Ambisi sunyi An Se-young untuk menjadi tak terkalahkan

antaranews.com
5 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - An Se-young tidak banyak berubah ketika kembali berdiri di podium tertinggi BWF World Tour Super 1000 Polytron Indonesia Open 2026.

Wajahnya tetap tenang. Senyumnya tipis. Tidak ada selebrasi berlebihan setelah menundukkan pemain asal Jepang Akane Yamaguchi pada final di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Minggu.

Namun dari kalimat yang ia ucapkan seusai pertandingan, ada sesuatu yang terasa lebih besar daripada sekadar gelar juara.

“Dibandingkan memiliki tujuan seperti apa pun, saya lebih ingin menjadi atlet yang tidak pernah dikalahkan. Saya tidak ingin kalah, hanya ingin menang,” kata An.

Bagi banyak pemain, menjadi tunggal putri nomor satu dunia mungkin sudah cukup. Apalagi An telah memiliki hampir semua pencapaian yang bisa dicari seorang pebulu tangkis. Ia merupakan juara dunia 2023, peraih emas Olimpiade Paris 2024, juara Asian Games Hangzhou, serta membawa Korea Selatan menjuarai Piala Uber pada 2022 dan 2026.

Namun bagi perempuan berusia 24 tahun itu, perjalanan tampaknya belum selesai.

Kemenangan atas Akane dengan skor 23-21, 21-12 memperlihatkan kembali alasan mengapa sektor tunggal putri dunia dalam beberapa tahun terakhir seperti berputar di sekitar namanya.

An tidak selalu memulai pertandingan dengan mulus, tetapi hampir selalu tahu cara menemukan jalan keluar.

Pada gim pertama, Akane sempat memimpin 5-2. Pemain Jepang itu lebih dulu menekan dan memaksa An bergerak ke berbagai sudut lapangan. Namun An tidak terburu-buru. Ia membaca arah permainan lawan, perlahan mengambil alih kendali, lalu berbalik unggul 11-9 saat interval.

Akane masih sempat memaksa kedudukan imbang 21-21 setelah menggagalkan dua peluang game point. Tetapi pada momen-momen krusial itulah An kembali menunjukkan ketenangan yang selama ini menjadi salah satu kekuatannya.

Dua poin terakhir menjadi miliknya.

Setelah itu pertandingan berubah arah. Gim kedua berjalan dalam kendali An. Ia mengatur tempo reli, memaksa Akane terus bergerak, dan menyelesaikan pertandingan hanya dalam waktu 39 menit.

“Menurut saya permainan hari ini sangat baik. Kondisi saya juga sangat baik, lalu permainan berjalan sesuai tempo yang saya inginkan,” ujar An.

Yang menarik, penampilan An di final sangat berbeda dibanding sehari sebelumnya saat ia harus berjuang keras mengalahkan Chen Yu Fei pada semifinal dengan skor 21-17, 19-21, 23-21. Seusai laga itu, An mengaku harus melupakan permainan buruknya dan memulai lagi dari nol.

“Saya harus melupakan permainan kemarin. Hari ini adalah hari yang baru dan saya harus fokus pada pertandingan hari ini. Saya hanya fokus satu poin demi satu poin dan tidak terlalu memperhatikan skor. Karena itu saya bisa mendapatkan hasil yang baik,” katanya.

Rival terberat

Akane, yang menjadi salah satu rival terberat An dalam beberapa tahun terakhir, juga mengakui perkembangan lawannya.

“Saya terkesan kepadanya karena setiap kali saya bermain melawannya, dia selalu menjadi lebih baik,” kata Akane.

“Jika dibandingkan dengan pertemuan kami sebelumnya dan sekarang, dia menjadi lebih baik. Secara mental, teknis, semuanya lebih baik. Karena itu saya tidak bisa berbuat banyak.”

Pengakuan itu datang dari pemain yang mengetahui betul bagaimana cara mengalahkan An. Sepekan sebelumnya, Akane nyaris merebut gelar Super 750 Singapore Open 2026 sebelum akhirnya kalah pada pertandingan yang berlangsung ketat dengan skor 11-21, 21-17, 19-21.

Sepanjang 2025, An Se-young tampil nyaris sempurna. Ia menembus 12 final dan memenangi 11 di antaranya, mulai dari Super 1000 Malaysia Open, Super 750 India Open, Super 1000 All England, Super 1000 Indonesia Open, Super 750 Japan Open, Super 750 China Masters, Super 750 Denmark Open, Super 750 French Open, Super 500 Australian Open, hingga BWF World Tour Finals.

