Jakarta, tvOnenews.com - Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) menilai harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di tingkat petani hingga kini belum sepenuhnya pulih pasca pengumuman kebijakan ekspor satu pintu yang memicu gejolak pasar beberapa waktu lalu.
Ketua Umum SPKS, Sabarudin mengatakan kebijakan tersebut dinilai belum mampu menutup kerugian yang sebelumnya dialami petani akibat anjloknya harga sawit meski adanya peningkatan harag disejumlah daerah.
Menurutnya, harga TBS saat ini memang telah naik sekitar Rp500 hingga Rp1.000 per kilogram di sejumlah wilayah.
- Istimewa
Namun, angka tersebut masih belum mampu mengembalikan posisi harga sebelum terjadi penurunan yang mencapai Rp1.000 hingga Rp1.500 per kilogram.
"Harga TBS mulai mengalami perbaikan, tetapi belum pulih sepenuhnya. Petani masih menanggung kerugian akibat penurunan harga yang terjadi setelah pasar merespons kebijakan ekspor satu pintu," kata Sabarudin dalam keterangan yang dilansir Senin (8/6/2026).
SPKS memperkirakan kerugian yang dialami petani sawit akibat penurunan harga tersebut mencapai sekitar Rp200 miliar per hari.
Kerugian itu terus bertambah selama harga TBS masih berada di bawah tingkat yang semestinya diterima petani.
"Penurunan harga TBS yang sangat drastis tidak boleh dianggap sepele oleh pemerintah karena langsung memukul pendapatan petani dan mengancam keberlanjutan kebun sawit rakyat," ujar Sabarudin.
SPKS menilai gejolak harga yang terjadi juga menunjukkan masih lemahnya tata kelola kemitraan sawit di Indonesia.
Saat ini sekitar 80 persen petani swadaya masih menjual TBS melalui perantara dan belum memiliki akses langsung ke pabrik kelapa sawit.
Karena itu, SPKS mendorong pemerintah untuk mempercepat program kemitraan antara petani dan pabrik agar petani memperoleh harga yang lebih adil serta memiliki perlindungan ketika terjadi gejolak pasar.(raa)




