Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf), Irene Umar, mengungkapkan terdapat tiga ganjalan utama yang membuat kreator lokal kesulitan menjadikan karya mereka bernilai ekonomi.
Menurut Irene, faktor pertama adalah kurangnya kolaborasi antara kreator dan pemasar. Kedua, sikap kaku terhadap ide sendiri tanpa mau berimprovisasi. Ketiga, minimnya keberanian memperluas pasar ke kancah global melalui pemanfaatan teknologi digital.
Hal tersebut disampaikan Wamen Ekraf saat menjadi pembicara dalam sesi diskusi KindFolc Talks Session di Sarinah, Jakarta, Jumat (5/6/2026).
"Tantangan terbesarnya adalah mengubah pola pikir kreator agar melihat karya mereka bukan sekadar ciptaan biasa, melainkan aset Kekayaan Intelektual (KI) yang bernilai ekonomi tinggi,"ungkapnya, dikutip dari siaean pers Kemenekraf, Minggu (7/6).
Diskusi yang mengusung tema From Creative Practice to Creative Economy ini berfokus pada strategi mengonversi ide personal menjadi peluang bisnis nyata yang adaptif dengan pasar. Ia menilai kolaborasi ini krusial sebagai ruang inklusif yang mempertemukan para pelaku kreatif untuk bersinergi secara berkelanjutan.
"Pola pikir utama yang harus dimiliki kreator adalah mulai saja dulu (just do it), tanpa perlu bingung mendikte tren. Siapa tahu, justru Anda yang akan menjadi penentu tren (trendsetter). Setelah berjalan, barulah kita kelola kreativitas ini sebagai aset KI jangka panjang dan memperkuat manajemen bisnis agar usaha dapat berkelanjutan," tambah Wamen Ekraf.
Irene menegaskan komitmen pemerintah untuk mendampingi para kreator lokal dalam mengembangkan karya mereka.
Baca Juga: Dipolisikan Mama Yasinta, Dandhy Laksono Balik Serang dan Singgung Sosok di Balik Polemik Film Pesta Babi
Kehadiran Kementerian Ekraf diproyeksikan sebagai enabler dan connector strategis yang siap membawa industri kreatif nasional naik kelas ke panggung global.
KindFolc Vol. 02 sendiri merupakan festival pasar kreatif komunitas yang mengusung jargon A Home for Art Folk. Pada edisi kali ini, festival tersebut merangkul 34 stan (tenant) kreatif lokal untuk memamerkan karya terbaik mereka.





