Musik K-Pop di Indonesia Perlahan Ditinggalkan Pendengarnya, Beralih ke Hipdut

kumparan.com
13 jam lalu
Cover Berita

Rafifah Ulayya (23), mulai terjun ke dunia per-fandom-an K-Pop sejak 2011. Kala itu, SNSD dan EXO merupakan grup pertama favoritnya. Perempuan asal Jakarta tersebut bisa dibilang masuk ke dalam kategori penggemar K-Pop 'sepuh'.

Kini, di tahun 2026, Rafifah tidak lagi bergabung dalam satu fandom K-Pop tertentu. Dirinya justru memilih menjadi casual listener. Ia hanya mendengarkan lagu-lagu K-Pop dari grup generasi baru, mulai dari XLOV, LNGSHOT, hingga RIIZE.

Rafifah lalu mengaku kini lebih banyak mendengarkan lagu-lagu barat dan Indonesia daripada K-Pop. Spesifiknya, ia lebih sering mendengarkan lagu Hipdut (hip-hop dan dangdut).

"Sebenarnya [lebih sering menedengarkan] hipdut sih, karena lebih bikin melek," ungkapnya saat berbincang dengan kumparan, Rabu (3/6).

Hipdut yang dimaksud Rafifah merupakan genre yang memadukan unsur hip-hop, trap, EDM, dan dangdut. Salah satu lagu yang ikut mendorong tren tersebut adalah “Garam & Madu” dari Tenxi, Naykilla, dan Jemsii. Nama-nama seperti DIA, RYO, Naufal Syachreza, Suisei, hingga Kirohta juga mulai dikenal lewat lagu-lagu dengan nuansa hipdut yang kuat.

Rafifah lalu buka-bukaan soal fenomena musik K-Pop yang ditinggalkan pengemarnya. Salah satunya, kata dia, karena kultur fandom dapat membuat sebagian orang tak nyaman. Akhirnya banyak orang memilih menjadi casual listener saja.

"Fandom culture ini tuh dulu tuh lumayan ketat gitu lah kayak 'oh iya harus ini, harus itu.' Cuma lama-lama kan orang pasti kalau terlalu sering itu kan burnout ya lama-lama ya. Kayak ngerasa apa sih orang gue cuma suka doang gitu," terangnya.

Selain itu, baginya, pertengkaran antar fandom atau fandom war juga sering kali membuat fans kurang nyaman.

Rafifah merasa bahwa konsep yang dibawa musik K-Pop cenderung stagnan dan kurang beragam. Musik K-Pop yang mulai kebarat-baratan dianggap bentuk hilangnya identitas. Hal itu, menurutnya, juga membuat penggemar kebingungan.

"Nah, mereka tuh ya lebih seringnya tuh stuck ke satu hal yang sama gitu, satu konsep yang sama. Jadi makanya kadang kalau kurang diverse itu kan orang lebih ke bosan ya jadinya," terangnya.,

Rafifah juga membandingkan perkembangan musik K-Pop dengan musik Indonesia. Menurutnya, lagu-lagu Indonesia meskipun beragam dan terus berinovasi, tetapi berhasil mempertahankan identitasnya dibandingkan K-Pop.

Berdasarkan laporan Music Concert Trends & Fan Behaviors 2025 yang dirilis Jakpat, diketahui bahwa genre musik paling populer di Indonesia adalah pop. Totalnya 71 persen. Apabila dilihat dari generasi, Gen Z mencapai 67 persen, dan Millenial 75 persen.

Yang menarik adalah, genre musik dangdut menempati posisi kedua. Secara agregat angkanya ada di 32 persen. Sementara pada Gen Z mencapao 27 persen dan Milenial mencapai 38 persen. Survei Jakpat ini melibatkan 1.658 responden.

Absennya Musisi Korsel dari Tangga Lagu Indonesia

Gelombang musik asal Korea Selatan yang sempat menggema di Indonesia, kini memang tak lagi seramai dulu. Hal ini, paling tidak, dapat dilihat dari temuan kumparan mengenai preferensi musik di Tanah Air berdasarkan Top 50 Artists dan Top 50 Songs dari basis data Spotify.

Data 50 Top Artists yang dianalisis mencakup periode November 2021 hingga Mei 2026, sedangkan data Top 50 Songs mencakup periode yang lebih panjang, yaitu dari Januari 2017 hingga Mei 2026. Seluruh data tersebut kemudian diolah menggunakan bahasa pemrograman Python.

Karena data asli berbasis harian (daily) sangat masif dan pergerakannya tidak berubah drastis setiap hari, kami melakukan penyederhanaan. Kami mengambil sampel data mingguan, tepatnya di setiap awal bulan, untuk menangkap tren besar secara lebih efektif.

Pada November 2021, ada 8 musisi Korsel yang masuk jajaran Top 50 Artists. Popularitas musisi asal Korsel mencapai puncaknya pada bulan tersebut dan pada Desember 2021. Namun, pada Mei 2026 hanya ada 1 musisi.

Adapun 8 musisi Korsel yang bertengger di Top 50 Artists pada November 2021 adalah BTS, Blackpink, LeeHi, JEON SOMI, TWICE, NCT DREAM, dan SEVENTEEN. Sementara 3 musisi Korsel yang bertengger di Top 50 Artists pada Mei 2026 hanya BTS

kumparan mencari tahu lagu dan musisi asal negara mana saja yang paling digandrungi di Indonesia dari tahun ke tahun. Kami mengumpulkan data Top 50 Artists dan Top 50 Songs dari akun kaggle milik Gonzalo López Gil, salah satu developer di website tersebut. Lalu kami menggunakan kode pemrograman python untuk memfilter data agar diperoleh data milik Indonesia.

