REPUBLIKA.CO.ID, QINGDAO -- "Versi 1.0 hanya memberi tahu suhu laut. Versi 2.0 memberi tahu di mana pusaran akan terbentuk dan kapan gelombang badai menghantam pantai." Dengan kalimat itu, ilmuwan Tiongkok memperkenalkan LangYa 2.0, kecerdasan buatan yang diklaim mampu membaca masa depan lautan.
Bukan sekadar membaca suhu air atau arah arus. Sistem AI terbaru yang diluncurkan Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (CAS) pada Konferensi Bumi Digital Tiongkok di Qingdao itu kini dapat memprediksi enam fenomena laut yang selama ini menjadi mimpi buruk para pelaut, nelayan, operator rig minyak, hingga masyarakat pesisir: topan, hujan ekstrem, gelombang badai, gelombang soliter internal, pusaran mesoscale, dan pergerakan es laut. Seberapa jauh kemampuan mesin ini melampaui model sebelumnya?
- Dar Der Dor: 8 Orang Tertembak Saat Festival Ohio, Kerumunan Mendadak Tercerai Berai
- BNI-PBSI Cetak Generasi Baru Juara, Raymond/Joaquin Melaju ke Final Indonesia Open 2026
- Indonesia Invites Russia to Develop Strategic Rail Corridor
Jawabannya mengejutkan. Jika LangYa 1.0 yang diperkenalkan pada akhir 2024 hanya mampu meramalkan variabel dasar seperti suhu, salinitas, dan arus laut hingga tujuh hari ke depan, LangYa 2.0 kini dirancang untuk membaca fenomena yang jauh lebih rumit. AI ini tidak hanya melihat laut sebagai hamparan air, tetapi sebagai sistem hidup yang terus berubah dari menit ke menit. Apa dampaknya bagi dunia nyata?
Bayangkan sebuah kota pesisir yang hanya memiliki beberapa jam untuk bersiap sebelum topan mengubah arah secara mendadak.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Atau sebuah platform minyak lepas pantai yang harus menghadapi gelombang bawah laut raksasa yang tidak terlihat dari permukaan. Menurut tim pengembangnya, LangYa 2.0 dirancang untuk mengenali ancaman semacam itu lebih cepat dan lebih akurat, sehingga keputusan penyelamatan dapat diambil sebelum bencana datang. Bagaimana cara AI ini melakukannya?
Rahasianya terletak pada data dalam jumlah masif. Modul topan LangYa 2.0 menggabungkan citra satelit awan, data atmosfer, kondisi laut, dan jejak ribuan topan yang pernah terjadi sebelumnya. Sistem kemudian mencari pola yang sulit ditangkap manusia, termasuk dua fenomena yang selama ini paling ditakuti ahli meteorologi: intensifikasi cepat dan perubahan arah mendadak. Bisakah AI benar-benar lebih unggul daripada metode konvensional?
Setidaknya hasil awal menunjukkan demikian. Bahkan sebelum resmi diluncurkan, LangYa 2.0 telah diuji dalam prediksi luas es laut Arktik pada September 2025. Hasilnya, model ini menempati peringkat pertama dalam validasi independen yang dilakukan Sea Ice Prediction Network, jaringan internasional yang berfokus pada prakiraan es laut Arktik. Mengapa pencapaian ini penting?
Karena di wilayah kutub, kesalahan beberapa kilometer saja dapat menentukan keselamatan kapal yang berlayar di antara bongkahan es. LangYa 2.0 mampu menghasilkan prediksi bulanan dengan resolusi hingga tiga kilometer. Ketelitian seperti itu sangat dibutuhkan untuk pelayaran Arktik, penelitian perubahan iklim, hingga navigasi di wilayah yang selama ini dikenal sebagai salah satu lingkungan paling ekstrem di planet ini. Namun para ilmuwan Tiongkok ternyata belum ingin berhenti di sini.




