Pantau - Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, kembali menunjukkan perannya sebagai salah satu habitat penyu hijau (Chelonia mydas) terpenting di Asia Tenggara setelah survei terbaru menemukan sedikitnya 913 ekor penyu dan menyatakan 26 dari 27 lokasi pemantauan berada dalam kondisi sangat baik untuk peneluran.
Survei tersebut melibatkan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur, Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut Pontianak, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle, serta masyarakat lokal.
Pemantauan dilakukan di 27 lokasi penting yang tersebar di kawasan konservasi penyu, termasuk Pulau Sangalaki, Teluk Sulaiman, Kampung Balikukup, dan sejumlah wilayah pesisir lainnya di Berau.
Hasil survei menunjukkan sebanyak 26 lokasi masuk kategori hijau atau dinilai sangat sehat dan ideal sebagai tempat penyu bertelur.
Kondisi tersebut didukung oleh tekstur pasir yang sesuai untuk sarang telur, kemiringan pantai yang ideal, vegetasi alami yang masih terjaga, serta rendahnya gangguan aktivitas manusia.
Tim survei memanfaatkan teknologi pesawat nirawak atau drone untuk meningkatkan akurasi pemantauan habitat penyu.
Teknologi tersebut memungkinkan pemantauan area yang luas dan sulit dijangkau dengan menghasilkan citra beresolusi tinggi antara 1,5 hingga 5 sentimeter.
Melalui metode tersebut, tim berhasil memetakan habitat penyu di 12 lokasi dan mengidentifikasi sedikitnya 913 ekor penyu.
Penyu tersebut ditemukan di kawasan Kepulauan Derawan dan Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KKP3K-KDPS).
Data hasil survei akan menjadi dasar penting bagi pemerintah dalam menyusun kebijakan konservasi yang berkelanjutan.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Timur, Irhan Hukmaidy, menegaskan bahwa konservasi penyu merupakan investasi jangka panjang yang membutuhkan keterlibatan masyarakat.
“Melindungi penyu tidak hanya dilakukan dengan membuat peraturan atau menempatkan petugas pengawas di lapangan. Namun yang jauh lebih penting adalah menanamkan pemahaman kepada generasi muda tentang betapa berharganya hewan ini dan peran pentingnya dalam menjaga keseimbangan laut,” ujar Irhan.
Menurutnya, pendidikan lingkungan perlu dilakukan secara rutin kepada anak-anak, masyarakat pesisir, kelompok nelayan, dan warga umum agar kesadaran konservasi terus meningkat.
Sekretaris Kampung Balikukup, Arifin, juga menilai generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan lingkungan pesisir.
“Termasuk Balikukup yang merupakan bagian ekosistem laut, maka penyu pun harus dijaga dan dilindungi bersama. Kami berharap melalui edukasi ini, tumbuhlah generasi yang memiliki kesadaran tinggi dan mampu melanjutkan upaya menjaga kekayaan alam kampungnya agar tetap lestari untuk masa depan,” ungkap Arifin.
Survei juga mengukur persepsi masyarakat terhadap upaya perlindungan penyu dengan mewawancarai 75 nelayan dari Balikukup, Derawan, Maratua, Teluk Sulaiman, dan Biduk-Biduk.
Hasilnya menunjukkan 98 persen responden memahami bahwa menangkap penyu merupakan pelanggaran hukum dan pengambilan telur penyu dapat merusak kelestarian alam.
Sebagian besar nelayan juga mengaku masih sering melihat penyu hijau dan penyu sisik di wilayah perairan Berau.
Banyak warga menilai populasi penyu mulai meningkat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya berkat perlindungan hukum, pengawasan yang lebih ketat, dan program konservasi yang berkelanjutan.
Manajer Senior Perlindungan Laut YKAN, Yusuf Fajariyanto, mengatakan keberhasilan konservasi sangat bergantung pada pemanfaatan teknologi dan peran aktif masyarakat.
Menurutnya, masyarakat pesisir merupakan pihak yang paling menentukan keberhasilan perlindungan penyu karena berinteraksi langsung dengan habitat satwa tersebut setiap hari.
Sebagai bagian dari upaya konservasi jangka panjang, berbagai kegiatan edukasi terus dilakukan kepada anak-anak untuk mengenalkan pentingnya penyu bagi ekosistem laut.
Materi edukasi mencakup status penyu sebagai satwa dilindungi, ancaman yang dihadapi seperti sampah plastik, kerusakan pantai tempat bertelur, pengambilan telur, dan perburuan liar.
Kegiatan edukasi dilakukan melalui diskusi interaktif, kuis, mewarnai gambar, dan permainan edukatif yang menjelaskan hubungan antara penyu, terumbu karang, padang lamun, dan ekosistem laut secara keseluruhan.
Salah satu kegiatan edukasi terbaru berlangsung pada Mei 2026 di Kampung Balikukup, Kecamatan Batu Putih, Berau, yang diikuti puluhan anak dengan antusias.




