Bisnis.com, JAKARTA — Pergerakan nilai tukar rupiah pada pekan depan diperkirakan masih dibayangi sentimen global, mulai dari perkembangan konflik di Timur Tengah hingga data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS), kendati Bank Indonesia (BI) dan pemerintah memperkuat langkah stabilisasi.
Nilai tukar rupiah ditutup menguat 0,19% ke level Rp18.012 per dolar AS pada perdagangan, Jumat (5/6/2026). Kendati demikian, mata uang Garuda masih mencatat pelemahan sekitar 8,01% sepanjang tahun berjalan 2026.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pasar masih mencermati perkembangan geopolitik setelah pemimpin Hizbullah Naim Qassem menolak kesepakatan yang dimediasi AS antara Israel dan pemerintah Lebanon untuk menghentikan pertempuran.
Menurutnya, eskalasi ketegangan kawasan masih menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan aset berisiko dan nilai tukar negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain itu, pelaku pasar menunggu arah terbaru ekonomi AS melalui data ketenagakerjaan. Konsensus memperkirakan Nonfarm Payrolls (NFP) Mei bertambah 85.000 pekerjaan dengan tingkat pengangguran bertahan di level 4,3%.
Ibrahim menilai apabila pasar tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan yang lebih dalam dari perkiraan, dolar AS berpotensi melemah sehingga memberikan ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang.
Baca Juga
- Tekan Bunga Utang APBN, Ini Cara Baru BI Amankan Nilai Rupiah
- Purbaya Buka Suara soal 'Sell Indonesia' Usai Rupiah-IHSG Jeblok
- Gubernur BI Perry Warjiyo Beberkan Dua Operasi Moneter-Fiskal Perkuat Rupiah
"Dengan berbagai sentimen tersebut, rupiah diperkirakan bergerak pada rentang Rp17.950 sampai Rp18.250 per dolar AS untuk perdagangan sepekan ke depan," ujarnya, dikutip Minggu (7/6/2026).
Dari dalam negeri, prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih moderat masih menjadi perhatian pasar. OECD kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi 4,7% dari sebelumnya 4,8%.
Lembaga tersebut menilai kenaikan biaya energi, ketidakpastian global, dan pelemahan pasar tenaga kerja berpotensi menekan konsumsi rumah tangga serta investasi. Meski demikian, ekonomi Indonesia dinilai relatif lebih tangguh dibandingkan banyak negara berkembang lainnya.
Di tengah tekanan rupiah sepanjang tahun ini, BI dan pemerintah juga memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan kedua otoritas sepakat meningkatkan daya tarik imbal hasil aset domestik guna mendorong kembali arus modal masuk.
"Dengan kenaikan bunga luar negeri, memang ada outflow. Ada di pasar saham, SBN, dan juga kecil di SRBI. Oleh karena itu, fiskal dan moneter sepakat untuk sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflow ini kembali masuk dan mendukung stabilitas nilai tukar," kata Perry, Sabtu (6/6/2026).
Selain itu, BI dan pemerintah berupaya menjaga kecukupan likuiditas pasar uang dan perbankan melalui pengelolaan kas pemerintah yang tetap ditempatkan di BI dengan skema imbal hasil yang lebih menarik. Langkah tersebut diharapkan menjadi bantalan bagi stabilitas rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global.