Berdasarkan temuan kami, ada penurunan jumlah musisi asal Korsel di Top 50 Artists Spotify Indonesia.

Pada 1 November 2021, ada delapan musisi Korsel yang masuk jajaran Top 50 Artists. Popularitas musisi asal Korsel mencapai puncaknya pada bulan tersebut dan pada 1 Desember 2021. Namun, pada 1 Mei 2026 hanya ada satu musisi K-Pop, yaitu BTS. Di beberapa bulan lainnya bahkan musisi K-Pop nihil masuk ke dalam chart.

Zaini, dosen Prodi Bahasa dan Kebudayaan Korea Universitas Indonesia (UI), mengungkapkan pendapatnya terkait fenomena ini. Menurutnya, turunnya musisi K-Pop dari tangga lagu Spotify Indonesia harus dilihat dalam konteks kebudayaan populer yang tidak bisa diprediksi. Budaya hallyu sendiri, tambah Zaini, tersebar karena promosi yang salah satunya bisa kita lihat di media sosial.

"Dari pihak Korea sendiri juga dengan gencar [promosi] lewat pendekatan soft power. Nah, ini akhirnya kan orang istilahnya mau enggak mau ikut terbawa arus," ungkap Zaini saat dihubungi kumparan, Kamis (4/6).

Kini, lagu K-Pop banyak yang tidak murni berbahasa Korea, tetapi juga terselip kata-kata berbahasa Inggris di tengah baris maupun bait. Hal tersebut memang diduga menjadi salah satu faktor menurunnya pendengar K-Pop di Indonesia.

Menjawab fenomena tersebut, Zaini berpendapat bahwa adanya kata berbahasa Inggris dalam lagu K-Pop disebabkan oleh pendengarnya yang kini tak hanya orang Korea, tetapi juga secara global.

"Nah, kalau kita lihat pada akhirnya ada penurunan, ya ini mungkin tren yang istilahnya terjadi. Bisa saja nanti mereka [musisi K-Pop] misalnya melihat apa nih penurunannya? Bisa saja mereka mencoba menjadi sebuah terobosan, bisa saja bisa misalnya membangkitkan kembali seperti itu," tambah Zaini.

Sejalan dengan pendapat Rafifah, Zaini juga melihat ada perubahan perilaku pendengar musik Korsel. Hal ini tak terlepas dari perasaan 'jenuh' generasi sekarang terhadap lagu-lagu asal Korsel.

"Kalau saya sih melihat kejenuhan ya dari penikmat musik itu. Gen Z ataupun generasi yang sekarang sedang misalnya mencari hal-hal, sesuatu yang lebih menarik," ungkapnya.

"Ini yang kalau saya lihat tren yang mungkin mereka sedang mencari-cari apa nih yang lebih (baru) untuk dinikmati? Kalau yang gitu-gitu saja ya mereka monoton, karena kalau yang namanya lagu berulang kali diputar dalam waktu yang terus-menerus pasti ada kejenuhan," tambahnya.

Maka, menurutnya, industri musik Korsel perlu melakukan terobosan yang lebih kreatif agar dapat menggaet kembali pasarnya.

Fenomena Serupa Juga Terjadi di Korea SelatanJumlah Konser K-Pop di Indonesia Juga Turun

Sejalan dengan tren musisi Korsel yang semakin ditinggalkan di Spotify Indonesia, konser K-Pop pun juga turun. Jenis konser K-Pop di Indonesia beragam, yaitu festival musik, acara penghargaan, fanmeeting, fanconcert, dan tur album.

Tim kumparan mencoba mencari tahu tren konser K-Pop di Indonesia selama 11 tahun terakhir baik yang sudah maupun akan dilaksanakan. Metode yang kami gunakan adalah mengumpulkan data publikasi konser dari media sosial dan pemberitaan media online.

Pada 2016, konser K-Pop yang diselenggarakan di Indonesia hanya berjumlah delapan. Angka tersebut terus meningkat secara signifikan hingga tahun 2019 yaitu 19 konser.

Sayangnya, pada 2020 konser K-Pop di Indonesia menurun drastis dengan jumlah lima konser. Banyak konser yang dibatalkan akibat pandemi COVID-19 yang juga menyebabkan tidak adanya konser K-Pop di Indonesia pada 2021.

Seiring berjalannya waktu dan era new normal, konser K-Pop di Indonesia kembali diselenggarakan pada 2022 hingga mencapai 12 konser. Tahun 2023 terjadi peningkatan hingga dua kali lipat, yaitu terdapat 24 konser.

Konser K-Pop di Indonesia paling banyak diselenggarakan pada 2024, dengan jumlah mencapai 35 konser. Sayangnya, angka tersebut turun pada 2025. Kala itu, sebanyak 19 konser K-Pop terselenggara di Indonesia.

Tahun ini, tercatat sebanyak 16 konser K-Pop yang telah dan akan diadakan di Indonesia. Ada kemungkinan angka tersebut akan bertambah hingga akhir 2026.

Penulis: Safina Azzahra Rona Imani


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jemaah Haji Gelombang Kedua Mulai Diberangkatkan dari Makkah ke Madinah
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Ribuan Warga Padati Malioboro Saksikan Kirab Budaya Tresna Pancasila
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Amanda Manopo dan Kenny Austin Resmi Jadi Orang Tua, Perjalanan Kehamilan hingga Kelahiran Sang Buah Hati Jadi Sorotan
• 20 jam laluviva.co.id
thumb
Hasil Moto3 Hungaria 2026: Long Lap Penalty Gagalkan Veda Tembus 10 Besar
• 4 jam lalumedcom.id
thumb
Aksi Bem SI Jateng Beri Tenggat 18 Hari ke Pemerintah untuk Perbaiki | KOMPAS PETANG
• 23 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.