Di saat banyak orang berbicara tentang Toraja, ribuan ton kopi dari Bantaeng diam-diam terus mengalir ke berbagai daerah di Indonesia. Hendri Murdani melihat kondisi itu sebagai peluang sekaligus tantangan untuk membangun identitas kopi Bantaeng
Edward AS
Kabupaten Bantaeng
Kabut tipis masih menggantung di lereng Gunung Lompobattang di dataran tinggi Tompobulu, Kabupaten Bantaeng. Jalanan beraspal mulus membelah hutan-hutan yang masih hijau.
Di balik bentang alam itu, tersimpan ribuan ton kopi yang selama puluhan tahun seolah hidup dalam bayang-bayang nama besar Toraja. Di sanalah, bagi Hendri Murdani, sebuah mimpi perlahan tumbuh.
Pria berusia 42 tahun itu bukan berasal dari keluarga petani kopi. Ia lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, dari ibu asal Palembang dan ayah berdarah Sunda. Ketika masih berusia sepuluh bulan, orang tuanya membawanya merantau ke Sulawesi Selatan. Ia tumbuh besar di Makassar, menempuh pendidikan Teknik Mesin di PNUP dan melanjutkan studi Teknik Industri di Universitas Hasanuddin.
Hendri Murdani melakukan penyeduhan kopi asal Kabupaten Bantaeng, Minggu, 7 Juli 2026, FOTO EDWARD AS/FAJARJalan hidupnya pun berliku. Pernah bekerja selama dua tahun di Korea Selatan, menjadi pengajar Bahasa Inggris selama tiga tahun, hingga menduduki posisi kepala cabang di lembaga kursus Briton. Setelah itu, ia bergabung dengan Kalla Group sebagai kepala bagian pembelian aspal selama enam tahun. Dari sana, Hendri mengenal dunia ekspor-impor.
Kariernya berlanjut sebagai manajer processing di perusahaan perdagangan bahan bakar. Namun setelah bertahun-tahun menjadi pekerja kantoran, ia mulai merasa ada sesuatu yang belum ia temukan.
“Awalnya saya sebenarnya tidak sengaja masuk di industri kopi. Ada unsur sengaja dan tidak sengaja,” kenangnya sambil tersenyum, Minggu, 7 Juni 2026.
Suatu hari, istrinya mengajukan pertanyaan sederhana yang justru mengubah arah hidup mereka.”Keahlian kita sebenarnya di mana?” Pertanyaan itu membuat Hendri merenung.
Ia memiliki kemampuan bahasa Inggris, pengalaman manajerial, serta pengetahuan tentang perdagangan internasional. Mengapa tidak kembali ke bidang yang paling ia kuasai, ekspor?
Proses pemetikan Kopi Bantaeng. FOTO DOK Hendri MurdaniBerbekal pemikiran itu, ia mendirikan CV Niaga Guna Corporindo. Mulanya, ia hanya menelusuri data permintaan pasar luar negeri.
Satu hal membuatnya tercengang. Di hampir semua negara, kopi selalu muncul sebagai komoditas yang dicari.
“Negara yang tidak punya tanaman kopi pun tetap membutuhkan kopi. Saya melihat ini luar biasa,” ujar Owner Paradaya Coffee, Hendri Murdani.
Rasa penasaran membawanya pada sebuah perjalanan yang justru dimulai dari kampung sendiri. Pada 2022, Hendri mulai melakukan riset ke kawasan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng. Daerah yang sejak muda sudah akrab baginya itu ternyata menyimpan kekayaan yang selama ini kurang diperhatikan.
Proses pemetikan Kopi Bantaeng. FOTO DOK Hendri MurdaniIa menemukan fakta mengejutkan. Bantaeng menghasilkan sekitar 1.200 ton kopi setiap tahun. Sebanyak 300 ton di antaranya merupakan kopi arabika, sementara sisanya robusta. Produksi terbesar berasal dari Desa Labbo, Bontotappalang, dan Pattaneteang. Namun anehnya, nama Bantaeng hampir tak pernah terdengar dalam percakapan mengenai kopi Sulawesi.
“Kalau kualitasnya tidak bagus, tidak mungkin kopi Bantaeng bisa masuk ke Toraja. Berarti sebenarnya kopinya bagus,” kata Hendri.
Ia pun menelusuri ke mana kopi-kopi itu pergi. Jawabannya sederhana: kopi Bantaeng selama ini dijual ke berbagai daerah dan akhirnya dipasarkan menggunakan nama lain. Sebagian menuju Toraja, sebagian lagi ke Surabaya, Medan, bahkan Makassar.
Nama Bantaeng seolah hilang di tengah perjalanan. Padahal menurut Hendri, daerah itu memiliki semua syarat untuk menghasilkan kopi berkualitas tinggi.
Ketinggian mencapai lebih dari 1.500 meter di atas permukaan laut, hutan adat yang masih terjaga, paparan matahari pagi yang ideal, serta varietas-varietas tua peninggalan zaman kolonial Belanda seperti Bourbon, Typica dan Heirloom.
“Harusnya Bantaeng juga dikenal, bukan hanya Toraja,” ujarnya.
Kesempatan datang ketika ia melihat sebuah aset pemerintah daerah yang nyaris terlupakan. Sentra IKM Pengolahan Kopi Banyorang yang dibangun pada 2019 sempat terhenti akibat pandemi Covid-19. Fasilitas itu seakan layu sebelum berkembang.
