VIVA – Setter tim nasional voli putri Korea Selatan sekaligus rekan setim Megawati Hangestri di Hyundai Hillstate, Kim Da-in, akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kariernya bersama klub setelah memperoleh status free agent (FA) profesional pertamanya pada 2026.
Keputusan tersebut diambil setelah melalui proses pertimbangan yang panjang. Kim Da-in mengaku sempat memikirkan kemungkinan berkarier di luar negeri demi mendapatkan pengalaman baru dan tantangan berbeda.
Pada akhirnya, pemain kelahiran 1998 itu memilih bertahan dan menandatangani kontrak senilai 540 juta won atau sekitar Rp6,3 miliar. Nilai tersebut menjadikannya pemain dengan gaji tertinggi di kompetisi voli putri Korea Selatan musim ini, sekaligus setter dengan bayaran tertinggi di V-League.
- Instagram/hdecvolleyballteam
Setelah menjalani sembilan musim di V-League, Kim Da-in resmi masuk pasar FA. Meski direkrut Hyundai E&C pada putaran kedua Draft Rookie 2017, ia sempat kesulitan memenuhi syarat FA karena minimnya kesempatan bermain selama tiga musim awal karier profesionalnya.
Dalam wawancara dengan My Daily Korea, Kim Da-in mengungkapkan bahwa dirinya sempat sangat tertarik untuk mencoba bermain di luar Korea Selatan.
“Sejujurnya, awalnya, saya memiliki keinginan yang lebih kuat untuk menghadapi tantangan. Saya tidak berpikir saya hanya seorang anak muda lagi. Saya pikir saya bertanya-tanya apakah saya akan mampu menghadapi tantangan jika bukan sekarang. Jadi, setelah banyak berbicara dan merenung, saya memutuskan untuk tetap tinggal,” ujar Kim Da-in.
Meski bertahan di Hyundai Hillstate, ambisi untuk terus berkembang masih menjadi motivasi utamanya. Ia bahkan mengakui memiliki impian untuk suatu saat merasakan pengalaman bermain di luar negeri seperti beberapa seniornya.
“Bukankah setiap orang memiliki mimpi untuk pergi ke luar negeri? Secara realistis, itu tidak mudah karena saya tidak tinggi. Jadi saya pikir saya perlu meningkatkan keterampilan saya, seperti membuat lemparan saya lebih tepat,” katanya.
Kim Da-in merasa masih banyak aspek permainannya yang perlu ditingkatkan, mulai dari efisiensi pergerakan hingga kemampuan bertahan.
“Ada banyak area di mana saya perlu berkembang. Saya ingin mengurangi gerakan yang tidak perlu, dan meskipun memblokir adalah kelemahan, saya ingin meminimalkannya. Karena saya tidak bisa memblokir, saya harus bekerja lebih keras dalam pertahanan. Saya pikir saya akan sedih jika saya berpikir ada batasnya. Saya ingin terus maju tanpa batasan apa pun. Saya masih memiliki jalan panjang yang harus ditempuh,” lanjutnya.





