan bahwa transisi hijau tidak bisa dibangun oleh satu proyek besar atau satu perusahaan semata. Ia membutuhkan kepercayaan, kesabaran, dan kemauan untuk bekerja bersama dalam jangka panjang.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Nyaman di Yogyakarta, Alasan Cahya Supriadi Mantap Melanjutkan Perjalanan Bersama PSIM
• 1 jam lalubola.com
thumb
Judicial Review Ditolak, Upaya Ekstradisi Paulus Tannos dari Singapura Masih Panjang
• 15 jam lalurctiplus.com
thumb
Hasto Puji ‘Ghost in the Cell’: Film Cerdas yang Kritik Ketamakan dan Bangkitkan Idealisme
• 1 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Tes Wuling Eksion di Jalur Pegunungan Jawa Tengah, Tenaga Instannya Bikin Nyalip Percaya Diri
• 7 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Alasan Daging Beku Tidak Boleh Langsung Dimasak
• 5 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.