Satu-satunya kekalahan An di final terjadi di Korea Open, ketika ia takluk dari Akane Yamaguchi 18-21, 13-21. Selebihnya, An menjadikan pemain-pemain elite seperti Wang Zhiyi, Chen Yufei, Han Yue, Pornpawee Chochuwong, hingga Putri Kusuma Wardani sebagai bagian dari rangkaian dominasinya.

Pada 2026, performa itu belum menunjukkan tanda-tanda menurun. Dari lima final yang telah dijalani, An merebut empat gelar, yakni Super 1000 Malaysia Open, Super 750 India Open, Super 750 Singapore Open, dan terakhir Super 1000 Indonesia Open. Satu-satunya kekalahan An terjadi di Super 1000 All England. Kala itu Wang Zhiyi akhirnya bisa mengalahkan An setelah 10 final dengan skor 21-15, 21-19.

Catatan tersebut menunjukkan bahwa An bukan sekadar mempertahankan status sebagai pemain nomor satu dunia. Pemain kelahiran 5 Februari 2002 itu sedang membangun standar baru di sektor tunggal putri.

Hampir setiap turnamen besar berakhir dengan pemandangan yang sama: An berdiri di podium tertinggi.

Namun menariknya, An jarang berbicara soal gelar.

“Dibandingkan memiliki tujuan tertentu, saya lebih ingin mempertahankan rutinitas dan kesempurnaan yang saya inginkan, termasuk permainan yang lebih baik,” katanya.

Di situlah mungkin letak kekuatan terbesar An Se-young.

Ia tidak hanya menang karena memiliki pertahanan yang rapat atau kemampuan menyerang yang lengkap. Ia menang karena mampu menjaga disiplin dalam waktu yang sangat panjang. Ia tetap sabar ketika reli berlangsung panjang, tetap tenang ketika tertinggal, dan tetap fokus ketika lawan mulai mendekat.

An juga menyadari bahwa mempertahankan dominasi jauh lebih sulit dibanding meraihnya.

“Seluruh pemain bulu tangkis zaman sekarang sangat bagus. Untuk memenangkan pertandingan juga tidak mudah. Setiap pemain selalu meningkatkan levelnya, ada pemain baru, dan semua itu harus dipikirkan,” ujarnya.

Karena itu, keinginannya untuk menjadi pemain yang tidak terkalahkan mungkin bukan tentang benar-benar tidak pernah kalah.

Dalam olahraga seperti bulu tangkis, tidak ada atlet yang kebal dari kekalahan. Jadwal yang padat, kondisi fisik, cedera, hingga detail kecil dalam pertandingan bisa mengubah hasil dalam hitungan menit.

Namun ucapan An tampaknya lebih mencerminkan standar yang ia pasang untuk dirinya sendiri. An ingin terus datang ke lapangan dengan keyakinan bahwa kemenangan selalu mungkin diraih, apa pun situasinya.

Dengan tiga gelar Indonesia Open, An kini menyamai koleksi Tai Tzu Ying (China) dan Saina Nehwal (India). Ia hanya berada di belakang Li Lingwei (China) yang memiliki empat gelar dan legenda Indonesia Susy Susanti yang mengoleksi enam gelar.

Namun angka-angka itu mungkin hanya bagian luar dari kisah An Se-young.

Yang lebih menarik adalah bagaimana ia membawa ambisi besar dalam sosok yang begitu tenang. Ia tidak banyak bicara, tidak banyak menunjukkan emosi, tetapi terus menang.

Di Istora, An kembali mengangkat trofi. Tetapi lebih dari itu, ia kembali menunjukkan bahwa menjadi nomor satu dunia bukanlah garis akhir.

Bagi An Se-young, puncak justru menjadi tempat untuk terus mencari cara agar bisa menjadi lebih baik dari hari sebelumnya.

Baca juga: An Se-young pertahankan gelar juara Indonesia Open


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Airlangga Pede Implementasi IEU-CEPA Bisa Dimulai Awal 2027
• 11 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Prabowo Dinilai Mampu Jaga Keamanan RI Hadapi Dinamika Geopolitik Global
• 8 jam lalurctiplus.com
thumb
Manfaat lansia memasak hingga Audi rilis Q5 Sportback
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Pembunuh Nelayan di Lampung Ditangkap, Polisi Sita Senjata Tajam dan Alat Isap Sabu | BORGOL
• 8 jam lalukompas.tv
thumb
Libur Sekolah 2026, ASDP Gratiskan Tarif Jasa Pelabuhan di Sejumlah Lintasan
• 6 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.