Ringkasan Berita
- OJK menilai sektor jasa keuangan nasional tetap stabil pada Mei 2026.
- Tekanan global meningkat akibat konflik Timur Tengah dan inflasi energi.
- Kredit perbankan tumbuh 9,98 persen secara tahunan.
- Jumlah investor pasar modal melonjak menjadi 27,75 juta investor.
Kediri (beritajatim.com) – Stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia tetap terjaga meskipun perekonomian global menghadapi tekanan yang semakin besar akibat konflik geopolitik, kenaikan harga energi, dan volatilitas pasar keuangan internasional. Kesimpulan tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang digelar pada 26 Mei 2026.
“OJK menilai sektor jasa keuangan nasional masih menunjukkan ketahanan yang baik dengan pertumbuhan intermediasi keuangan yang positif, tingkat permodalan yang kuat, serta profil risiko yang tetap terkendali di tengah ketidakpastian ekonomi global,” tulis siara pers RDK Bulan Mei 2026 yang dikutip beritajatim.com, pada Minggu (7/6/2026).
Konflik Timur Tengah Picu Tekanan Inflasi GlobalOJK mencatat konflik geopolitik yang berlanjut di kawasan Timur Tengah menyebabkan harga energi dunia tetap tinggi dan meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama atau higher for longer. Dampaknya, imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara mengalami kenaikan dan memicu volatilitas pasar keuangan global.
Meski demikian, aktivitas manufaktur global masih berada pada zona ekspansi walaupun pertumbuhannya mulai melambat. Di Amerika Serikat, ekonomi masih relatif kuat dengan pasar tenaga kerja yang solid. Namun tekanan inflasi mulai memengaruhi tingkat kepercayaan konsumen.
Sementara itu, ekonomi Tiongkok menunjukkan tanda-tanda perlambatan akibat lemahnya permintaan domestik dan investasi, meskipun sektor ekspor masih bertahan cukup baik.
Ekonomi Domestik Tetap TumbuhDi dalam negeri, aktivitas ekonomi nasional masih menunjukkan kinerja yang cukup baik.
Sektor manufaktur kembali berada dalam fase ekspansif pada Mei 2026. Dari sisi permintaan, konsumsi dan aktivitas ekonomi masyarakat tetap terjaga meski tekanan inflasi meningkat akibat kenaikan harga energi global.
Neraca perdagangan Indonesia juga masih mencatatkan surplus, walaupun nilainya lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.
Menurut OJK, kondisi tersebut menjadi fondasi yang mendukung ketahanan sektor jasa keuangan nasional.
IHSG Terkoreksi, Investor Pasar Modal Terus BertambahPada sektor pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi selama Mei 2026.
IHSG ditutup pada level 6.127,38 atau turun 11,92 persen secara bulanan (month to month) dan melemah 29,14 persen sejak awal tahun (year to date).
Meski demikian, likuiditas pasar saham tetap terjaga. Rata-rata nilai transaksi harian meningkat menjadi Rp22,86 triliun dibandingkan bulan sebelumnya sebesar Rp18,51 triliun.
Investor asing masih membukukan aksi jual bersih (net sell) saham sebesar Rp4,10 triliun sepanjang Mei 2026.
Di sisi lain, jumlah investor pasar modal terus bertambah signifikan. Sepanjang Mei 2026 terdapat tambahan 1,26 juta investor baru sehingga total investor pasar modal Indonesia mencapai 27,75 juta orang atau tumbuh 36,27 persen sejak awal tahun.
Industri Reksa Dana dan Bursa Karbon Tetap BertumbuhNilai aset kelolaan industri pengelolaan investasi (Asset Under Management/AUM) mencapai Rp1.049,84 triliun hingga akhir Mei 2026. Sementara itu, Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana tercatat sebesar Rp685,76 triliun.
Walaupun terjadi net redemption sebesar Rp1,77 triliun selama Mei, secara kumulatif industri reksa dana masih membukukan net subscription sebesar Rp21,61 triliun sepanjang 2026.
Pada Bursa Karbon Indonesia, sejak diluncurkan September 2023 hingga 29 Mei 2026 telah tercatat volume transaksi mencapai 1,98 juta ton CO2 ekuivalen dengan nilai transaksi sebesar Rp93,76 miliar.
Kredit Perbankan Tumbuh Hampir 10 PersenDari sektor perbankan, OJK mencatat pertumbuhan kredit mencapai 9,98 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada April 2026 menjadi Rp8.755 triliun.
Pertumbuhan tertinggi terjadi pada Kredit Investasi yang meningkat 19,48 persen. Kredit Konsumsi tumbuh 6,13 persen, sedangkan Kredit Modal Kerja meningkat 6,04 persen.
Kredit korporasi menjadi kontributor terbesar dengan pertumbuhan 15,51 persen. Sementara kredit UMKM mulai menunjukkan perbaikan dengan pertumbuhan positif sebesar 0,16 persen.
Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 11,39 persen menjadi Rp10.077 triliun.
Permodalan dan Likuiditas Perbankan Tetap KuatOJK menegaskan kondisi likuiditas perbankan masih sangat memadai. Rasio Alat Likuid terhadap Non-Core Deposit (AL/NCD) tercatat 111,13 persen, jauh di atas ambang batas minimum 50 persen.
Sementara rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) mencapai 25,39 persen, juga berada jauh di atas batas minimum 10 persen.
Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) gross sebesar 2,17 persen dan NPL net sebesar 0,84 persen.
Adapun rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) tercatat sebesar 23,97 persen yang menunjukkan ketahanan industri perbankan nasional masih sangat kuat dalam menghadapi berbagai risiko ekonomi.
OJK Blokir Puluhan Ribu Rekening Terkait Judi OnlineDalam upaya mendukung pemberantasan perjudian daring, OJK terus berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital.
Hingga Mei 2026, OJK telah meminta perbankan melakukan Enhanced Due Diligence (EDD) dan pemblokiran terhadap sekitar 33.836 rekening yang terindikasi terkait aktivitas perjudian online.
Selain pemblokiran rekening, OJK juga meminta perbankan melakukan penelusuran berdasarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) untuk mengidentifikasi rekening lain yang memiliki keterkaitan dengan aktivitas tersebut.
Langkah ini dilakukan guna menjaga integritas sistem keuangan nasional sekaligus meminimalkan risiko penyalahgunaan layanan perbankan untuk aktivitas ilegal.
Dengan kondisi intermediasi yang terus tumbuh, likuiditas yang kuat, serta tingkat permodalan yang tinggi, OJK menilai sektor jasa keuangan Indonesia masih memiliki ketahanan yang baik dalam menghadapi tantangan ekonomi global sepanjang 2026. [nm/suf]




