Pemerintah Republik Indonesia terus mengupayakan pemulangan (repatriasi) Prasasti Pucangan yang sekarang berada di museum Kota Kolkata, India.
Prasasti Pucangan memuat dua kisah berbeda dari Airlangga Raja Kerajaan Kahuripan dalam dua bahasa, yaitu Jawa Kuno dan Sansakerta, yang ditulis menggunakan Aksara Kawi.
Dalam Indonesia-India Joint Commission Meeting ke-8 yang berlangsung hari ini, Minggu (7/6/2026), di New Delhi, India, upaya repatriasi Prasasti Pucangan menjadi salah satu isu sektor budaya yang dibahas.
Sugiono Menteri Luar Negeri (Menlu RI) mengatakan, Indonesia dan India sama-sama bersepakat untuk bisa mengambil langkah strategis terkait proses repatriasi.
Tapi, Menlu RI bilang, masih ada hal-hal teknis yang perlu dikoordinasikan antara Pemerintah India dengan Pemerintah Daerah Kolkata.
“Kita sama-sama ada dalam satu pemikiran bahwa sudah waktunya cagar-cagar budaya ini kembali ke negaranya masing-masing, karena mereka juga melakukan beberapa upaya yang sama di negara-negara lain. Dengan semangat itu, saya menilai ada keinginan juga dari pihak India. Hanya masalah teknis di pemerintah daerah sebenarnya yang ya kurang lebih samalah masalah yang dihadapi, pihak mana ataupun sektor mana yang harus berperan segala macam. Tapi, pada prinsipnya mereka tidak ada masalah,” ujarnya di Hotel Oberoi New Delhi.
Sekadar informasi, Prasasti Pucangan berupa blok batu dengan puncak runcing dan alas berbentuk bunga teratai yang menjadi simbol khas Hindu-Buddha.
Peninggalan sejarah dari abad ke-11 itu ditemukan pada masa Kolonial Inggris di Nusantara, tepatnya tahun 1812 sewaktu Thomas Stamford Raffles menjadi Letnan Gubernur di Batavia.
Untuk mendapat perhatian dari Lord Minto Gubernur Jenderal Inggris di India, Prasasti Pucangan dibawa Raffles ke India sebagai hadiah.
Aslinya, prasasti tersebut, ada di daerah kaki Gunung Penanggungan, Mojokerto, Jawa Timur.(rid)