Melihat potensi besar yang terbengkalai, Hendri mengambil langkah berani. Pada 2023, ia mulai mengelola fasilitas tersebut. Tahun berikutnya, melalui PT Lasico Agro Sentosa dengan merek Paradaya Coffee, ia memproduksi kopi secara mandiri.
“Nah di tahun 2024 kami mulai memproduksi secara mandiri,” katanya.
Paradaya Coffee memanfaatkan Sentra IKM Banyorang sebagai pusat pengolahan. Kapasitas produksi sebenarnya mampu mencapai 10 hingga 20 ton. Namun Hendri memilih berjalan perlahan.
Tahun pertama, ia mengolah sekitar empat ton kopi. Sebagian besar dijual ke Jakarta. Di ibu kota, ia bertemu para Q Grader dan pelaku industri kopi nasional. Di sana pula ia belajar bahwa kualitas kopi Bantaeng ternyata mampu bersaing.
Di tengah perjalanan itu, sebuah penemuan tak terduga muncul. Suatu ketika, saat membeli kopi dari petani, Hendri melihat satu karung biji kopi dengan warna berbeda.
Abu-abu dengan bercak hitam. Penasaran, ia mendekat dan mencium aromanya. Wangi pandan.
“Begitu saya cium, ternyata dia aromanya pandan,” katanya.
Petani menjelaskan bahwa kopi itu dipungut dari kebun. Bukan dipetik manusia, melainkan berasal dari hewan liar bernama binturong. Berbeda dengan kopi luwak yang melalui sistem pencernaan, binturong hanya mengunyah kulit buah kopi yang manis, lalu meludahkan bijinya. Proses alami tersebut menghasilkan fermentasi unik melalui enzim dan mikroorganisme di mulut hewan itu.
Paradaya Coffee kemudian mengembangkan metode fermentasi lanjutan yang mereka sebut double inoculan. Hasilnya menghadirkan karakter rasa yang berbeda. Ada aroma pandan, wangi roti manis saat disangrai, hingga sensasi jagung manis dan aftertaste creamy.
“Kopi ini sebenarnya punya kekuatan cerita yang luar biasa,” ujar Hendri.
Pada 2024, mereka memproduksi sekitar 100 kilogram kopi binturong. Sebagian besar habis terjual di Jakarta, Bali, bahkan ikut terbawa hingga Korea Selatan, Singapura dan Belanda.
Meski telah merambah pasar internasional, Hendri sadar perjalanannya masih panjang. Produksi Paradaya Coffee saat ini masih terbatas. Modal menjadi tantangan terbesar. Namun baginya, misi utama bukan sekadar menjual kopi. Ia ingin mengangkat identitas Bantaeng.
“Kami ingin kopi Bantaeng punya origin yang jelas. Jangan hanya Toraja yang dikenal. Bantaeng juga bisa,” katanya.
Semangat itu semakin kuat ketika Paradaya Coffee mengikuti program BRIncubator 2025 yang digelar Rumah BUMN BRI. Di sana, Hendri mendapatkan pelatihan mengenai manajemen keuangan, digital marketing hingga pengembangan bisnis. Paradaya Coffee bahkan berhasil meraih juara dua dan berkesempatan melaju ke tingkat nasional. Baginya, pendampingan semacam itu jauh lebih berharga daripada bantuan tunai.
“Kalau pasar sudah terbentuk, bisnis akan berputar terus,” ujarnya.
Kini, setiap kali memandang hamparan kebun kopi di Tompobulu, Hendri selalu membayangkan sesuatu yang lebih besar. Ia membayangkan nama Bantaeng berdiri sejajar dengan Gayo, Kintamani, atau Kalosi.
Ia membayangkan petani-petani yang selama ini hanya menganggap kopi sebagai tanaman simpanan mulai memetik buah merah terbaik, merawat pohon-pohon tua, dan menikmati harga yang lebih layak. Karena bagi Hendri, kopi bukan sekadar minuman. Di dalam setiap cangkir, tersimpan cerita tentang tanah, hutan, manusia, dan identitas sebuah daerah yang selama ini belum sepenuhnya menemukan panggungnya.
“Dan dari lereng Lompobattang, saya sedang menuliskan nama itu perlahan,” ulasnya.
Rumah BUMN Jadi Pilar Strategi Pemberdayaan UMKM
Regional Mikro Banking Head BRI Region 15 Makassar, Iwan Suprianto, menegaskan bahwa Rumah BUMN hadir sebagai bagian dari pilar strategi pemberdayaan. Upaya tersebut dilakukan untuk menjangkau, mengkonversi, dan menaik kelaskan segmen unbankable.
“Pemberdayaan ini penting karena kami tidak hanya memberikan modal berupa kredit (KUR), tetapi juga memberikan pendampingan agar usaha mereka bisa tumbuh,” jelasnya.
Menurutnya, pendampingan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada akses pembiayaan. Langkah tersebut juga diarahkan untuk mendorong terbentuknya ekosistem UMKM yang saling mendukung.
Keberadaan ekosistem UMKM dinilai mampu memberikan manfaat bagi para pelaku usaha.
Selain itu, ekosistem tersebut juga menciptakan dampak berkelanjutan bagi masyarakat di sekitarnya.
Lebih lanjut, BRI menargetkan terbentuknya ekosistem UMKM yang kuat. Hal ini dilakukan untuk mendorong kemandirian ekonomi di tingkat desa maupun kelompok usaha.
“Target kami adalah bagaimana ekosistem UMKM ini bisa terbentuk dengan kuat, sehingga kemandirian ekonomi di tingkat desa maupun kelompok usaha bisa tercapai dengan baik,” tutup Iwan. (*)





